Bismillah..,
Teruntuk Ibunda calon suamiku.., terima kasih telah
melahirkan seorang laki-laki hebat seperti putramu.
Perkenalkan, aku, perempuan biasa yang
menyayangi anak sholehmu.
Orang-orang
bilang aku berasal dari sebuah keluarga yang berantakan. Orang tuaku bercerai
pada saat aku masih bayi. Ibuku lebih memilih mundur dan memaksa ayahku untuk
kembali kepada istri pertamanya yang waktu itu sempat akan bunuh diri dengan
meminum racun tikus. Para saudara tiriku seperti menutup komunikasi denganku.
Berkali-kali aku mencoba menghubungi mereka, tapi hanya sekali mendapat
jawaban. Aku tidak meminta banyak kepada mereka, aku hanya ingin menjaga tali
persaudaraan kami. Itu saja.
Orang-orang
bilang aku akan tumbuh menjadi sesosok perempuan yang kurang kasih sayang dan
perhatian. Aku hanya dibesarkan oleh nenek dan ibuku, walaupun ibuku terpaksa
harus jarang berada di rumah untuk bekerja karena menjadi tulang punggung
keluarga. Aku dibesarkan tanpa peran seorang ayah kandung, sama sekali. Aku dibesarkan
di sebuah lingkungan perdesaan dan keluarga kami tergolong cukup miskin, tak
jarang almh nenekku hutang kesana kesini untuk sekedar membeli beras.
Teman-temanku
bilang, aku hanyalah anak haram yang tak pantas mendapat teman. Anak haram
membawa kesialan, katanya. Sempat aku menjadi seorang anak yang sangat pemarah.
Pun sempat aku menjadi seorang anak yang sangat tertutup.
Itu
adalah sebagian kecil dari masa laluku. Sekarang, aku dapat pastikan apa yang
dulu mereka sampaikan tak sesuai dengan apa yang aku rasakan. Perceraian tak
selamanya berarti berantakan. Pada saat itu, aku yakin Tuhan sedang memberikan
jalan yang terbaik bagi kedua orang tuaku. Hanya dibesarkan oleh seorang nenek
dan ibu, tak berarti aku kurang kasih sayang dan perhatian. Apa lagi yang aku
butuhkan pada saat itu selain hidup bersama dua perempuan hebat di dunia ini?
Dan, anak haram? Mana mungkin Tuhan menciptakan makhluk hidup dalam kondisi
haram? Tuhan Maha Baik.
Walaupun
sampai detik ini aku masih belum dapat berkomunikasi dengan saudara-saudara aku
di Jakarta, aku tidak pernah berpikir bahwa hubungan persaudaraan kami telah
atau akan berakhir. Aku percaya, saat ini mungkin Tuhan sedang memberi
kesempatan kepada kami untuk membahagiakan diri kami masing-masing terlebih
dahulu sebelum akhirnya nanti Tuhan akan menempatkan kami di sebuah tempat
dimana kami akan berbagi kebahagiaan bersama. Takdir Tuhan selalu manis bukan? J
Ibuku menikah lagi pada saat aku berada di kelas 3 SD. Aku mempunyai 3 adik di
rumah. Endi, saat ini dia masih kuliah. Tio, dia kelas 7 di sebuah SLB, dia
berkebutuhan khusus. Syifa, 3 tahun lalu keluarga kami mengadopsinya dan aku
sangat menyayanginya.
Di saat teman-teman seumuran aku menenteng
sebuah tas ala-ala ibu pejabat di salah satu tangannya, aku lebih suka
menggendong sebuah tas gemblok di punggungku. Di saat teman-teman seumuran aku
memakai high heels, aku terpaksa memakai sebuah sandal atau sepatu dengan
tinggi 3 cm karena aku tak mau terlihat sangat pendek, karena aku memang cukup
pendek. Dan dalam hati, aku hanya ingin memakai sepasang sandal swallow. Di saat teman-teman seumuran
aku memakai sebuah baju dengan model yang manis, aku lebih memilih memakai
celana jeans dengan atasan sweater atau kaos biasa lengan panjang. Akupun bukan
perempuan yang suka memoles wajah. Di saat teman-teman seumuran aku memakai
berbagai macam alat make up agar wajahnya terlihat lebih cantik, kulitnya
terlihat lebih putih dan halus, pipinya terlihat lebih merona, bulu matanya
terlihat lebih lentik, garis matanya terlihat lebih tegas, dan bibirnya
terlihat lebih seksi dengan beragam warna lipstick yang menurut aku mencolok,
aku lebih nyaman hanya menggunakan sebuah krim anti alergi karena wajah aku
sering gatal-gatal kalau terkena banyak debu dan terkena sinar matahari,
kemudian bedak tabur bayi yang sengaja aku taruh di sebuah tempat bedak agar
gampang ketika memakainya, dan terkadang aku memakai lip gloss, itupun sangat
jarang aku lakukan.
Dan, itu adalah sebagian dari aku yang sekarang.
Maaf jika aku terlalu lancang dan memalukan, tapi
seperti inilah aku yang mencintai putra sholehmu. Sunnguh, ini bukan kuasaku. Aku hanya menjalankan skenario
yang telah Tuhan siapkan.
Putramu adalah seorang pria yang mampu membuatku
percaya sesuatu hal yang sebelumnya aku anggap tidak mungkin.
Jangan takut, aku hadir bukan untuk merenggut
putramu dari dekapan kasihmu. Aku tidak bisa menjadi wanita terbaik untuk
anakmu, karena kau tetap menjadi wanita terbaik di hatinya. Aku ingin mnejadi
anakmu, agar tak pernah sekalipun kau merasa kehilangan putramu karena
kehadiranku. Aku ingin menjadi sahabatmu, agar kita bisa mencurahkan rasa. Aku
ingin menjadi rekanmu, agar kita bisa sama-sama mencintai laki-laki yang sama,
yaitu putramu.
Semoga Allah merahmatimu selalu. Aamiin.