Ayu

"Menulis itu indah, saat dapat menumpahkan setiap katanya berdasarkan alunan hati, bagiku....,,"

Rabu, 13 Mei 2015

Mama., Sabar Ya.., Insya Allah Aku Akan Segera Membawa Pria Pilihanku Untuk Meminta Restumu


                Ma.., aku tau engkau sudah mulai khawatir denganku. Di usiaku yang kini memasuki 26 tahun, di saat teman-teman sebayaku sudah menggendong bayinya, aku masih betah melajang. Aku tahu engkau sudah tak sabar menggelar hajatan pernikahanku, akupun sebenarnya sudah ingin sekali membawa seorang pria yang kelak menjadi imamku ke hadapan Mama dan Papa. Tapi tidak sekarang Ma. Sabar sebentar ya Ma., secepatnya aku pasti akan membawa seorang pria pilihan hatiku untuk meminta restu Mama dan Papa.

Doakan aku ya Ma., agar semua yang aku jalani saat ini, mendekatkan aku dengan sang tambatan hati yang kelak membimbingku hingga ke surga nanti.

                Mama tak perlu khawatir seperti tetangga sebelah yang mengatakan bahwa aku akan menjadi perawan tua. In fact, aku masih tergolong muda kan Ma?  Masih banyak hal yang ingin aku rasakan sebelum nantinya aku menjadi seorang istri yang Insya Allah baik untuk suamiku. Aku bukan sedang betah melajang Ma, akupun sebenarnya ingin sekali menjadi seorang istri bagi pria yang menjadi pilihan hatiku, tapi sekali lagi Ma, mungkin sekarang belum saatnya.

                Mama tak perlu resah saat melihatku melakukan apapun seorang diri. Percayalah, gadis kecilmu ini sudah tumbuh menjadi wanita yang mandiri.


                 Gadis kecil yang dulu Mama nina bobo kan, sekarang sudah menjadi seorang wanita mandiri. Dan aku yakin Mama tahu bahwa aku belajar mandiri dari siapa., dari Mama. Mama selalu mengajarkan aku untuk tidak bergantung dengan orang lain. Dan, seperti inilah aku yang sekarang. Bukan aku tidak butuh orang lain Ma, tapi aku berusaha untuk tidak merepotkan orang lain. Meskipun seperti itu, aku tidak lupa dengan kodratku sebagai seorang wanita, aku masih tetap mendambakan seorang pria bertakwa dan bijaksana untuk menjadi pelindungku.

                Aku tak pernah berhenti meminta kepada Tuhan untuk menyatukan aku dan calon suamiku dalam sebuah mahligai rumah tangga yang sakinah, mawadah, dan warohmah. Tapi mungkin Tuhan masih menunggu waktu yang tepat untuk itu. Aku tidak akan memaksa Tuhan, Ma. Kita semua yakin bahwa Tuhan tidak akan pernah salah.

                Percayalah Ma., suatu saat aku akan membawa pria pilihan hatiku yang akan menggantikan tugasmu untuk menjagaku di hadapanmu, dan meminta restu Mama dan Papa.

                Aku  sudah berusaha Ma.., maka sekarang biarkan tangan Tuhan yang bekerja.



               




Tidak ada komentar:

Posting Komentar