Ketika barisan awan di semenanjung Utara bergerak pelan, matahari
mungkin sudah merias dirinya di ufuk Barat. Tapi, keduanya tak berharap
akan menghangatkan pagimu dengan senyuman, tidak, mereka hanya bertasbih
dan sujudkan kuasanya pada Cinta.
Mungkin kau berpikir, malam terlalu pekat dan disana terbaring
jasad-jasad lemah yang membusuk karena patah asa. Kesombonganmu hanyalah
gula darah. Tak lebih dari itu meski sedikit pun. Masih terlalu gelap
untukmu bermuram, bahkan kau pun tak tahu apa esok masih ada.
Bangunlah, kau masih punya hak untuk berharap. Bukan karena tak
dikabulkan doamu yang lalu maka kau merasa ditepikan Cinta, tapi bangun
dan berharaplah karena kau terlahir untuk bahagia. Pagi tidak pernah
memaksakan dirinya untuk cerah, ia hanya menyiapkan sebaik mungkin
hamparan harap untuk anak-anak Adam berkelana. Sepertimu, berjalanlah.
Awan dan matahari akan menemanimu hingga di cakrawala senja. Kau tak
sendiri, bukan?
Sekarang mungkin kau hanya sebatang kayu kering. Rapuh dan mudah
patah. Tapi darinya akan kau bakar dunia dengan asa yang lebih hebat.
Bangun dan berlarilah, pagi tak kan menunggumu. Jemput harapan yang kau
sisipkan di sayap rembulan. Bangunlah sebelum harapan itu terlalu sesak
dan tak ada tempat untukmu mengeluh.
Pagi tak kan menunggumu.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar