Ayu

"Menulis itu indah, saat dapat menumpahkan setiap katanya berdasarkan alunan hati, bagiku....,,"

Jumat, 06 Desember 2013

Jiwa yang rindu keabadian

Kematian terkadang lebih indah bila disejajarkan kehidupan
Tak terbatas pada kepatuhan dan keterikatan jiwa
Kekosongan hanya sebatas raga, tak terbuka mata
Kematian menyeret kita pada jalannya yang bertapak
Yang meluruhkan rasa sakit, pedih, dan kehinaan dunia
Kehidupan yang bersandar pada nafas lebih berharga dari kata
Karena nafas lahir dari jiwa yang suci bukan dari rahim nafsu
Bukankah kematian awal dari kehidupan juga?
Kita berputar ikuti roda alam yang terkadang kita tersesat
Tak memandang baik pun buruk yang hadir bagi kita
Bukankah kehidupan mengunci kita pada ketidakpastian?
Hanya jiwa – jiwa yang buta diperbudak oleh itu
Tak jauh berbeda dari keledai yang memangku tuannya
Jika hidup itu terurut dar lahir kemudian mati
Mengapa takut membekap suara – suara hati?
Jiwa yang haus, menangis dan berteriak ingin bebas
Mungkin menyadari keabadian bukanlah sebuah keraguan
Puing yang runtuh dari keputus asaan hanya menjadi prasasti
Yang mencoba ingatkan mereka hidup tak terus berlanjut
Sesudah perenungan itu, masihkah kita munafik?
Setiap jiwa berhak memilih apa yang terlihat olehnya
Mengapa takut masih saja membekap suara-suara hati?

Tidak ada komentar:

Posting Komentar