1 September 2014
Kali ini saya akan bercerita tentang dua hal berbeda yang
saya alami di kelas hari ini. Saya tidak tahu apa yang saya lakukan ini benar
atau salah, saya hanya mengikuti kata hati saya saja. Kalau kalian baca tulisan
saya sebelumnya, kalian pasti tahu bahwa saya adalah wali kelas dari kelas XII
TKJ 1. Melihat kondisi yang ada di antara kelas XII TKJ 1 dan XII TKJ 2, saya
sangat miris dan hati saya merasa kasihan. Silahkan kalian sebut saya
berlebihan dengan apa yang saya rasakan, karena memang itu yang saya rasakan.
Mereka adalah anak-anak saya, saya sangat menyayangi mereka. Sedih saat melihat
dan mendengar kedua kelas ini saling menyalahkan satu sama lain. Keduanya merasa
benar dengan pendapat dan alasannya masing-masing. Dan hebatnya adalah, jawaban
dan pendapat yang kedua kelas ini berikan adalah sama. Ketika saya bertanya
kepada kelas XII TKJ 1 apakah mereka punya masalah dengan kelas XII TKJ 2,
mereka menjawab tidak ada masalah. Begitupun ketika saya bertanya dengan kelas
XII TKJ 2, mereka juga menyebutkan jawaban yang sama bahwa mereka tidak punya
masalah dengan anak-anak di kelas XII TKJ 1. Lalu sayapun bertanya, “kalau
memang kalian tidak merasa punya masalah dengan mereka, mengapa sikap kalian
terlihat bermusuhan dengan mereka?” , anak-anak kelas XII TKJ 2 menjawab
“Anak-anak kelas XII TKJ 1 sering nyindir-nyindir Bu….”, dan anak-anak kelas
XII TKJ 1 pun mempunyai jawaban yang sama, mereka menjawab “Anak-anak kelas XII
TKJ 2 sering nyindir-nyindir Bu…”. Oh My God..,, apa sebenarnya yang terjadi
dengan mereka? Lalu sayapun berbicara dengan wali kelas XII TKJ 2 mengenai hal
ini, dan obrolan kamipun tak menghasilkan apapun. Beliau hanya berbicara
mengenai teorinya bahwa beliau akan membenahi pola pikir anak-anaknya. Kalau
menurut saya tidak ada yang salah dengan anak-anak Anda, mereka anak-anak yang
baik, tidak perlu dirubah pola pikirnya atau apapun itu. Saya hanya ingin kita
berdua sebagai wali kelas menemukan cara bagaimana membuat mereka kembali akur
tanpa adanya sindiran-sindiran lagi. Itu saja. Kemudian saya kembali berbicara
dengan anak kelas XII TKJ 2, saya mengatakan “kalau memang anak-anak kelas XII
TKJ 1 yang salah, saya bisa jamin 100% mereka akan meminta maaf kepada kalian.”
Beberapa menit setelah saya mengatakan hal tersebut, saya masuk ke kelas XII
TKJ 1, dan benar-benar surprise saat melihat anak-anak kelas XII TKJ 2 datang
ke kelas XII TKJ 1 lalu minta maaf. Di situ saya melihat para siswa berhati
besar dan saya sangat bangga terhadap mereka. Di depan saya dan di depan
anak-anak kelas XII KTJ 2, anak-anak kelas XII TKJ 1 pun memaafkan, tetapi
tidak saat anak-anak kelas XII TKJ 2 pergi meninggalkan kelas XII TKJ 1. Masih
sangat jelas terlihat wajah-wajah penuh dendam di beberapa anak di kelas XII
TKJ 1. Sayapun merasa kembali miris dengan adanya kenyataan ini. Lalu, di saat
saya sedang serius berbicara ada seorang anak yang sudah sangat jarang
berangkat ke sekolah, tiba-tiba
berkomentar dan itu membuat saya trenyuh saat melihat anak itu. Baju
dikeluarkan dan tidak dikancing, potongan rambut tidak rapi, dan aksesoris yang
tak sepantasnya dipakai oleh seorang pelajar. Walaupun saya wali kelasnya, saya
merasa tidak mengenalnya. Iya, dia adalah anak yang paling sering tidak
berangkat dari mulai kelas X sampai sekarang kelas XII. Lalu sayapun
menegurnya. Dia tidak sama dengan anak-anak yang lain, ketika saya Tanya, dia
menjawab dengan bahasa jawa ngoko yang tergolong tidak sopan dengan ekspresi
wajah yang bengal. Di situ saya tahu bahwa anak ini memang bermasalah, dan
silahkan salahkan saya karena pada saat itu saya menyuruhnya keluar dari kelas
saya. Saya hanya tidak ingin lebih lama melihat ekspresi wajah itu. Benar-benar
sebuah ekspresi yang membuat saya berpikir bahwa anak ini tidak mempunya tata
krama maupun sopan santun berbicara yang baik terhadap gurunya. Dan benar, anak
itupun langsung meninggalkan kelas dengan ocehan-ocehannya yang sayapun tidak
jelas mendengarnya, tanpa pamit atau apapun itu, hanya ekspresi mukanya saja
yang bisa saya lihat bahwa dia marah terhadap saya. Maafkan saya. Setelah anak
itu keluar dari kelas, sayapun kembali berbicara dengan anak-anak di kelas ini
mengenai apa yang sebelumnya terjadi, mengenai anak-anak dari kelas XII TKJ 2
yang mau meminta maaf terlebih dahulu dan saya sangat menyayangkan dengan sikap
beberapa anak di kelas ini yang ternyata masih belum ikhlas memberikan maafnya.
Dan dengan sangat terpaksa saya mengatakan bahwa anak-anak di kelas ini angkuh
dan sombong. Dibutuhkan jiwa yang sangat besar untuk meminta maaf kepada orang
lain, tetapi memberikan maaf dengan ikhlas dan tuluspun mereka masih belum
bisa. Setelah saya berbicara panjang lebar, akhirnya mereka mendatangi kelas
XII TKJ 2 dan memanggil beberapa perwakilannya lalu meminta maaf secara
personal di depan anak-anak yang lain. Di situ saya melihat beberapa dari
mereka yang menangis. Dan pada saat itu saya benar-benar merasa bangga terhadap
anak-anak saya itu. Saya bangga menjadi wali kelas XII TKJ 1, saya bangga
mempunyai anak-anak yang berjiwa besar, dan walaupun saya bukan wali kelas dari
XII TKJ 2, sayapun merasa sangat bangga dengan mereka, Lexi dan kawan-kawannya.
Terima kasih sudah memberi pengalaman yang luar biasa hari ini. Dan sebagai
seorang penonton, saya bahagia melihat ini. Terima kasih.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar