Salam..,
Sebelumnya
saya minta maaf kalau apa yang akan saya sampaikan ini kurang berkenan di hati
anda, tapi sepertinya saya sudah mulai lelah dengan apa yang terjadi
dengan hubungan pertemanan kita berdua akhir-akhir ini. Berbulan-bulan
anda mendiamkan saya. Saya memang kecil, tapi saya bukan anak kecil yang
bisa ditenangkan dengan kalimat “gak ada apa-apa kok, mungkin cuma perasaan
kamu aja”. Itu adalah sepenggal sms balasan dari anda pada saat dulu
saya bertanya dan minta maaf apabila saya ada salah sama anda terkait
dengan perubahan sikap anda ke saya.
Selama
ini saya hanya bisa menduga-duga ada apa dengan anda? Bagian saya yang
mana yang salah yang menyebabkan anda berlaku seperti itu terhadap saya. Selama
itu saya tak pernah berhasil menemukan jawaban pasti dari hal itu.
Dan,
selama anda mendiamkan saya, jujur saya sangat rindu dengan kebersamaan
kita sebelumnya, jadi terkadang saya kepo dengan timeline di FB anda, dan
beberapa kali saya menemukan status dan beberapa kalimat yang anda
sampaikan di FB yang membuat saya cukup sedih. Kalau nanda ingat, saya
beberapa kali memberikan like kepada beberapa status dan komentar anda
yang entah mengapa saya yakin sekali kata-kata atau lebih terkesan sindiran itu
ditunjukan kepada saya, walaupun pada saat itu saya belum tau pasti alasan
anda menjauhi saya.
Anda
juga perlu tau, yang namanya didiamkan oleh orang yang sudah dianggap sebagai
sahabat itu juga cukup menyedihkan, apalagi tanpa alasan yang jelas. Saya masih
ingat dengan jelas pandangan mata anda yang berbeda terhadap saya
dibandingkan dengan cara anda memandang Bu Septi, Bu Ella, dan Ibunya saat
saya kondangan ke rumah anda.
Saya pun masih ingat dengan jelas saat anda menyampaikan kepada salah seorang teman kita bahwa saya bisa dekat dengan orang karena saya punya uang dan mengatakan bahwa saya munafik. Saya
masih ingat dengan jelas saat beberapa kali anda ngobrol di ruang guru dan
di rumah Tante Citra bersama rekan guru yang lainnya, kemudian saya datang,
anda langsung pergi. Saya masih ingat dengan jelas saat kita bersalaman di
beberapa pagi dan anda seakan tak mau melihat wajah saya. Saya masih ingat
dengan jelas saat anda berfoto bersama dengan para guru wanita di rumah
Rizal sepulang dari kondangan Bu Umi dan saya sama sekali tak di ajak, dan
setelah itu anda upload ke Facebook dan ada satu komentar yang anda
buat yang membuat saya terpaksa menangis di sekolah yang kurang lebih isinya
adalah “untung yang itu tidak ikut foto, bikin eneg”, atau seperti apa lah
kalimatnya, tapi seperti itu yang saya tangkap. Dan entah mengapa, saya yakin
itu ditunjukan kepada saya. Maaf kalau dugaan saya salah. Dan yang terbaru adalah anda membuat sebuah acara bersama beberapa rekan kerja untuk berjalan-jalan ke Wonosobo dan anda memberikan warning kepada beberapa rekan yang ikut untuk tidak mengajak saya. Bukan masalah ikut atau tidaknya saya, tapi kenapa saya harus menjadi sebuah pengecualian bagi anda?
Anda
beruntung dikelilingi oleh para sahabat yang baik, setia, dan dapat dipercaya.
Anda beruntung berada di tengah-tengah mereka, orang-orang yang
benar-benar memahami posisi njenengan. Sebelumnya, beberapa kali saya mencoba
mencari tau alasan anda mendiamkan saya melalu mereka, tapi saya tak
pernah mendapat jawaban itu. Mungkin mereka memang tidak pernah tau.
Hingga
suatu hari ada sebuah pesan masuk ke hp saya yang sebenarnya hanya bertujuan
untuk sekedar sharing dengan saya, tapi dari situ saya mulai meraba-raba apa ini ada
hubungannya dengan anda mendiamkan saya. Tapi pada saat itu saya belum
berani mengambil kesimpulan. Entah kebetulan atau memang sudah takdir, beberapa
hari kemudian ada teman lain yang meminta pin bbm saya yang baru dan bercerita
tentang status anda saat ini yang katanya anda sering membuat PM yang
isinya “gumawo oppa” atau apalah itu, dia berpikir anda masih dekat dengan
saya, yang pada saat itu saya belum berteman di bbm dengan anda. Pada saat
itu saya jawab tidak tau, karena memang saya tidak tau. Beberapa hari
berikutnya saya mendapatkan cerita yang bersumber dari salah satu guru SMK
Swasta di Banyumas yang mengatakan tentang laki-laki itu yang berpacaran dengan
seorang wanita yang ciri-cirinya sebagian besar mirip dengan anda yang dia ketahui dari Line. Entahlah, disitu saya yakin yang dimaksud salah satu guru SMK Swasta di Banyumas itu adalah anda. Saya mohon maaf kalau dugaan saya itu salah. Kemudian, tak lama setelah saya mendengar cerita-cerita tersebut, ada salah satu rekan kita yang menyampaikan apa sebenarnya alasan anda menjauhi dan mendiamkan saya, dan teryata tak jauh dari dugaan saya.
Selama
ini saya hanya bisa menduga-duga dan memendamnya sendiri, tapi tidak untuk
sekarang. Sesuatu yang hanya dipendam ini benar-benar membuat saya sesak, dan
saya tidak mau terus-terusan seperti ini. Terserah setelah anda membaca ini
anda akan tambah menjauhi saya atau bagaimana, saya sudah siap dengan
segala resikonya, yang penting saya bisa mengungkapkan apa yang ada di dalam
perasaan saya saat ini.
Saya
sedih didiamkan oleh anda. Saya sedih tak disapa oleh anda. Saya
sedih tak bisa lagi menikmati waktu kebersamaan bersama anda seperti
sebelumnya. Dan kalau memang benar apa yang ada di dalam pikiran dan perasaan
saya ini, saya sedih karena anda menjalani sebuah perasaan yang rumit.
Kalau
memang benar apa yang saya rasakan dan apa yang saya dengar, harus dengan cara apa saya meyakinkan
anda bahwa saya tak pernah ada perasaan melebihi teman terhadap laki-laki
itu? Bahwa saya tak pernah dengan sengaja membuat anda merasa cemburu
dengan saya? Saya tak pernah tau sebelumnya tentang itu. Di samping itu saya
juga sadar bahwa saya bukan perempuan yang sempurna, saya sadar bahwa saya
mempunyai banyak kekurangan, tapi bukan berarti saya tak punya sisi baik kan?
Begitu juga dengan anda, di mata saya anda juga bukan perempuan
sempurna, anda juga punya beberapa nilai min di mata saya, tapi sumpah
demi Allah, saya tak pernah mempermasalahkan itu, tak pernah sedikitpun merubah
rasa sayang saya ke anda dalam persahabatan kita.
Di
sini saya menduga bahwa anda adalah orang yang tak pernah mau kesalahannya
diketahui oleh orang lain. Termasuk kesalahannya telah mencintai orang yang
salah. Entahlah, bagi saya hal yang demikian hanya akan membuat anda
tampak semakin memalukan. Maaf. Apa anda pikir, Tuhan tak pernah melihatnya
selama ini? Atau anda pikir, menyembunyikannya dari manusia lain akan serta
merta menghapus kesalahan anda di mata orang-orang yang telah ikut
tersakiti? Atau apakah anda pikir dengan anda menjauhi saya dan
mendiamkan saya dan berpikir yang macam-macam terhadap saya tanpa anda
sekalipun mencoba konfirmasi hal tersebut langsung terhadap saya bisa sedikit
memberi kebahagiaan bagi anda? Sampai detik ini saya masih tidak percaya bahwa
anda bisa seegois ini. Selama ini saya menganggap anda sebagai
perempuan kuat, cerdas, bijaksana, baik, dan mandiri. Bahkan sampai hari ini
saya masih terus meyakinkan diri saya sendiri bahwa anggapan-anggapan saya ini
salah.
Maaf
kalau apa yang saya sampaikan ini menyakitkan bagi anda, tapi saya memang
tak bisa terus berlama-lama menyimpannya di pikiran dan hati saya. Saya yakin
anda juga merasakan bahwa sesuatu yang tak tersampaikan memang menyakitkan
dan parahnya dapat membuat pikiran berpikir macam-macam yang belum tentu benar.
Saya memilih untuk tidak seperti itu. Silakan salahkan saya, silakan jauhi
saya, silakan diamkan saya selama apa yang saya sampaikan ini memang tak
berkenan di hati anda. Dan kalau dugaan saya ini salah, saya juga mohon,
tolong beri tau saya apa yang sebenarnya terjadi dengan hubungan kita ini.
Terlepas dari anda masih menganggap saya sebagai teman atau bukan, di sini
saya merasa bahwa saya punya hak untuk tau apa yang sebenarnya terjadi karena
memang anda melibatkan saya dengan mendiamkan saya, anda juga mengatakan beberapa hal tentang saya kepada mereka yang tidak benar menurut saya. Jadi, tolong bersikaplah lebih bijak dalam menghadapi perasaan anda yang rumit itu.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar