Ayu

"Menulis itu indah, saat dapat menumpahkan setiap katanya berdasarkan alunan hati, bagiku....,,"

Senin, 16 Maret 2015

Pria Itu..,




Kali ini saya diberi kesempatan oleh Tuhan untuk mengenal sesosok pria yang terkadang saya pikir dia bukanlah pria yang sebenarnya. Tapi itu hanyalah sisi lain dari pikiran saya. Kenyataannya dia mengaku sebagai seorang pria yang tahu banyak hal, termasuk tentang status keperawanan seseorang dilihat dari mana sayapun tidak tahu. Dia dengan mudahnya mengatakan bahwa si A sudah tidak perawan si B masih perawan dan ketika saya tanya darimana dia tahu hal itu dia hanya menjawab terlihat saja dari tampilan fisiknya. Huft..,sulit dipercaya oleh akal sehat saya bahwa di bumi ini ada seorang makhluk semacam itu. Saya mengenalnya di salah satu tempat kerja saya. Bukan, dia tidak bekerja di sana. Yang saya tahu dia hanya bermain atau sekedar menghabiskan waktu di sana. Dia adalah satu-satunya pria ter-kepo dan ter-sok tahu yang pernah saya temui di dunia ini. Dan saya berharap tak bertemu yang semacam itu lagi dalam hidup saya. Saya tidak membencinya, sama sekali tidak membenci dia. Justru di satu sisi saya berterima kasih karena dia telah menunjukan kepada saya bahwa dunia ini berisi beraneka ragam sifat manusia.
Seperti halnya makhluk hidup lain, pria inipun mempunyai sisi baik dan sisi buruknya. Tidak, saya tidak bermaksud membuka aibnya, saya hanya sedang belajar menerima apa yang ada pada dirinya. Karena tidak dapat dipungkiri, terkadang saya risih dengan sikap dan kata-katanya. Dia yang selalu bertanya sudah gajian apa belum kepada saya dan rekan-rekan saya, kemudian tertawa terbahak-bahak saat tahu kami belum gajian. Dan tak segan-segan diapun membicarakan tentang kesusahan temannya yang tak lain adalah pemilik tempat saya bekerja. Di situ saya berpikir apa sih tujuan dia menceritakan hal seperti itu kepada kami? Hmm.., mungkin itu adalah salah satu cara dia agar kami maklum dengan kondisi keterlambatan gaji kami. Tapi pikiran itu tidak bertahan lama di kepala saya. Di depan kami dia berkata sambil tertawa bahwa gaji kami akan dipending selama tiga bulan berdasarkan pengamatan dia terhadapa boss kami yang saat itu sedang mengalami ujian dalam bidang finansial. Kemudian dia berbicara banyak hal mengenai pikiran-pikiran dan pendapatnya tentang apa yang terjadi terhadap boss kami. Yang saya tangkap di sini adalah dia merasa lebih tahu sebuah permasalahan daripada yang sedang menjalaninya dan diapun merasa tahu solusinya, tapi pada kenyataannya dia tidak bisa membantunya. Dan yang membuat saya heran adalah suatu waktu dia mengatakan bahwa dia senang saat kami terlambat mendapatkan gaji karena itu berarti dia ada temannya. Entahlah apa maksudnya itu.
Hampir setiap saya datang ke tempat kerja dia selalu ada disana. Karena sering bertemu, saya dan rekan-rekan kerjapun menjadi akrab dengan dia. Dari keakraban itu dia mulai bertanya terhadap hal-hal pribadi kami lalu menilai kami seenak jidatnya. Dia banyak bercerita tentang pengetahuannya terhadap dunia malam. Suatu waktu dia mengetahui bahwa saya pernah masuk ke dalam gedung bioskop. Yang namanya ke gedung bioskop ya sudah pasti tujuan saya adalah menonton film. Tapi tidak dengan apa yang ada di pikirannya. Saat itu saya menganggap dia hanya bercanda. Kemudian, salah satu rekan saya bercerita bahwa dia mempunyai free pass untuk berkaraoke dan dia mengajak kami semua yang ada di situ untuk berkaraoke. Kemudia dia bertanya kepada kami apakah kami sudah pernah berkaraoke sebelumnya. Beberapa dari kami pun  menjawab pernah pergi ke tempat karaoke, termasuk saya, karena memang saya pernah berkaraoke bersama keluarga saya dan teman-teman saya. Kembali dia berpikir hal yang buruk terhadap kami. Yang dia tangkap dari sebuah tempat karaoke adalah pemandu lagu. Padahal saya sendiripun tidak pernah tahu bagaimana menjadi seorang pemandu lagu ataupun menyewa jasa pemandu lagu. Nyanyi ya nyanyi saja, sama mama, papa, saudara, dan kalau ada rekan kerja yang ulang tahun ya biasanya ditraktir mereka, lalu semua karyawan di kantor yang hadir dan mempunyai waktu luang saat itu pasti ikut. 
Dia. Diapun mulai berani bertanya tentang kedekatan kami bersama pacar-pacar kami (bagi yang mempunyai pacar). Mulai dari pacarannya dimana, ngapain aja dan seterusnya, kemudian seperti biasa dia mulai memberi penilaian terhadap kami. Terkadang bukan penilaian sih yang saya tangkap, melainkan lebih kepada menuduh. Setelah tahu dia akan meminta kami untuk membandingkannya dengan dia. Benar-benar obrolan yang tak berisi.
Pertanyaan-pertanyaan yang menurut saya tak selayaknya dia tanyakan terus saja keluar dari mulutnya. Pikiran-pikiran kotornyapun mengalir menjadi respon setiap jawaban-jawaban kami dari apa yang dia tanyakan. Prediksi-prediksi tidak pasti terus saja terlontar membuat sakit telinga saya. Keingintahuannya yang berlebih dan tak berbobot saya rasa telah melebihi batasnya sebagai seorang pria. Membuat dia terlihat lebih cerewet dari para wanita. Membuat dia terlihat lebih senang bergosip dari selayaknya wanita.
Btw, dia tidak seburuk itu. Salah satu sifat baiknya menurut saya dan rekan-rekan kerja saya di sini adalah dia sering mentraktir kami jajan di warung depan tempat kami bekerja. Walaupun dia pernah ngumpet saat salah seorang dari kami terlanjur memanggil tukang es keliling karena tidak mau membayarkannya padahal sebelumnya dia sendiri yang menawarkan. He is nice enough, dengan segala kekurangan dan kelebihannya. J



Tidak ada komentar:

Posting Komentar