Mereka bertanya kepadaku tentang perempuan yang membuat takjub tiap
mata yang menyapanya, perempuan yang meneduhkan hati pencintanya,
perempuan yang meleburkan degup jantung dalam tungku harap.
Dia, perempuan
yang menari dalam rintik cahaya.
Oase gurun hati
Dia, penuntun
yang menjadi arah
musafir kembali kerumahnya.
Dia, sebuah alasan
kenapa matahari masih terbit
dan bulan bercahaya dalam hati
Lalu mereka hanya terdiam ketika perempuan itu membuka hatinya.
Tidak, tak ada apapun disana. Mereka berharap akan ada nama, penghuni
hati yang paling beruntung hanya tuk sekedar pernah ada dan tergurat di
hatinya.
Wahai, yang membutakan mata kami
kenapa tak ada siapa pun selain gurat waktu
di hatimu
Sedang kami, relakan jasad dan jiwa
untuk bersemayam dan bertasbih
di hatimu.
Perempuan itu tersenyum hingga lalu tak ada siapa pun yang mampu mengatupkan mata dan bibirnya.
Ketulusan yang menjadikanku
mengerti akan hakekat cinta
Penghuni hatiku adalah dia
yang menundukkan nafsunya
yang melumpuhkan emosinya
yang menyatu dalam cahayaNya.
Perlahan sebuah guratan muncul, satu huruf, lalu huruf berikutnya,
dan kemudian huruf yang merangkai sendirinya.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar