Ayu

"Menulis itu indah, saat dapat menumpahkan setiap katanya berdasarkan alunan hati, bagiku....,,"

Selasa, 17 Februari 2015

Saat Jenuh Mengkudeta (Ala-alaVickinisasi)



Betapa tidak profesionalnya saya hari ini, bahkan di sela-sela KBM di kelas X TKJ 1 saya masih sempat menulis ini. Sebenarnya bukan masih sempat menulis tapi mungkin lebih tepat saya sempat-sempatkan menulis ini. Para siswa saya beri tugas untuk membuat sebuah dialog, menggunakan bahasa Inggris tentunya,  yang harus mereka tampilkan minggu depan. Akhir-akhir ini saya merasa sedang berada di titik terjenuh saya menjadi seorang guru. Tak ada lagi semangat mengajar seperti dulu. Tak ada lagi keinginan untuk bertemu dan berinteraksi dengan mereka, baik sebagai guru mata pelajaran ataupun sebagai wakasis.

Sepertinya jenuh ini benar-benar sedang mengkudeta hari-hariku saat ini (bahasa vickinisasi). Bertemu dengan orang-orang yang sama setiap hari. Bingung bagaimana menjelaskannya secara rinci dan agar tak terjadi salah pemahaman. Seperti ini, setiap hari saya bertemu dengan orang-orang cerdas tapi obrolannya hanya itu-itu saja. Belum lagi bertemu dengan orang yang saat berbicara lain di mulut lain di hati. Lalu bertemu dengan orang yang merasa dirinya paling berkuasa dan terkesan bertindak seenaknya terhadap orang-orang di bawahnya. Next, bertemu dengan dia yang mendiamkan saya hanya karena laki-laki yang dia suka bersahabat dengan saya. Saya juga bertemu dengan orang yang senang memberikan kritik beserta saran yang harus kita lakukan. Selanjutnya, saya bertemu dengan orang yang hanya menerima gaji tapi kurang mau bertanggung jawab terhadap tugasnya. “Eng, apakah dulu kamu sedikit banyak merasakan apa yang saya rasakan ini saat kamu berada di posisi saya saat itu?”. Huft.., sepertinya saya sedang mengeluh.

Dan sekarang saya ingat dengan apa yang saya sampaikan beberapa hari lalu kepada Pak Aris, atasan saya di Griya Belajar Sahabat. “Mengeluh itu hanya membuat masalah ataupun hidup terasa semakin berat.” Jadi, mulai detik ini saya akan berusaha untuk tidak mengeluh lagi. Lingkungan pekerjaan saya tak seburuk yang saya sampaikan di atas. Saya bertemu dengan murid-murid saya yang tak pernah bisa ditebak akan berlaku seperti apa saat di kelas. Saya bertemu dengan orang-orang yang selalu terlihat bahagia walaupun mungkin hatinya sedang susah. Saya bertemu dengan orang-orang yang bijaksana yang sering saya jadikan panutan. Saya bertemu dengan orang-orang yang sangat tegar dalam menjalani hidup. Saya bertemu dengan orang-orang yang sedang jatuh cinta dan tak pernah berani mengakuinya. Saya bertemu dengan orang-orang yang sedang berjuang mencari siapa cinta sejatinya. Dan saya bertemu dengan beberapa orang yang senasib dengan saya.

Oh God, ternyata hidup saya itu sebanarnya sangat menyenangkan, hanya saja akhir-akhir ini saya salah dalam memilih sisi dalam memandang hidup ini. J


Jumat, 06 Februari 2015

Tentang Hati


Katanya hati Ibarat Cermin
Namun bagaimana akan mengkilap
Jika digosok, Jiwa merasa sakit…
Jika Hati sebuah Ukiran Yang berharga
Proses panjang tentu harus dilalui
Sedikit demi sedikit diukir dengan pisau…
Hati yang Terpilih Ibarat sebuah Mutiara
Padahal Mutiara ada di dalamnya samudera
Rendah di kedalaman, dari tiada menjadi Perhiasan yang Indah…