Ayu

"Menulis itu indah, saat dapat menumpahkan setiap katanya berdasarkan alunan hati, bagiku....,,"

Kamis, 21 Mei 2015

Tak Sadarkah Kau Akan Diamku Yang Kini Jadi Tameng Pilu?




Boleh saja di matamu aku terlihat sebagai sesosok perempuan yang menyebalkan, keras kepala, dan egois. Tapi indraku tak pernah tumpul dalam mengamati. Kadang aku bertanya, tak sadarkah kamu bahwa ada luka di hati orang yang tengah berusaha menjadi pendamping hidupmu kelak? Tak bergetarkah perasaanmu waktu aku memilih menyimpan perih yang kian meranggas di sana?

Kini, dalam diam, kau berusaha aku pahami kembali.

Mudah saja aku meradang untuk memaksamu mengerti apa yang ada di hati ini, tapi itu tidak pernah berhasil bukan? Tak pernah ada indah setelah itu.

Kalau ada sesuatu yang tidak kamu suka, bilang saja padaku. Bagimana aku bisa tahu kalau perasaanmu hanya disimpan d hati saja?

Dulu, kau selalu berpendapat kalau ada sesuatu yang membuatku resah katakan saja. Tanpa aku menyatakan, kau tidak akan pernah tahu.  Aku tahu tidak adil menyalahkanmu di tengah kesibukanmu yang luar biasa. Aku tidak ingin memaksamu berubah, hanya untuk menjaga agar hatiku tak pindah. Tak tepat rasanya membuat hubungan kita menjadi sebuah kerangkeng yang membuat kita lelah. Jika pun kau berubah, bukan sebab aku yang ingin mengubah arah langkahmu, tapi atas kesadaran hatimu untuk kembali menjaga hatiku.


Sudah lelah rasanya kepalaku dipenuhi pertanyaan-pertanyaan itu. Kini aku hanya ingin diam sembari meluruskan pikiran dan perasaan.

Maafkan aku yang mungkin berpikir terlalu cetek, tapi sikapmu akhir-akhir ini membuatku tak percaya diri, tak percaya pada diriku sendiri. Dengan diamku, aku tak ingin lagi menunjukan apa yang tengah aku pikir dan rasakan seperti beberapa waktu yang lalu. Aku yakin kamu sudah cukup dewasa untuk membaca apa yang kini tengah terjadi diantara kita.

Dalam diamku, aku yakin cinta akan menemukan jalannya sendiri. Aku yang masih percaya kau mampu mengerti apa yang ku rasa di tengah kesibukanmu.

Kata berpisah tak pernah sedikitpun terlintas di kepala. Di luar sikapmu akhir-akhir ini, kau tetap pria terbaik yang pernah aku temui. Bersamamu, aku menemukan dunia yang ku cari selama ini. 

Kesayanganku, dalam diam aku selalu percaya ini hanyalah gejolak mudamu yang belum terlalu paham bagaimana menjaga hati, pun ini adalah pikiran liarku yang belum bisa aku kendalikan.







Tidak ada komentar:

Posting Komentar