Ayu

"Menulis itu indah, saat dapat menumpahkan setiap katanya berdasarkan alunan hati, bagiku....,,"

Minggu, 24 Januari 2016

Yang Semoga Semesta Aminkan


Atas nama harapan yang digantungkan demi masa depan. Untuk usaha mengurai benai kusut yang akhirnya dilakukan, setelah sebuah pengakuan. Atas nama keinginan menghela langkah yang tak lagi tertahan. Demi pekik bersulang karena kebahagiaan.

Untuk kebaikan, apapun nanti hasilnya. Apapun nanti jawabannya. Untuk air mata yang makin jarang berkunjung, namun sebenarnya tetap membludak di bendungan — mempersiapkan air bah besar. Jika tidak dihentikan.

Atas nama ketidakberdayaan. Atas nama keinginan membahagiakan orang-orang tersayang. Untuk kegagalan, untuk pencarian keinginan berjuang dan bangkit yang hilang entah ke mana. Saya rindu kembali menjadi orang yang sama.

Saya pernah mengambil pilihan keliru dalam hidup, saya pernah membiarkan orang yang keliru masuk dalam hidup. Barangkali orang yang sama ini hanya terlalu tinggi hati mengakui tetek-bengek perasaan melibasnya. Sampai ke pecahan terkecil.

Namun hal-hal baik pasti terjadi. Itu yang sampai hari ini masih saya yakini. Kamu, jadi salah satu bukti.

Saya membayangkan menggenggam tanganmu saat hal-hal baik terjadi. Saya membayangkan menuliskan pesan singkat untukmu saat hal-hal baik mulai mendatangi. Saya membayangkan kerut mata karena senyum terlalu lebar yang tercipta di wajahmu saat mendengar berita baik itu dibagi. Saya membayangkan rengkuh lenganmu erat memenuhi pinggang hingga satuan centi.

Tentu kita tidak bisa menebak masa depan. Tapi saya harap hal-hal baik, dirimu, dan ke-kita-an adalah sebuah kesatuan.

Yang semesta aminkan.

Senin, 11 Januari 2016

KELU (HAN) ?

"Ada hari dimana saya mencintaimu sampai tak mengenal diri saya sendiri. Hari yang melelahkan, bahkan tanpa perlu saya berlari jauh. Hari dimana saya menyebutnya tersesat. Lelah, tapi bahagia. Aneh bukan?"

I miss you. I also miss the feeling of falling in love with you. Saya tidak lupa apapun tentang kita, tapi yang paling saya ingat adalah saya "pernah" sangat bahagia, sampai-sampai saya ingin menyimpannya dalam kulkas, dan bisa kembali saya nikmati saat sedang seperti ini. Mungkin kamu menyebutnya sebagai sebuah keluhan, tapi saya menyebutnya sebagai suatu kebutuhan. Kebutuhan akan sepasang telinga yang kini tak lagi bisa saling mendengarkan. Sudah terlalu banyak hal yang kuta lewati sendiri-sendiri. Saya dengan pekerjaan dan teman-teman saya, kamupun seperti itu. Tak lagi ada kita yang dulu. Kita yang bisa selalu bebas membicarakan apapun yang kita sukai. Tak lagi ada kesempatan kita untuk seperti itu. Atau memang kita sendiri yang tidak memberikan kesempatan untuk itu. Sekali lagi sayang, kamu boleh menyebut ini sebagai keluhan, saya menyebutnya sebagai kebutuhan.