Ayu

"Menulis itu indah, saat dapat menumpahkan setiap katanya berdasarkan alunan hati, bagiku....,,"

Minggu, 31 Agustus 2014

My Teacher's Diary 1


Ini adalah tentang mereka yang sebenarnya tak bermasalah tetapi terlihat sedang ada masalah. Akupun sebenarnya bingung menghadapi kedua kelas itu. Kelas XII TKJ 1 dengan kelas XII TKJ 2, dan saya adalah wali kelas dari kelas XII TKJ 1. Sungguh pemandangan yang sangat tidak mengenakan saat melihat kedua kelas itu saling menyindir satu sama lain. Saya berbicara disini diluar sebagai wali kelas dari salah satu kelas tersebut. Saya berbicara di sini sebagai pihak yang netral. Di sini saya hanyalah seorang penonton. Iya penonton, penonton yang sangat ingin melihat ending yang bahagia dan membahagiakan bagi kedua kelas tersebut dan bagi saya sebagai seorang penonton.

Minggu, 24 Agustus 2014

Satu detik

 

Kalau saja hidup tak berevolusi

Kalau saja sebuah momen dapat selamanya menjadi fosil

Kalau saja kekuatan kosmik mampu stagnan di satu titik

Maka tanpa ragu kamu akan memilih 

Satu detik bersamanya untuk diabadikan

Cukup satu

Satu detik 

Yang segenap keberadaannya

Dipersembahkan untuk bersamamu

Dan bukan dengan ribuan hal lain

Yang menanti untuk dilirik

Pada detik berikutnya


Betapa kamu rela membatu untuk itu

Jumat, 15 Agustus 2014

RENGGANG...???


Harus memulai dari kata apa dan bagaimana???
Tetapi memang hanya ada beberapa kata tentang teman. Kenapa harus teman??
Teman itu bukan sesosok yang spesial.. tapi hanya sebuah pelengkap bukan??
Tetapi,, temanlah yang selalu ada buat kita,,,,
Bagaimana dengan kisah ini? Kisah dimana pertemanan bisa renggang hanya karena satu penyebab dan salah paham??
Apa solusinya????
Kenapa bisa renggang seperti ini??
Sampai harus menjauh?
Menjauh dan dijauhi itu sakit.. :(
Bagaimana jika kamu dijauhi oleh semua teman hanya karena masalah sepele yang kamu pun tak tau apa sebabnya???
Merasa dipojokkan, lalu meyendiri,, itu sakit broh sakiiit :”(
Bukankah sebagai teman kita harus saling mengingatkan?
Bukankah seharusnya kita lebih menyatu?? Lebih mengutamakan kebersamaan kita,,
Menikmati kebahagiaaan kita, menikmati sisa-sisa waktu bersama sebelum kita nanti akan berpisah,,,,beberapa tahun lagi kita mungkin sudah tidak bisa tertawa bersama, beberapa tahun lagi mungkin kita akan terpisah jarak, beberapa tahun lagi mungkin kita akan sibuk dengan pasangan hidup kita masing-masing...,, :(
Dan semoga pertemanan kita bisa kembali hangat seperti dahulu.

Kamis, 14 Agustus 2014

TEMAN


Teman adalah malaikat yang mengangkat kita ke atas kaki kita, saat sayap kita bermasalah untuk mengingat bagaimana caranya terbang.

Rabu, 13 Agustus 2014

Sudahlah..,,


Sudah lah sudah..,, kenapa sih kalian masih terus saja membicarakan aib orang lain? Tidakkah kalian merasa bahwa kalianpun sama buruknya dengan mereka? Oh Tuhan..,, maafkan aku karena saat ini akupun merasa sama seperti mereka. Aku hanya tak habis pikir dengan orang-orang itu. Apakah mereka sudah tergolong orang-orang yang munafik? Baik di depan dan buruk di belakang. Hahaha.., perempuan macam apa aku ini? Mengkritik mereka tapi akupun seperti mereka. Oh Good...,, ampuni aku.

Jumat, 08 Agustus 2014

JILBOOBS - Seksi karena masih ingin dikagumi pria



Berjilbab kini menjadi tren baru bagi kaum remaja.
Selain melihat sekelompok artis yang mulai gandrung memakainya, pengggunaan jilbab kini dianggap lebih praktis dan mudah.
Munculah tren berjilbab tapi masih berbusana ketat yang menonjolkan lekuk tubuh.

Kini muncul istilah Jilboobs, sindiran untuk mereka yang berjilbab tapi memperlihatkan aurat.

Sosiolog UIN Syarif Hidayatullah menyebut rata-rata pemakai jilbab seperti ini baru belajar memakai jilbab.
_"Remaja itu sangat gandrung fashion, dan kreatif. Jadi kreatif itu sendiri melihat tren pakai jilbab tengah menjadi tren, artis-artis lain pakai,"_kata Musni saat berbincang dengan merdeka.com.

Walau sudah memakai hijab, namun banyak di antaranya yang ingin tetap menonjolkan bagian-bagian yang dianggap memiliki kelebihan.
Hal itulah yang kemudian membuat remaja perempuan masih memilih pakaian-pakaian ketat.

"Kemudian sisi-sisi erotis tetap ditonjolkan untuk menarik perhatian lawan jenis. Ini terjadi di kota-kota besar di tengah kebebasan berekspresi, memakai pakaian modis dari berbagai jenis muncul kreasi-kreasi baru," tandasnya.

Dengan berjalannya waktu, pakaian hijab yang dikenakan kaum remaja ini mendapat protes keras dari penganut konvensional.
Mereka berpandangan, jilbab seharusnya dipakai untuk menutup aurat, bukan sekedar pakaian modis atau menarik perhatian lawan jenis.
Musni pun berharap para pengguna Jilboobs memperbaiki gaya busana sesuai syari.

Sobat2 wanita ...Sebaiknya kita kaum wanita tidak menonjolkan hal-hal yang bisa memancing birahi dari laki-laki,,,SETUJU ??

PAGI


Ketika barisan awan di semenanjung Utara bergerak pelan, matahari mungkin sudah merias dirinya di ufuk Barat. Tapi, keduanya tak berharap akan menghangatkan pagimu dengan senyuman, tidak, mereka hanya bertasbih dan sujudkan kuasanya pada Cinta.

Mungkin kau berpikir, malam terlalu pekat dan disana terbaring jasad-jasad lemah yang membusuk karena patah asa. Kesombonganmu hanyalah gula darah. Tak lebih dari itu meski sedikit pun. Masih terlalu gelap untukmu bermuram, bahkan kau pun tak tahu apa esok masih ada.

Bangunlah, kau masih punya hak untuk berharap. Bukan karena tak dikabulkan doamu yang lalu maka kau merasa ditepikan Cinta, tapi bangun dan berharaplah karena kau terlahir untuk bahagia. Pagi tidak pernah memaksakan dirinya untuk cerah, ia hanya menyiapkan sebaik mungkin hamparan harap untuk anak-anak Adam berkelana. Sepertimu, berjalanlah. Awan dan matahari akan menemanimu hingga di cakrawala senja. Kau tak sendiri, bukan?

Sekarang mungkin kau hanya sebatang kayu kering. Rapuh dan mudah patah. Tapi darinya akan kau bakar dunia dengan asa yang lebih hebat. Bangun dan berlarilah, pagi tak kan menunggumu. Jemput harapan yang kau sisipkan di sayap rembulan. Bangunlah sebelum harapan itu terlalu sesak dan tak ada tempat untukmu mengeluh.

Pagi tak kan menunggumu.

MULAI MENGGEMANYA LONCENG KEHANCURAN PENDIDIKAN DI INDONESIA



“Mulai menggemanya lonceng kehancuran pendidikan di Indonesia”. Sebuah kalimat yang cukup membuat saya penasaran apa yang sebenarnya terjadi dengan pendidikan di Indonesia saat ini. Bagaimana mungkin pendidikan di Indonesia hancur sedangkan perbaikan dan pengembangan kurikulum selalu dilaksanakana oleh pemerintah setiap waktunya. Bagaimana mungkin pendidikan di Indonesia bisa hancur sedangkan pemerintah selalu memperbaiki fasilitas sekolah? Bagaimana mungkin pendidikan di Indonesia bisa hancur sedangkan standar pengajarnya saja selalu dinaikan setiap waktu. Dulu ada banyak orang yang background pendidikannya hanya SMA, bahkan SMP bisa menjadi seorang pengajar. Dan kini pemerintah telah membuat peraturan bahwa seorang guru harus minimal mempunya dasar pendidikan S1 sesuai bidang yang diajarkannya, dilanjutkan dengan pendidikan satu tahun jurusan Profesi Pendidikan sebagai syarat mengajar. Itu berarti kualitas pengajar di Indonesia semakin hari semakin baik secara teori. Iya, secara teori. Mengapa secara teori? Karena itu memang hanya sebuah teori dan pada kenyataannya banyak teori yang gagal saat diterapkan ke dalam kehidupan nyata. Menurut saya, inti dari sebuah pendidikan formal di sekolah adalah KBM (Kegiatan Belajar Mengajar). Dalam pelaksanaan KBM, ada dua unsur penting yang saling berkaitan; pengajar dan siswa. Dalam hal ini, pengajar mempunyai peranan yang sangat penting dalam kelancaran suatu KBM. Berdasarkan pengalaman saya mengajar di salah satu sekolah di Banyumas, ada beberapa pengajar yang sebenarnya kurang memenuhi syarat untuk mengajar tetapi diberi tugas untuk mengajar. Hasilnya memang tergantung dari pengajar itu sendiri. Ada beberapa yang bisa menjalankan tugasnya dengan baik tapi ada banyak dari mereka yang seakan menganggap KBM adalah suatu hal yang bisa mereka manfaatkan sebagai lahan untuk mencari uang dan materi pelajaran yang mereka sampaikan kepada murid pun tidak jelas karena memang bukan bidangnya, sehingga proses KBM pun menjadi terganggu.  Yang lebih membuat miris adalah saat ada pengajar yang sudah memenuhi syarat sebagai pengajar tetapi tidak pantas disebut sebagai pengajar. Mengapa? Mereka sudah memenuhi syarat administrasi mengajar tetapi mereka tidak bisa memainkan perannya sebagai pengajar sesuai tuntutan seorang pengajar. Bagaimana mungkin seorang pengajar mampu mengajari murid mereka untuk dispilin sedangan mereka saja tidak disiplin? Bagaimana mungkin seorang pengajar mengajarkan bahaya merokok sedangkan mereka sendiri merokok di depan murid? Bagaimana mungkin seorang pengajar dengan santainya masuk ke dalam kelas tanpa tau materi apa yang akan mereka sampaikan kepada murid-muridnya nanti? Apakah yang seperti itu masih pantas disebut sebagai pengajar? Saya rasa tidak. Sebelum seorang pengajar mengajari murid, mereka harus sudah berhasil mengajari dirinya sendiri dengan baik. Lalu, di dalam KBM ada unsur kedua yaitu murid. Murid juga bukan hal yang tidak penting dalam proses KBM. Tanpa ada murid, proses KBM tidak akan berlangsung. Pada kenyataannya, ada banyak murid yang kurang mempunyai sopan santun yang baik, baik kepada pengajar maupun kepada sesama temannya. Banyak murid yang kini terjerumus ke dalam kebiasaan yang tidak baik; seperti merorok, mabuk, narkoba, bahkan free sex. Kalau sudah seperti ini siapa yang harus disalahkan? Apakah guru? Apakah orang tua? Atau apakah murid itu sendiri? Entahlah. Yang pasti itu benar-benar terjadi di dalam dunia pendidikan kita saat ini. Mungkin ini adalah sebagian kecil makna dari kalimat “Mulai menggemanya lonceng kehancuran pendidikan di Indonesia.”

Kamis, 07 Agustus 2014

Tak Harus Memiliki

i


Kehidupan tak selalu berjalan dengan lancar, dan kita semua tahu tentang itu. Namun kadang kita akan selalu menuntut agar hidup selalu seperti apa yang kita mau, segala hal harus berjalan dengan apa yang sudah kita rencanakan. Jodoh, rejeki atau apapun itu. Satu hal yang tentu saja akan aku bahas kali ini adalah tentang cinta yang tak harus dimiliki.
Sebagian dari kita tentu sudah sering mendengar bahwa tak selamanya cinta bisa kita miliki, tapi bagaimana kita meyakini bahwa kita memang tak harus memiliki cinta itu, dengan konsekuensi rasa sakit yang tentu saja akan terus menggerogoti hati. Suatu hari, aku bertemu dengan sahabatku, seorang lelaki yang penuh dengan keyakinan, seorang pencinta yang penuh dengan harapan. Hari itu ia terlihat murung, lalu kemudian dia berkata:
“Entah kenapa aku merasa sesak, seperti dimasukkan ke celah yang menghimpit tubuhku, sementara di luar sana orang-orang tersenyum merajut impian mereka. Aku merasa ada di dalam kotak yang ditutupi kain tanpa mereka sadari bahwa aku masih bisa melihat apa yang mereka lakukan.”
Kemudian aku bertanya kepadanya hingga kami berdialog cukup lama,
“Apa yang membuatmu merasa seperti itu?”
“Aku mencintai perempuan, sangat mencintainya. Tapi sepertinya tak mungkin memiliki. Dalam hidup, aku merasa seperti patung hiasan yang elok namun tak terlihat, aku diciptakan penuh keindahan tapi bukan untuk dinikmati.”
“Hey, kau bisa mencintai perempuan lain bukan?”
“Kawan, bagaimana mungkin kau berkata seperti itu? Aku telah mencintainya sepenuh hatiku, lalu bagian hati manakah yang mampu kuberikan untuk perempuan lain?”
“Musim akan berganti, maka biarkan berlalu, mungkin esok kau akan menemukan perempuan yang tepat untukmu.”
“Aku merasa akan mati dalam kesendirian sebagai lelaki tua yang tak berarti. Aku tak ingin mati seperti itu.”
Sahabatku kemudian tertunduk dan aku hanya mampu menghela nafas. Ya, kadang kita memang tak selalu mendapatkan apa yang kita inginkan dalam hidup. Cinta, salah satu diantaranya. Lalu bagaimana kita harus bersikap dan memahaminya?
Kehidupan tak menuntut kita untuk memenangkan suatu hal, terkadang kita hanya harus membiarkan sesuatu terjadi begitu saja. Seperti halnya cinta, terkadang kita hanya diminta untuk merasakannya, bukan memilikinya. Ada kalanya dimana kita hanya mampu untuk merasakan cinta terhadap sesorang, sehebat apapun usaha kita, tetap saja kita tak mampu memilikinya. Tuhan menempatkan kita pada posisi itu bukan karena sekedar untuk sebuah permainan saja, Ia selalu berkehendak untuk sebuah hal besar yang kadang tak mampu kita sadari maknanya.
Tak semua hal harus dimiliki, karena kadang kita hanya diminta untuk merasakannya. Pahami itu lalu tersenyumlah, karena esok masih ada matahari, begitu juga rasa di hati. Langkahkan kakimu lalu sambut cinta barumu, ia ada ditaman-taman hati yang belum kau jumpai.

Rabu, 06 Agustus 2014

Perempuan

Mereka bertanya kepadaku tentang perempuan yang membuat takjub tiap mata yang menyapanya, perempuan yang meneduhkan hati pencintanya, perempuan yang meleburkan degup jantung dalam tungku harap.

Dia, perempuan
yang menari dalam rintik cahaya.

Oase gurun hati

Dia, penuntun
yang menjadi arah
musafir kembali kerumahnya.

Dia, sebuah alasan
kenapa matahari masih terbit
dan bulan bercahaya dalam hati

Lalu mereka hanya terdiam ketika perempuan itu membuka hatinya. Tidak, tak ada apapun disana. Mereka berharap akan ada nama, penghuni hati yang paling beruntung hanya tuk sekedar pernah ada dan tergurat di hatinya.

Wahai, yang membutakan mata kami
kenapa tak ada siapa pun selain gurat waktu
di hatimu

Sedang kami, relakan jasad dan jiwa
untuk bersemayam dan bertasbih
di hatimu.

Perempuan itu tersenyum hingga lalu tak ada siapa pun yang mampu mengatupkan mata dan bibirnya.

Ketulusan yang menjadikanku
mengerti akan hakekat cinta
Penghuni hatiku adalah dia
yang menundukkan nafsunya
yang melumpuhkan emosinya
yang menyatu dalam cahayaNya.

Perlahan sebuah guratan muncul, satu huruf, lalu huruf berikutnya, dan kemudian huruf yang merangkai sendirinya.




HUJAN


Hujan tidak datang ketika awan berwarna putih. Hujan datang dari awan hitam. Hujan datang memberi kesejukan, ketenangan, dan kedaimaian. Hujan adalah terkabulnya doa bahagia dari alam. Jadi, jika kau merasa hidupmu dalam kepenatan, masalah, ataupun kegelisahan, ingatlah bahwa hujan datang dari awan yang hitam, bahkan sering diiringi petir menakutkan yang menggelegar.