Ayu

"Menulis itu indah, saat dapat menumpahkan setiap katanya berdasarkan alunan hati, bagiku....,,"

Minggu, 22 November 2015

Tertinggal

Tak ingin menyudahi kamu,
tak ingin membantumu melukai diriku.
Sementara luka yang kemarin pun
belum lagi disembuhkan
meski berkali ku ludahi.

Jumat, 06 November 2015

Sayang, Aku Lelah.., Kemarilah.


Apa yang menyenangkan dalam jarak sejauh ini? Aku tak bisa menatapmu dan jemariku tak bisa menyentuh lekukan wajahmu. Apa yang bisa kita harapkan dari jarak ratusan kilometer yang memisahkan kita? Ketika rasa rindu menggebu, dan kutahu kau tak ada di sisiku. Sejauh ini kita masih bertahan, entah mempertahankan apa. Karena yang kurasa sekarang, cintamu tak lagi nyata.

Dalam jarak sejauh ini, mungkinkah kita masih saling mendoakan? Seperti saat kita dulu masih berdekatan. Aku tak lagi paham saat-saat dingin mencekam, kamu tak duduk di sampingku, juga tak mendekapku dengan hangat. Aku tak lagi mengerti, saat air mataku terjatuh, hanya ada tanganku (bukan tanganmu) yang menghapus basah di pipiku. Jelaskan padaku, apa yang selama ini membuatku masih ingin bertahan? 

Aku hanya bisa menatap fotomu. Diam-diam merapal namamu dalam doa. Kulakukan semua seakan baik-baik saja, seakan aku tak terluka, seakan tak ada air mata; aku begitu meyakinkanmu, bahwa tak ada yang salah di antara kita. Dan, apakah di sana kau memang baik-baik saja? Apakah rindu yang kita simpan dalam-dalam akan menemukan titik temu? 

Sayang, aku lelah. 

Kemarilah...

Jangan Diamkan Aku (Lagi)!


Mataku slalu menoleh pada arloji yang ku pakai,
Ternyata telah ratusan menit,dan ribuan detik telah ku lalui .
Hanya untuk apa ?
Untuk menemukan kabarmu. 


Tanganku pun telah lelah memegang handphone yang hanya untuk apa ?
Untuk menanti kabarmu.
Entah itu pesan singkatmu ataupun telepon darimu. 


Tapi nyatanya apa ?
Tak ada sdikit pun pesan singkatmu,telefonmu atau bahkan keberadaanmu pun aku tak tau. 


Iya itulah aku,
Berharap dan berharap.
Aku slalu mengirimkan pesan baik itu mengingatkanmu makan,dan semua perhatianku hanya untukmu.
Tapi apa kamu menanggapinya ?
TIDAK
Kamu seolah tak menghiraukan aku ! 


Kamu seolah tak pernah mau tau tentang aku !
Entah itu aku sedang apa dimana dan dengan siapa !
Tapi aku disini ?
Aku yang terus diam diam dan diam.
Menangisimu yang mungkin tak memikirkan SEDIKIT saja tentang aku !
Mengapa kamu sperti ini ? 


Kamu sangat dingin.
Kamu tak lagi sehangat mentari.
Kamu berubah !
Kamu slalu mendiamkanku tanpa sebab,
Mencampakkanku dan meninggalkannku sendiri. 


Sadarkah perlakuanmu itu membuatku sakit ?
Ahh rasanya kamu tak sadar,
Buktinya kamu masih tak peduli sama sekali tentang aku.
Sakitku ini pun kamu abaikan,
Yahh mungkin aku memang tak berarti bagimu. 


Tapi aku mohon, jangan diamkan aku !
Aku bukanlah benda mati,aku benda hidup ! Yang perlu berbicara,bercerita dan berkomunikasi denganmu.
Jangan diamkan aku lagi !
Aku bukanlah batu yang tak bisa apa-apa!
Aku manusia ! 


Aku rindu kamu yang dulu...


Aku mohon,
Jangan diamkan aku (lagi)..,


Bisakah Kamu Bayangkan Rasanya Jadi Aku?


Kamu pernah menjadi bagian hari-hariku. Setiap malam, sebelum tidur, kuhabiskan beberapa menit untuk membaca pesan singkatmu. Tawa kecilmu, kecupan berbentuk tulisan, dan canda kita selalu membuatku tersenyum diam-diam. Perasaan ini sangat dalam.

Jatuh cinta terjadi karena proses yang cukup panjang, itulah proses yang seharusnya aku lewati secara alamiah dan manusiawi. Proses yang panjang itu mungkin memang terjadi, pertama kali melihatmu; aku tahu suatu saat nanti kita akan berada pada status yang lebih spesial, tapi aku masih ragu saat itu. Aku tak terlalu memikirkan akan merangkai hubungan dengan seorang pria setelah apa yang aku alami sebelumnya, namun kemudian aku terlalu penasaran ketika mengetahui kehadiranmu mulai mengisi kekosongan hatiku. Kebahagiaanku mulai hadir ketika kamu menyapaku lebih dulu dalam pesan singkat. Semua begitu bahagia.... dulu.

Kamu menerimaku apa adanya, itu katamu. Kugantungkan harapanku padamu. Kuberikan sepenuhnya perhatianku untukmu. 

Tuan, tak mungkin kautak tahu ada perasaan aneh di dadaku saat ini. Kekasihku yang belum sempat kumiliki seutuhnya, tak mungkin kautak memahami perjuangan yang kulakukan untukmu. Kamu ingin tahu rasanya seperti aku? Dari awal, ketika kita pertama kali berkomitmen, aku hanya ingin melihatmu bahagia. Senyummu adalah salah satu keteduhan yang paling ingin kulihat setiap hari. Dulu, aku berharap bisa menjadi salah satu sebab kau tersenyum setiap hari, tapi ternyata harapku terlalu tinggi.

Setelah tahu semua itu, apakah kamu pernah menilik sedikit saja perasaanku? Ini semua terasa aneh bagiku. Kita yang dulu sangat dekat, tiba-tiba menjauh tanpa sebab. Aku yang terbiasa dengan sapaanmu di pesan singkat harus (terpaksa) ikhlas karena akhirnya kamu sibuk dengan segala kesinukanmu. Aku berusaha memahami itu. Setiap hari. Setiap waktu. Aku berusaha meyakini diriku bahwa semua akan baik-baik saja.

Tuan, jika aku bisa langsung meminta pada Tuhan, aku tak ingin perkenalan kita terjadi. Aku tak ingin mendengar suaramu ketika menyebutkan nama. Aku tak ingin membaca pesan singkatmu yang lugu tapi manis. Sungguh, aku tak ingin segala hal manis itu terjadi jika pada akhirnya kamu terbebani.

Kalau kauingin tahu bagaimana perasaanku, seluruh kosakata dalam miliyaran bahasa tak mampu mendeskripsikan. Perasaan bukanlah susunan kata dan kalimat yang bisa dijelaskan dengan definisi dan arti. Perasaan adalah ruang paling dalam yang tak bisa tersentuh hanya dengan perkatan dan bualan. Aku lelah. Itulah perasaanku. Sudahkah kaupaham? Belum. Tentu saja. Apa pedulimu padaku? Aku seakan tak pernah ada dalam matamu. Aku seperti tak pernah tinggal  di hatimu. Kamu mendiamkanku.

Setiap hari, setiap waktu, aku selalu berusaha menganggap semua baik-baik saja. Semua akan berakhir seiring berjalannya waktu. Aku membayangkan perasaanku yang suatu saat nanti pasti akan hilang, aku memimpikan lukaku akan segera kering, dan tak ada lagi hal-hal penyebab aku menangis setiap malam. Namun.... sampai kapan aku harus terus mencoba?

Sementara ini saja, aku tak kuat melewati hari tanpa pesan-pesan dan perhatianmu. Sulit bagiku menerima kenyataan bahwa kamu yang begitu kucintai ternyata malah memilih mengabaikanku.

Seandainya kamu bisa membaca perasaanku dan kamu bisa mengetahui isi otakku, mungkin hatimu yang beku akan segera mencair. Aku tak tahu apa salahku sehingga kita yang pernah begitu dekat tiba-tiba terhempas dari dunia mimpi ke dunia nyata. Tak penasarankah kamu pada nasib yang membiarkan kita kedinginan seorang diri?

Aku menulis ini ketika mataku tak kuat lagi menangis. Aku menulis ini ketika mulutku tak mampu lagi berkeluh. Aku mengingatmu sebagai sosok yang pernah membuatku sangat bahagia. Seandainya kautahu perasaanku dan bisa membaca keajaiban dalam perjuanganku, mungkin kamu akan berbalik arah—memilihku, kembali padaku. Tapi, aku tak akan pernah memaksamu untuk pulang. Aku percaya, ketika itu memang cinta, ia tak akan salah memilih rumahnya berpulang.

Semoga kautahu, aku berjuang, setiap hari untuk melupakanmu. Aku memaksa diriku agar membencimu, setiap hari, ketika kubaca kembali pesan-pesanmu di Rabu itu. Aku berusaha keras, setiap hari.

Bisakah kaubayangkan rasanya jadi orang yang setiap hari terluka, hanya karena ia tak tahu bagaimana perasaan orang yang mencintainya? 

Bisakah kaubayangkan rasanya jadi seseorang yang setiap hari menahan tangisnya agar tetap terlihat baik-baik saja?

Kamu tak bisa. Tentu saja. Kamu tidak perasa.

Rabu, 07 Oktober 2015

Sesederhana Ini..,

Keinginanku sederhana, bisa memelukmu begitu erat, di bawah langit Jogja, yang dihiasi kembang api malam ini. Selamat merayakan ketidakmungkinan di antara kita. Selamat ulang tahun Jogjakarta.

Minggu, 12 Juli 2015

Bagi Aku Kelelahanmu..,


Tak ada yang lebih menyenangkan dari melihatmu menertawakan hal-hal sederhana yang kamu temukan di harimu yang melelahkan. Dan tak ada yang lebih menyenangkan dari; di tengah harimu yang melelahkan, aku masih jadi seseorang yang pertama kali kamu ingat untuk bisa, mendengar kebaikan yang tersisa dari hal-hal sederhana kepunyaanmu. Kelelahanmu, mengingatkanku bahwa hidup ini bukanlah sekedar menemukan bagaimana caranya bahagia, tapi bagaimana caranya tetap merasa bahagia--di tengah keburukan yang kerap datang memeluk.

Kamu tahu apa yang paling pertama ingin aku ucapkan padamu di setiap pagi? Terima kasih karena masih bersedia memiliku di hari ini. Dan bila esok, kamu bosan melakukannya, aku tetap akan berterima-kasih untuk pernah diberi kesempatan oleh Tuhan merasakan jadi bagian penting dari hari-harimu yang melelahkan. Kamu harus mengingat ini, bahwa kamu pernah jadi alasan dari kebahagiaanku.

Pernah aku bertanya pada diriku sendiri, kenapa aku bisa menyayangimu? Dan jawaban yang datang selalu karena aku merasa perlu untuk melakukannya. Menyayangimu, sudah jadi bagian dalam kebutuhan sehari-hariku. Aku perlu menyanyangimu, untuk bisa bahagia. Aku perlu melihat senyumu, untuk bisa merasa kebaik-baik saja-an. Aku perlu kehadiranmu, untuk bisa meyakini bahwa kehadiranku adalah sesuatu yang kuperlukan. Kamu, membuatku memerlukan hidup ini, bukan hanya agar aku bisa selalu bersama-sama denganmu—tapi juga karena rasa sayangmu, mampu membuatku menilai kehadiran diriku sendiri dengan sepantasnya. Aku akan bertahan hidup semampu yang kubisa, untuk bisa terus merasakan sayang yang kamu miliki—dan juga untuk terus bisa menjadi bagian dari mereka yang tengah kusayangi.

Dulu, bertahan hidup, tidak pernah sepenting ini
Dulu, disayangi, tidak pernah terasa sehangat ini
Dulu, mempercayai seseorang, tidak pernah bisa senyaman ini

Bukan lantas kamu serta merta jadi segalanya, aku tidak akan membiarkan cinta membuat otakku jadi tumpul dan hatiku terluka

Tapi aku juga tidak akan pernah meletakkan cintamu dekat dengan kebohongan dan ketidak tulusan

Aku mencintaimu, dengan penuh rasa hormat atas diriku sendiri

Maka sini

Teruslah

Bagi aku, kelelahanmu.

Sabtu, 20 Juni 2015

Saya menyayangimu. Dan saya hanya ingin disayangi olehmu saja.


Terkadang saya bingung, bagaimana mungkin seseorang yang telah membuat kita marah, sedih, bahkan menangis sepanjang malam tetap saja menjadi orang yang paling kita tunggu pelukannya. Disebut apa yang seperti itu? Menyukai sesuatu yang memang kita cintai merupakan hal yang mudah. Tapi mungkin inilah yang namanya cinta. Bertahan menyukai hal-hal yang terkadang tak kita sukai, tapi kita merasa  tak mampu hidup dengan baik tanpanya.

Mungkin kamu tak akan percaya, tapi salah satu cara terbaik saya mengingatmu adalah saat saya tersenyum. Walaupun kamu pernah membuat saya kehilangan kepercayaan diri bahwa benar saya masih penting untuk kamu, pernah membuat saya begitu sedih sampai-sampai saya menangis sambil menutup wajah saya dengan bantal dan keesokan paginya hampir-hampir mata saya tidak bisa terbuka karena bengkak. Tapi kamu, saya selalu mengingatmu saat sedang berbahagia, mungkin itulah salah satu alasan mengapa saya selalu suka kalimat "kita baik-baik saja".

Saya menyayangimu. Dan saya hanya ingin disayangi olehmu saja.