Ayu

"Menulis itu indah, saat dapat menumpahkan setiap katanya berdasarkan alunan hati, bagiku....,,"

Jumat, 23 Januari 2015

Dear, Sahabatku Yang Entah Masih Menganggapku Sebagai Sahabatnya Atau Bukan..



Salam..,
Sebelumnya saya minta maaf kalau apa yang akan saya sampaikan ini kurang berkenan di hati anda, tapi sepertinya saya sudah mulai lelah dengan apa yang terjadi dengan hubungan pertemanan kita berdua akhir-akhir ini. Berbulan-bulan anda mendiamkan saya. Saya memang kecil, tapi saya bukan anak kecil yang bisa ditenangkan dengan kalimat “gak ada apa-apa kok, mungkin cuma perasaan kamu aja”. Itu adalah sepenggal sms balasan dari anda pada saat dulu saya bertanya dan minta maaf apabila saya ada salah sama anda terkait dengan perubahan sikap anda ke saya. 

Selama ini saya hanya bisa menduga-duga ada apa dengan anda? Bagian saya yang mana yang salah yang menyebabkan anda berlaku seperti itu terhadap saya. Selama itu saya tak pernah berhasil menemukan jawaban pasti dari hal itu. 

Dan, selama anda mendiamkan saya, jujur saya sangat rindu dengan kebersamaan kita sebelumnya, jadi terkadang saya kepo dengan timeline di FB anda, dan beberapa kali saya menemukan status dan beberapa kalimat yang anda sampaikan di FB yang membuat saya cukup sedih. Kalau nanda ingat, saya beberapa kali memberikan like kepada beberapa status dan komentar anda yang entah mengapa saya yakin sekali kata-kata atau lebih terkesan sindiran itu ditunjukan kepada saya, walaupun pada saat itu saya belum tau pasti alasan anda menjauhi saya. 

Anda juga perlu tau, yang namanya didiamkan oleh orang yang sudah dianggap sebagai sahabat itu juga cukup menyedihkan, apalagi tanpa alasan yang jelas. Saya masih ingat dengan jelas pandangan mata anda yang berbeda terhadap saya dibandingkan dengan cara anda memandang Bu Septi, Bu Ella, dan Ibunya saat saya kondangan ke rumah anda.  Saya pun masih ingat dengan jelas saat anda menyampaikan kepada salah seorang teman kita bahwa saya bisa dekat dengan orang karena saya punya uang dan mengatakan bahwa saya munafik. Saya masih ingat dengan jelas saat beberapa kali anda ngobrol di ruang guru dan di rumah Tante Citra bersama rekan guru yang lainnya, kemudian saya datang, anda langsung pergi. Saya masih ingat dengan jelas saat kita bersalaman di beberapa pagi dan anda seakan tak mau melihat wajah saya. Saya masih ingat dengan jelas saat anda berfoto bersama dengan para guru wanita di rumah Rizal sepulang dari kondangan Bu Umi dan saya sama sekali tak di ajak, dan setelah itu anda upload ke Facebook dan ada satu komentar yang anda buat yang membuat saya terpaksa menangis di sekolah yang kurang lebih isinya adalah “untung yang itu tidak ikut foto, bikin eneg”, atau seperti apa lah kalimatnya, tapi seperti itu yang saya tangkap. Dan entah mengapa, saya yakin itu ditunjukan kepada saya. Maaf kalau dugaan saya salah. Dan yang terbaru adalah anda membuat sebuah acara bersama beberapa rekan kerja untuk berjalan-jalan ke Wonosobo dan anda memberikan warning kepada beberapa rekan yang ikut untuk tidak mengajak saya. Bukan masalah ikut atau tidaknya saya, tapi kenapa saya harus menjadi sebuah pengecualian bagi anda?

Anda beruntung dikelilingi oleh para sahabat yang baik, setia, dan dapat dipercaya. Anda beruntung berada di tengah-tengah mereka, orang-orang yang benar-benar memahami posisi njenengan. Sebelumnya, beberapa kali saya mencoba mencari tau alasan anda mendiamkan saya melalu mereka, tapi saya tak pernah mendapat jawaban itu. Mungkin mereka memang tidak pernah tau. 

Hingga suatu hari ada sebuah pesan masuk ke hp saya yang sebenarnya hanya bertujuan untuk sekedar sharing dengan saya, tapi dari situ saya mulai meraba-raba apa ini ada hubungannya dengan anda mendiamkan saya. Tapi pada saat itu saya belum berani mengambil kesimpulan. Entah kebetulan atau memang sudah takdir, beberapa hari kemudian ada teman lain yang meminta pin bbm saya yang baru dan bercerita tentang status anda saat ini yang katanya anda sering membuat PM yang isinya “gumawo oppa” atau apalah itu, dia berpikir anda masih dekat dengan saya, yang pada saat itu saya belum berteman di bbm dengan anda. Pada saat itu saya jawab tidak tau, karena memang saya tidak tau. Beberapa hari berikutnya saya mendapatkan cerita yang bersumber dari salah satu guru SMK Swasta di Banyumas yang mengatakan tentang laki-laki itu yang berpacaran dengan seorang wanita yang ciri-cirinya sebagian besar mirip dengan anda yang dia ketahui dari Line. Entahlah, disitu saya yakin yang dimaksud salah satu guru SMK Swasta di Banyumas itu adalah anda. Saya mohon maaf kalau dugaan saya itu salah. Kemudian, tak lama setelah saya mendengar cerita-cerita tersebut, ada salah satu rekan kita yang menyampaikan apa sebenarnya alasan anda menjauhi dan mendiamkan saya, dan teryata tak jauh dari dugaan saya.

Selama ini saya hanya bisa menduga-duga dan memendamnya sendiri, tapi tidak untuk sekarang. Sesuatu yang hanya dipendam ini benar-benar membuat saya sesak, dan saya tidak mau terus-terusan seperti ini. Terserah setelah anda membaca ini anda akan tambah menjauhi saya atau bagaimana, saya sudah siap dengan segala resikonya, yang penting saya bisa mengungkapkan apa yang ada di dalam perasaan saya saat ini. 

Saya sedih didiamkan oleh anda. Saya sedih tak disapa oleh anda. Saya sedih tak bisa lagi menikmati waktu kebersamaan bersama anda seperti sebelumnya. Dan kalau memang benar apa yang ada di dalam pikiran dan perasaan saya ini, saya sedih karena anda menjalani sebuah perasaan yang rumit. 

Kalau memang benar apa yang saya rasakan dan apa yang saya dengar, harus dengan cara apa saya meyakinkan anda bahwa saya tak pernah ada perasaan melebihi teman terhadap laki-laki itu? Bahwa saya tak pernah dengan sengaja membuat anda merasa cemburu dengan saya? Saya tak pernah tau sebelumnya tentang itu. Di samping itu saya juga sadar bahwa saya bukan perempuan yang sempurna, saya sadar bahwa saya mempunyai banyak kekurangan, tapi bukan berarti saya tak punya sisi baik kan? Begitu juga dengan anda, di mata saya anda juga bukan perempuan sempurna, anda juga punya beberapa nilai min di mata saya, tapi sumpah demi Allah, saya tak pernah mempermasalahkan itu, tak pernah sedikitpun merubah rasa sayang saya ke anda dalam persahabatan kita. 

Di sini saya menduga bahwa anda adalah orang yang tak pernah mau kesalahannya diketahui oleh orang lain. Termasuk kesalahannya telah mencintai orang yang salah. Entahlah, bagi saya hal yang demikian hanya akan membuat anda tampak semakin memalukan. Maaf. Apa anda pikir, Tuhan tak pernah melihatnya selama ini? Atau anda pikir, menyembunyikannya dari manusia lain akan serta merta menghapus kesalahan anda di mata orang-orang yang telah ikut tersakiti? Atau apakah anda pikir dengan anda menjauhi saya dan mendiamkan saya dan berpikir yang macam-macam terhadap saya tanpa anda sekalipun mencoba konfirmasi hal tersebut langsung terhadap saya bisa sedikit memberi kebahagiaan bagi anda? Sampai detik ini saya masih tidak percaya bahwa anda bisa seegois ini. Selama ini saya menganggap anda sebagai perempuan kuat, cerdas, bijaksana, baik, dan mandiri. Bahkan sampai hari ini saya masih terus meyakinkan diri saya sendiri bahwa anggapan-anggapan saya ini salah. 

Maaf kalau apa yang saya sampaikan ini menyakitkan bagi anda, tapi saya memang tak bisa terus berlama-lama menyimpannya di pikiran dan hati saya. Saya yakin anda juga merasakan bahwa sesuatu yang tak tersampaikan memang menyakitkan dan parahnya dapat membuat pikiran berpikir macam-macam yang belum tentu benar. Saya memilih untuk tidak seperti itu. Silakan salahkan saya, silakan jauhi saya, silakan diamkan saya selama apa yang saya sampaikan ini memang tak berkenan di hati anda. Dan kalau dugaan saya ini salah, saya juga mohon, tolong beri tau saya apa yang sebenarnya terjadi dengan hubungan kita ini. Terlepas dari anda masih menganggap saya sebagai teman atau bukan, di sini saya merasa bahwa saya punya hak untuk tau apa yang sebenarnya terjadi karena memang anda melibatkan saya dengan mendiamkan saya, anda juga mengatakan beberapa hal tentang saya kepada mereka yang tidak benar menurut saya. Jadi, tolong bersikaplah lebih bijak dalam menghadapi perasaan anda yang rumit itu.