Ayu

"Menulis itu indah, saat dapat menumpahkan setiap katanya berdasarkan alunan hati, bagiku....,,"

Kamis, 27 November 2014

Tentang Mama 2


Tuhan
Jika saja dunia ini adalah gradasi warna, biarlah merah menjadi semangat keberanianku dan putih menjadi simbol ketulusanku untuk menjalani kehidupan ini, dan merah muda adalah dambaan wujud perjuanganku untuk senantiasa membuat mama bahagia dengan apa yang kumiliki sekarang ataupun nanti.

Tuhan
Jika saja cerita ini hadirkan titik yang menjadi akhir cerita, aku akan merasa bangga karena aku bisa melewatinya dengan kesabaran yang luar biasa, dan pada akhirnya mama akan tersenyum sangat manis kepadaku. Tetapi jika saja esok aku lupa dengan semua yang membuatku menjadi manusia seperti ini, aku berjanji Tuhan..saat malam tiba akan ku sapa semua kebesaranMu di suatu gugus bintang yang terang untuk sekedar menyadarkanku bahwa aku tak pantas untuk menjadi manusia angkuh. Bintang-bintangMu akan mencibirku jika aku tak pandai bersyukur. Dan wajah mama akan terus kupandangi, karena dari wajah cantik itulah aku mengenal arti kesederhanaan.

Tuhan
Kali ini, hanya kali ini. Perbolehkan aku untuk sekedar menyombongkan diri sebentar saja, bahwa aku bisa berusaha menjadi manusia cerdas demi mama yg telah berjuang sendiri hanya dengan sepuluh jari di tangannya, hingga sekarang aku memiliki apa yang tidak dimiliki segelintir orang disana.

Tuhan
Tuntun aku untuk selalu berada dalam ilmu Mu yg Maha Dahsyat, yang melaluinya lah aku bisa menjadi manusia yang lebih hebat, dimata mamaku.
Tuntun aku untuk selalu bergairah akan hari-hari yang Engkau persiapkan untuku. Tuntun aku sehingga aku tak pernah puas mencari ide untuk selalu membahagiakan mama. Dan tuntun aku menjadi anak perempuan manis yang senantiasa mendoakan mama,agar beliau mendapatkan salah satu amalan shaleh.
Satu hal yang menjadi semangat dalam hidupku, Engkau menakdirkanku menjadi anak perempuan yang lahir dari rahim seorang wanita hebat. Wanita yang ayu, cerdas, dan pandai mendidik anak. Wanita yang dari beliau lah aku banyak belajar mengenai kesabaran. Dari beliau pula aku diperkenalkan dengan segala keagunganMu, Tuhan. Tanpa beliau, aku hanyalah manusia kerdil yang tak beriman.
“Aku berjanji, aku akan selalu mengajak mama untuk merasakan manisnya keberhasilanku”

Minggu, 23 November 2014

Tentang Mama..,


Suatu hari…
Dengan baju tidur yang melekat di badan, kursi memanjang diruang yang biasa tamu duduki, tatapannya begitu panjang, tapi terasa hampa…seolah begitu banyak yang berkecamuk dalam otak yang hanya sebesar kepalan tangan. Namun begitu besar harapan yang tumbuh memenuhi rongga dadanya… bahkan dunia pun tak sanggup menjadi virtual besarnya harapan yang sedang tumbuh… kutatap matanya yang sedari tadi berkaca-kaca…

Mama… dimana kau simpan harapan untuk mendapatkan cerahnya sinar matahari? Merasakan sejuknya embun menetes di segarnya pagi? Aku tak tau… meski jalan ini terasa amat lurus… tapi mengapa dalam tatapanmu terasa begitu hampa?

Sabarlah nak, meski tangan ini memiliki sepuluh jari, tapi mama akan kepalkan sekuat tenaga agar kau bisa menyelami ilmu dengan layak. Akan ku papah duniamu degan tekad, meski begitu lurus bagimu… namun tak usah kau tau betapa terjalnya jalan yang mama hadapi…

‘Tapi ma, mengapa kau hanya sendiri yang tau jalan itu… kenapa kau tak sertakan aku atau kakak ku atau papa atau bahkan saudara-sadaraku?’

Tak perlu… mama ingin agar kau dapat merasakan tenang dalam setiap kau meneguk ilmu… melahapnya dengan tanggung jawabmu… jadikanlah Doa ku sebagai nutrisi tubuhmu… agar kau kuat… mandiri dan tabah dengan segala keyakinanmu…

“Tapi ma…”

Sudahlah… jangan kau pesimis, buktikan kepadaku bahwa kau bisa menjalani semua dengan prestasi… mama ingin melihat betapa cantiknya dirimu dengan hiasan ilmu, mama ingin melihat betapa sehatnya dirimu dengan kemandirian… mama ingin menatap cerahnya sinar matahari dan sejuknya embun pagi saat kau sudah mampu berdiri dengan segala keyakinanmu… mama ingin dipeluk oleh kasih sayangmu setelah kau dapatkan apa yang kau inginkan…

Mata itu terus berkaca-kaca bahkan meneteskan airnya… kulihat keyakinannya begitu dalam… bahkan akupun belum sanggup untuk mampu menyelaminya… kulihat mama beranjak dari kursi untuk menuju kamarnya. Kemudian membaringkan tubuhnya dengan telungkup… aku hanya bisa terdiam… dan berjanji dalam hati bahwa akan segera kuajak mama untuk merasakan indahnya arti sebuah perjuangan….