Ayu

"Menulis itu indah, saat dapat menumpahkan setiap katanya berdasarkan alunan hati, bagiku....,,"

Kamis, 04 Agustus 2016

Dan, Jika....



Dan, jika suatu hari saya menikah, saya ingin menikah dengan cara yang sederhana. Tidak ada pengeras suara yang biasa terdengar sampai ke ujung desa. Sebuah pernikahan yang hanya dihadiri oleh kerabat dan sahabat dekat. Tidak ada satu orang pun yang tidak saling mengenal, semuanya sudah mengenal satu sama lain. Saya tidak perlu berdiri lama bersama sang suami di atas pelaminan dengan make up tebal, kami duduk dan makan bersama di satu alas tikar bersama mereka yang ikut berbahagia atas pernikahan kami.
Saya ingin menikah dengan dia yang tidak menjanjikan apapun kepada saya, tetapi selalu berusaha sekuat tenaganya memberikan yang terbaik untuk saya. Saya ingin menikah dengan dia yang tidak akan pernah mampu melepaskan saya, semenyebalkan dan semanja apapun saya saat akan dan sedang datang bulan. Saya ingin menikah dengan dia yang tidak akan pernah bosan mendengar banyak mimpi dan khayalan konyol saya, dan tertawa bersama setelahnya. Saya ingin menikah dengan dia yang tidak akan lelah menggenggam untuk meyakinkan saya saat keadaan tengah sangat sulit. Saya ingin menikah dengannya yang tanpanya saya tidak bisa menjadi baik-baik saja.
Saya sudah melewatkan satu dalam hidup saya. Semoga Tuhan tidak marah dan masih bersedia memberikan satu lagi untuk saya. Kali ini saya berjanji akan terus menjaganya.

Minggu, 24 Januari 2016

Yang Semoga Semesta Aminkan


Atas nama harapan yang digantungkan demi masa depan. Untuk usaha mengurai benai kusut yang akhirnya dilakukan, setelah sebuah pengakuan. Atas nama keinginan menghela langkah yang tak lagi tertahan. Demi pekik bersulang karena kebahagiaan.

Untuk kebaikan, apapun nanti hasilnya. Apapun nanti jawabannya. Untuk air mata yang makin jarang berkunjung, namun sebenarnya tetap membludak di bendungan — mempersiapkan air bah besar. Jika tidak dihentikan.

Atas nama ketidakberdayaan. Atas nama keinginan membahagiakan orang-orang tersayang. Untuk kegagalan, untuk pencarian keinginan berjuang dan bangkit yang hilang entah ke mana. Saya rindu kembali menjadi orang yang sama.

Saya pernah mengambil pilihan keliru dalam hidup, saya pernah membiarkan orang yang keliru masuk dalam hidup. Barangkali orang yang sama ini hanya terlalu tinggi hati mengakui tetek-bengek perasaan melibasnya. Sampai ke pecahan terkecil.

Namun hal-hal baik pasti terjadi. Itu yang sampai hari ini masih saya yakini. Kamu, jadi salah satu bukti.

Saya membayangkan menggenggam tanganmu saat hal-hal baik terjadi. Saya membayangkan menuliskan pesan singkat untukmu saat hal-hal baik mulai mendatangi. Saya membayangkan kerut mata karena senyum terlalu lebar yang tercipta di wajahmu saat mendengar berita baik itu dibagi. Saya membayangkan rengkuh lenganmu erat memenuhi pinggang hingga satuan centi.

Tentu kita tidak bisa menebak masa depan. Tapi saya harap hal-hal baik, dirimu, dan ke-kita-an adalah sebuah kesatuan.

Yang semesta aminkan.

Senin, 11 Januari 2016

KELU (HAN) ?

"Ada hari dimana saya mencintaimu sampai tak mengenal diri saya sendiri. Hari yang melelahkan, bahkan tanpa perlu saya berlari jauh. Hari dimana saya menyebutnya tersesat. Lelah, tapi bahagia. Aneh bukan?"

I miss you. I also miss the feeling of falling in love with you. Saya tidak lupa apapun tentang kita, tapi yang paling saya ingat adalah saya "pernah" sangat bahagia, sampai-sampai saya ingin menyimpannya dalam kulkas, dan bisa kembali saya nikmati saat sedang seperti ini. Mungkin kamu menyebutnya sebagai sebuah keluhan, tapi saya menyebutnya sebagai suatu kebutuhan. Kebutuhan akan sepasang telinga yang kini tak lagi bisa saling mendengarkan. Sudah terlalu banyak hal yang kuta lewati sendiri-sendiri. Saya dengan pekerjaan dan teman-teman saya, kamupun seperti itu. Tak lagi ada kita yang dulu. Kita yang bisa selalu bebas membicarakan apapun yang kita sukai. Tak lagi ada kesempatan kita untuk seperti itu. Atau memang kita sendiri yang tidak memberikan kesempatan untuk itu. Sekali lagi sayang, kamu boleh menyebut ini sebagai keluhan, saya menyebutnya sebagai kebutuhan.

Selasa, 22 Desember 2015

Percakapan Singkat di Hari Ibu

Percakapan singkat dengan mama di pagi hari, di hari ibu kemarin.

Saya  : Selamat hari Ibuuuuuuu. #pelukibu
Ibu    : Mama nggak butuh diucapin kayak gitu, mama cuma ingin dikasih mantu dan cucu.
Saya  : Hmmm.., kalau cucu dulu..,, baru habis itu mantu gimana ma? #cengarcengir
Ibu    : %*T*I)#&*(^$@#^T*(^#@^T*)Y%$$##^@#%T&**(&^%%*&%#&*()^$#@
Saya  :Hahahahahaahahahahaaaaaaa....,, #ngakakgulingguling
          (1 menit kemudian)
Saya  : .................................#diamseribubahasa

Selasa, 24 November 2015

Tempatkan Aku di Situ (?)

Tempatkan aku di awal harimu,
maka di situlah aku akan berada.

Tempatkan aku di tengah harimu,
maka di situlah aku akan berada.

Tempatkan aku di akhir harimu,
maka di situlah aku akan berada.

Tempatkan aku di saat kau ingat saja,
maka jangan salahkan jika aku akhirnya melupakanmu.

Tempatkan aku di saat kau kesepian saja,
maka jangan salahkan jika aku akhirnya melupakanmu,

Tempatkan aku di saat kau perlu teman berbagi saja,
maka jangan salahkan jika aku akhirnya melupakanmu.

Tempatkan aku di saat kau hanya kesepian dan kedinginan saja.
maka jangan salahkan jika aku akhirnya melupakanmu.

Tempatkan aku di saat kau bukan hanya “saja” melainkan  “selalu”,
maka aku akan menjadi selalumu di setiap selalu dalam keadaan selalu sampai selalu.

Minggu, 22 November 2015

Tertinggal

Tak ingin menyudahi kamu,
tak ingin membantumu melukai diriku.
Sementara luka yang kemarin pun
belum lagi disembuhkan
meski berkali ku ludahi.