Ayu

"Menulis itu indah, saat dapat menumpahkan setiap katanya berdasarkan alunan hati, bagiku....,,"

Senin, 25 Mei 2015

JANGAN PERGI, TETAPLAH DI SINI...

Sayang,
Tak ada yang berkata bahwa hubungan dua manusia bisa berjalan begitu mudahnya. Sebaliknya, ada dua isi kepala berbeda dan dua masa depan yang harus disatukan — dan proses ini bisa saja menyakitkan. Cinta memang membahagiakan, namun tak lantas mencegah perbedaan pendapat dan perselisihan.
Hubungan yang sudah berjalan lama akan memberi tantangan yang lebih besar lagi. Pasalnya, hubungan yang sudah sekian lama memang termasuk masa-masa rawan. Dalam “masa-masa rawan” ini, semua pasangan tak boleh sekali-kali lengah jika tak mau berhenti melangkah.
Begitu juga dengan kita. Aku di sini ingin berjuang agar hubungan kita bisa tetap memiliki masa depan. Semoga, kamu juga berpikiran sama.

Manusia diciptakan berpasang-pasangan, begitu pula aku dan kamu. Ada alasan kenapa kita menjalin cerita hingga sekarang. Ada alasan kenapa kita bertemu.

Sayang, maukah kau percaya bahwa selalu ada alasan kenapa kita dipertemukan. Tentu ini bukanlah suatu kebetulan. Semesta memang sudah mengatur dengan rapi bagaimana kita bisa bersua. Pertemuan singkat itu pun menorehkan guratan istimewa. Aku berani bersumpah, jantungku sempat kehilangan beberapa ketuk iramanya. Sebaliknya, paru-paruku lega luar biasa. Walau campur aduk rasanya, aku tahu aku bahagia.

Memang tak selamanya jalan yang kita lalui mulus seperti jalan yang baru diaspal. Terkadang kita akan goyah dihantam badai permasalahan.

Tentu saja hubungan kita tak mulus saja bagai meluncur di perosotan anak balita. Toh kita pasti akan jemu jika hubungan berdua hanya diisi hari bahagia yang lama-lama akan kehilangan keistimewaannya. Kita telah dewasa, tentu pasti ada kastanya. Level kita bukan lagi perosotan anak balita, kita naik jet coaster yang lebih menantang serta memang untuk orang dewasa. Kita sering merasa mabuk dan lelah dengan rutenya yang naik turun, namun bukankah disitu daya pikatnya? Karena kamu dan aku sama-sama merasa itulah candu dan bumbu bagi hubungan berdua.
Tengkar mulut dan lempar kata dengan sebal sering kita lewati.

Sudah banyak usaha yang kita keluarkan untuk hubungan ini. Jika kita memutuskan berhenti, perjuangan hebat itu tak akan banyak berarti

kita harus berjuang untuk menyeimbangkan langkah

Sudah banyak usaha yang kita keluarkan untuk hubungan ini. Jika kita memutuskan berhenti, perjuangan hebat itu tak akan banyak berarti

Sayang, masihkah kau ingat bagaimana kita sempat kelimpungan saat menyusun pondasi hubungan pertama kali? Aku tak pernah lupa bagaimana dulu kita saling menyesuaikan diri. Sama-sama mengempiskan ego agar tak jadi bumerang dalam hubungan. Aku dan kamu juga mulai saling menerima kelebihan yang juga hadir sepaket dengan kelemahannya.

Kenangan yang sudah kita kumpulkan juga kaya dan berwarna. Bukankah akan jadi percuma jika kita beranjak meninggalkannya?

Sudah ada berapa juta detik yang kita lewatkan untuk saling bertingkah bodoh? Urat malu kita sudah putus jika di hadapan satu sama lain. Tak ada pula kecanggungan yang turut serta. Sungguh, yang ada hanya rasa nyaman dan ketenangan yang dalam di sana. Kau pasti tahu, momen ini tak akan bisa kumiliki dengan pria lainnya.

Sungguh, aku lelah jika harus mengurai jalinan ini dan harus menambatkannya ke dermaga yang lainnya. Aku tak sanggup lagi jika harus mencari penggantimu dan memulai hubungan cinta yang baru. Sayang, sungguh kita tak boleh lelah berusaha. Kita tak boleh memilih menyerah, karena itu sungguh terlalu mudah.
Jika saat ini kamu begitu dibelit jengah dan ingin beristirahat sejenak, tentu tidak masalah. Kamu boleh mengambil sebanyak apapun waktu yang kamu butuhkan. Aku akan sabar menunggu sembari terus menerus membisikkan harapanku. Dan semoga angin menyampaikan pesanku.
Sayang, aku mohon jangan pernah pergi, tetaplah di sini, dan ingatkan aku bahwa semuanya akan baik-baik saja.

Kamis, 21 Mei 2015

Tak Sadarkah Kau Akan Diamku Yang Kini Jadi Tameng Pilu?




Boleh saja di matamu aku terlihat sebagai sesosok perempuan yang menyebalkan, keras kepala, dan egois. Tapi indraku tak pernah tumpul dalam mengamati. Kadang aku bertanya, tak sadarkah kamu bahwa ada luka di hati orang yang tengah berusaha menjadi pendamping hidupmu kelak? Tak bergetarkah perasaanmu waktu aku memilih menyimpan perih yang kian meranggas di sana?

Kini, dalam diam, kau berusaha aku pahami kembali.

Mudah saja aku meradang untuk memaksamu mengerti apa yang ada di hati ini, tapi itu tidak pernah berhasil bukan? Tak pernah ada indah setelah itu.

Kalau ada sesuatu yang tidak kamu suka, bilang saja padaku. Bagimana aku bisa tahu kalau perasaanmu hanya disimpan d hati saja?

Dulu, kau selalu berpendapat kalau ada sesuatu yang membuatku resah katakan saja. Tanpa aku menyatakan, kau tidak akan pernah tahu.  Aku tahu tidak adil menyalahkanmu di tengah kesibukanmu yang luar biasa. Aku tidak ingin memaksamu berubah, hanya untuk menjaga agar hatiku tak pindah. Tak tepat rasanya membuat hubungan kita menjadi sebuah kerangkeng yang membuat kita lelah. Jika pun kau berubah, bukan sebab aku yang ingin mengubah arah langkahmu, tapi atas kesadaran hatimu untuk kembali menjaga hatiku.


Sudah lelah rasanya kepalaku dipenuhi pertanyaan-pertanyaan itu. Kini aku hanya ingin diam sembari meluruskan pikiran dan perasaan.

Maafkan aku yang mungkin berpikir terlalu cetek, tapi sikapmu akhir-akhir ini membuatku tak percaya diri, tak percaya pada diriku sendiri. Dengan diamku, aku tak ingin lagi menunjukan apa yang tengah aku pikir dan rasakan seperti beberapa waktu yang lalu. Aku yakin kamu sudah cukup dewasa untuk membaca apa yang kini tengah terjadi diantara kita.

Dalam diamku, aku yakin cinta akan menemukan jalannya sendiri. Aku yang masih percaya kau mampu mengerti apa yang ku rasa di tengah kesibukanmu.

Kata berpisah tak pernah sedikitpun terlintas di kepala. Di luar sikapmu akhir-akhir ini, kau tetap pria terbaik yang pernah aku temui. Bersamamu, aku menemukan dunia yang ku cari selama ini. 

Kesayanganku, dalam diam aku selalu percaya ini hanyalah gejolak mudamu yang belum terlalu paham bagaimana menjaga hati, pun ini adalah pikiran liarku yang belum bisa aku kendalikan.







Rabu, 13 Mei 2015

Mama., Sabar Ya.., Insya Allah Aku Akan Segera Membawa Pria Pilihanku Untuk Meminta Restumu


                Ma.., aku tau engkau sudah mulai khawatir denganku. Di usiaku yang kini memasuki 26 tahun, di saat teman-teman sebayaku sudah menggendong bayinya, aku masih betah melajang. Aku tahu engkau sudah tak sabar menggelar hajatan pernikahanku, akupun sebenarnya sudah ingin sekali membawa seorang pria yang kelak menjadi imamku ke hadapan Mama dan Papa. Tapi tidak sekarang Ma. Sabar sebentar ya Ma., secepatnya aku pasti akan membawa seorang pria pilihan hatiku untuk meminta restu Mama dan Papa.

Doakan aku ya Ma., agar semua yang aku jalani saat ini, mendekatkan aku dengan sang tambatan hati yang kelak membimbingku hingga ke surga nanti.

                Mama tak perlu khawatir seperti tetangga sebelah yang mengatakan bahwa aku akan menjadi perawan tua. In fact, aku masih tergolong muda kan Ma?  Masih banyak hal yang ingin aku rasakan sebelum nantinya aku menjadi seorang istri yang Insya Allah baik untuk suamiku. Aku bukan sedang betah melajang Ma, akupun sebenarnya ingin sekali menjadi seorang istri bagi pria yang menjadi pilihan hatiku, tapi sekali lagi Ma, mungkin sekarang belum saatnya.

                Mama tak perlu resah saat melihatku melakukan apapun seorang diri. Percayalah, gadis kecilmu ini sudah tumbuh menjadi wanita yang mandiri.


                 Gadis kecil yang dulu Mama nina bobo kan, sekarang sudah menjadi seorang wanita mandiri. Dan aku yakin Mama tahu bahwa aku belajar mandiri dari siapa., dari Mama. Mama selalu mengajarkan aku untuk tidak bergantung dengan orang lain. Dan, seperti inilah aku yang sekarang. Bukan aku tidak butuh orang lain Ma, tapi aku berusaha untuk tidak merepotkan orang lain. Meskipun seperti itu, aku tidak lupa dengan kodratku sebagai seorang wanita, aku masih tetap mendambakan seorang pria bertakwa dan bijaksana untuk menjadi pelindungku.

                Aku tak pernah berhenti meminta kepada Tuhan untuk menyatukan aku dan calon suamiku dalam sebuah mahligai rumah tangga yang sakinah, mawadah, dan warohmah. Tapi mungkin Tuhan masih menunggu waktu yang tepat untuk itu. Aku tidak akan memaksa Tuhan, Ma. Kita semua yakin bahwa Tuhan tidak akan pernah salah.

                Percayalah Ma., suatu saat aku akan membawa pria pilihan hatiku yang akan menggantikan tugasmu untuk menjagaku di hadapanmu, dan meminta restu Mama dan Papa.

                Aku  sudah berusaha Ma.., maka sekarang biarkan tangan Tuhan yang bekerja.