Boleh saja di matamu aku terlihat sebagai
sesosok perempuan yang menyebalkan, keras kepala, dan egois. Tapi indraku tak
pernah tumpul dalam mengamati. Kadang aku bertanya, tak sadarkah kamu bahwa ada
luka di hati orang yang tengah berusaha menjadi pendamping hidupmu kelak? Tak
bergetarkah perasaanmu waktu aku memilih menyimpan perih yang kian meranggas di
sana?
Kini, dalam diam, kau berusaha aku pahami
kembali.
Mudah saja aku meradang untuk memaksamu
mengerti apa yang ada di hati ini, tapi itu tidak pernah berhasil bukan? Tak
pernah ada indah setelah itu.
Kalau ada sesuatu yang tidak kamu suka, bilang
saja padaku. Bagimana aku bisa tahu kalau perasaanmu hanya disimpan d hati
saja?
Dulu, kau selalu berpendapat kalau ada sesuatu
yang membuatku resah katakan saja. Tanpa aku menyatakan, kau tidak akan pernah
tahu. Aku tahu tidak adil menyalahkanmu
di tengah kesibukanmu yang luar biasa. Aku tidak ingin memaksamu berubah, hanya
untuk menjaga agar hatiku tak pindah. Tak tepat rasanya membuat hubungan kita
menjadi sebuah kerangkeng yang membuat kita lelah. Jika pun kau berubah, bukan
sebab aku yang ingin mengubah arah langkahmu, tapi atas kesadaran hatimu untuk
kembali menjaga hatiku.
Sudah
lelah rasanya kepalaku dipenuhi pertanyaan-pertanyaan itu. Kini aku hanya ingin
diam sembari meluruskan pikiran dan perasaan.
Maafkan aku yang mungkin berpikir terlalu
cetek, tapi sikapmu akhir-akhir ini membuatku tak percaya diri, tak percaya
pada diriku sendiri. Dengan diamku, aku tak ingin lagi menunjukan apa yang
tengah aku pikir dan rasakan seperti beberapa waktu yang lalu. Aku yakin kamu
sudah cukup dewasa untuk membaca apa yang kini tengah terjadi diantara kita.
Dalam diamku, aku yakin cinta akan menemukan
jalannya sendiri. Aku yang masih percaya kau mampu mengerti apa yang ku rasa di
tengah kesibukanmu.
Kata berpisah tak pernah sedikitpun terlintas
di kepala. Di luar sikapmu akhir-akhir ini, kau tetap pria terbaik yang pernah
aku temui. Bersamamu, aku menemukan dunia yang ku cari selama ini.
Kesayanganku, dalam diam aku selalu percaya
ini hanyalah gejolak mudamu yang belum terlalu paham bagaimana menjaga hati,
pun ini adalah pikiran liarku yang belum bisa aku kendalikan.



Tidak ada komentar:
Posting Komentar