Ayu

"Menulis itu indah, saat dapat menumpahkan setiap katanya berdasarkan alunan hati, bagiku....,,"

Senin, 06 April 2015

Teruntuk Calon Ibu Mertuaku




Bismillah..,

Teruntuk Ibunda calon suamiku.., terima kasih telah melahirkan seorang laki-laki hebat seperti putramu.

Perkenalkan, aku, perempuan biasa yang menyayangi anak sholehmu.

Orang-orang bilang aku berasal dari sebuah keluarga yang berantakan. Orang tuaku bercerai pada saat aku masih bayi. Ibuku lebih memilih mundur dan memaksa ayahku untuk kembali kepada istri pertamanya yang waktu itu sempat akan bunuh diri dengan meminum racun tikus. Para saudara tiriku seperti menutup komunikasi denganku. Berkali-kali aku mencoba menghubungi mereka, tapi hanya sekali mendapat jawaban. Aku tidak meminta banyak kepada mereka, aku hanya ingin menjaga tali persaudaraan kami. Itu saja.

Orang-orang bilang aku akan tumbuh menjadi sesosok perempuan yang kurang kasih sayang dan perhatian. Aku hanya dibesarkan oleh nenek dan ibuku, walaupun ibuku terpaksa harus jarang berada di rumah untuk bekerja karena menjadi tulang punggung keluarga. Aku dibesarkan tanpa peran seorang ayah kandung, sama sekali. Aku dibesarkan di sebuah lingkungan perdesaan dan keluarga kami tergolong cukup miskin, tak jarang almh nenekku hutang kesana kesini untuk sekedar membeli beras.

Teman-temanku bilang, aku hanyalah anak haram yang tak pantas mendapat teman. Anak haram membawa kesialan, katanya. Sempat aku menjadi seorang anak yang sangat pemarah. Pun sempat aku menjadi seorang anak yang sangat tertutup.

Itu adalah sebagian kecil dari masa laluku. Sekarang, aku dapat pastikan apa yang dulu mereka sampaikan tak sesuai dengan apa yang aku rasakan. Perceraian tak selamanya berarti berantakan. Pada saat itu, aku yakin Tuhan sedang memberikan jalan yang terbaik bagi kedua orang tuaku. Hanya dibesarkan oleh seorang nenek dan ibu, tak berarti aku kurang kasih sayang dan perhatian. Apa lagi yang aku butuhkan pada saat itu selain hidup bersama dua perempuan hebat di dunia ini? Dan, anak haram? Mana mungkin Tuhan menciptakan makhluk hidup dalam kondisi haram? Tuhan Maha Baik.

Walaupun sampai detik ini aku masih belum dapat berkomunikasi dengan saudara-saudara aku di Jakarta, aku tidak pernah berpikir bahwa hubungan persaudaraan kami telah atau akan berakhir. Aku percaya, saat ini mungkin Tuhan sedang memberi kesempatan kepada kami untuk membahagiakan diri kami masing-masing terlebih dahulu sebelum akhirnya nanti Tuhan akan menempatkan kami di sebuah tempat dimana kami akan berbagi kebahagiaan bersama. Takdir Tuhan selalu manis bukan? J

Ibuku menikah lagi pada saat aku berada di kelas 3 SD. Aku mempunyai 3 adik di rumah. Endi, saat ini dia masih kuliah. Tio, dia kelas 7 di sebuah SLB, dia berkebutuhan khusus. Syifa, 3 tahun lalu keluarga kami mengadopsinya dan aku sangat menyayanginya.

 Di saat teman-teman seumuran aku menenteng sebuah tas ala-ala ibu pejabat di salah satu tangannya, aku lebih suka menggendong sebuah tas gemblok di punggungku. Di saat teman-teman seumuran aku memakai high heels, aku terpaksa memakai sebuah sandal atau sepatu dengan tinggi 3 cm karena aku tak mau terlihat sangat pendek, karena aku memang cukup pendek. Dan dalam hati, aku hanya ingin memakai sepasang sandal swallow. Di saat teman-teman seumuran aku memakai sebuah baju dengan model yang manis, aku lebih memilih memakai celana jeans dengan atasan sweater atau kaos biasa lengan panjang. Akupun bukan perempuan yang suka memoles wajah. Di saat teman-teman seumuran aku memakai berbagai macam alat make up agar wajahnya terlihat lebih cantik, kulitnya terlihat lebih putih dan halus, pipinya terlihat lebih merona, bulu matanya terlihat lebih lentik, garis matanya terlihat lebih tegas, dan bibirnya terlihat lebih seksi dengan beragam warna lipstick yang menurut aku mencolok, aku lebih nyaman hanya menggunakan sebuah krim anti alergi karena wajah aku sering gatal-gatal kalau terkena banyak debu dan terkena sinar matahari, kemudian bedak tabur bayi yang sengaja aku taruh di sebuah tempat bedak agar gampang ketika memakainya, dan terkadang aku memakai lip gloss, itupun sangat jarang aku lakukan.

Dan, itu adalah sebagian dari aku yang sekarang.

Maaf jika aku terlalu lancang dan memalukan, tapi seperti inilah aku yang mencintai putra sholehmu. Sunnguh, ini  bukan kuasaku. Aku hanya menjalankan skenario yang telah Tuhan siapkan.

Putramu adalah seorang pria yang mampu membuatku percaya sesuatu hal yang sebelumnya aku anggap tidak mungkin.

Jangan takut, aku hadir bukan untuk merenggut putramu dari dekapan kasihmu. Aku tidak bisa menjadi wanita terbaik untuk anakmu, karena kau tetap menjadi wanita terbaik di hatinya. Aku ingin mnejadi anakmu, agar tak pernah sekalipun kau merasa kehilangan putramu karena kehadiranku. Aku ingin menjadi sahabatmu, agar kita bisa mencurahkan rasa. Aku ingin menjadi rekanmu, agar kita bisa sama-sama mencintai laki-laki yang sama, yaitu putramu.

Semoga Allah merahmatimu selalu. Aamiin.



Tidak ada komentar:

Posting Komentar