Kali
ini saya diberi kesempatan oleh Tuhan untuk mengenal sesosok pria yang
terkadang saya pikir dia bukanlah pria yang sebenarnya. Tapi itu hanyalah sisi
lain dari pikiran saya. Kenyataannya dia mengaku sebagai seorang pria yang tahu
banyak hal, termasuk tentang status keperawanan seseorang dilihat dari mana
sayapun tidak tahu. Dia dengan mudahnya mengatakan bahwa si A sudah tidak
perawan si B masih perawan dan ketika saya tanya darimana dia tahu hal itu dia
hanya menjawab terlihat saja dari tampilan fisiknya. Huft..,sulit dipercaya
oleh akal sehat saya bahwa di bumi ini ada seorang makhluk semacam itu. Saya
mengenalnya di salah satu tempat kerja saya. Bukan, dia tidak bekerja di sana.
Yang saya tahu dia hanya bermain atau sekedar menghabiskan waktu di sana. Dia
adalah satu-satunya pria ter-kepo dan ter-sok tahu yang pernah saya temui di
dunia ini. Dan saya berharap tak bertemu yang semacam itu lagi dalam hidup
saya. Saya tidak membencinya, sama sekali tidak membenci dia. Justru di satu
sisi saya berterima kasih karena dia telah menunjukan kepada saya bahwa dunia
ini berisi beraneka ragam sifat manusia.
Seperti
halnya makhluk hidup lain, pria inipun mempunyai sisi baik dan sisi buruknya.
Tidak, saya tidak bermaksud membuka aibnya, saya hanya sedang belajar menerima
apa yang ada pada dirinya. Karena tidak dapat dipungkiri, terkadang saya risih
dengan sikap dan kata-katanya. Dia yang selalu bertanya sudah gajian apa belum
kepada saya dan rekan-rekan saya, kemudian tertawa terbahak-bahak saat tahu
kami belum gajian. Dan tak segan-segan diapun membicarakan tentang kesusahan
temannya yang tak lain adalah pemilik tempat saya bekerja. Di situ saya
berpikir apa sih tujuan dia menceritakan hal seperti itu kepada kami? Hmm..,
mungkin itu adalah salah satu cara dia agar kami maklum dengan kondisi
keterlambatan gaji kami. Tapi pikiran itu tidak bertahan lama di kepala saya.
Di depan kami dia berkata sambil tertawa bahwa gaji kami akan dipending selama
tiga bulan berdasarkan pengamatan dia terhadapa boss kami yang saat itu sedang
mengalami ujian dalam bidang finansial. Kemudian dia berbicara banyak hal
mengenai pikiran-pikiran dan pendapatnya tentang apa yang terjadi terhadap boss
kami. Yang saya tangkap di sini adalah dia merasa lebih tahu sebuah
permasalahan daripada yang sedang menjalaninya dan diapun merasa tahu
solusinya, tapi pada kenyataannya dia tidak bisa membantunya. Dan yang membuat
saya heran adalah suatu waktu dia mengatakan bahwa dia senang saat kami
terlambat mendapatkan gaji karena itu berarti dia ada temannya. Entahlah apa
maksudnya itu.
Hampir
setiap saya datang ke tempat kerja dia selalu ada disana. Karena sering
bertemu, saya dan rekan-rekan kerjapun menjadi akrab dengan dia. Dari keakraban
itu dia mulai bertanya terhadap hal-hal pribadi kami lalu menilai kami seenak
jidatnya. Dia banyak bercerita tentang pengetahuannya terhadap dunia malam.
Suatu waktu dia mengetahui bahwa saya pernah masuk ke dalam gedung bioskop.
Yang namanya ke gedung bioskop ya sudah pasti tujuan saya adalah menonton film.
Tapi tidak dengan apa yang ada di pikirannya. Saat itu saya menganggap dia
hanya bercanda. Kemudian, salah satu rekan saya bercerita bahwa dia mempunyai
free pass untuk berkaraoke dan dia mengajak kami semua yang ada di situ untuk
berkaraoke. Kemudia dia bertanya kepada kami apakah kami sudah pernah
berkaraoke sebelumnya. Beberapa dari kami pun
menjawab pernah pergi ke tempat karaoke, termasuk saya, karena memang
saya pernah berkaraoke bersama keluarga saya dan teman-teman saya. Kembali dia
berpikir hal yang buruk terhadap kami. Yang dia tangkap dari sebuah tempat
karaoke adalah pemandu lagu. Padahal saya sendiripun tidak pernah tahu
bagaimana menjadi seorang pemandu lagu ataupun menyewa jasa pemandu lagu.
Nyanyi ya nyanyi saja, sama mama, papa, saudara, dan kalau ada rekan kerja yang
ulang tahun ya biasanya ditraktir mereka, lalu semua karyawan di kantor yang
hadir dan mempunyai waktu luang saat itu pasti ikut.
Dia.
Diapun mulai berani bertanya tentang kedekatan kami bersama pacar-pacar kami
(bagi yang mempunyai pacar). Mulai dari pacarannya dimana, ngapain aja dan seterusnya,
kemudian seperti biasa dia mulai memberi penilaian terhadap kami. Terkadang
bukan penilaian sih yang saya tangkap, melainkan lebih kepada menuduh. Setelah
tahu dia akan meminta kami untuk membandingkannya dengan dia. Benar-benar
obrolan yang tak berisi.
Pertanyaan-pertanyaan
yang menurut saya tak selayaknya dia tanyakan terus saja keluar dari mulutnya. Pikiran-pikiran
kotornyapun mengalir menjadi respon setiap jawaban-jawaban kami dari apa yang dia
tanyakan. Prediksi-prediksi tidak pasti terus saja terlontar membuat sakit
telinga saya. Keingintahuannya yang berlebih dan tak berbobot saya rasa telah
melebihi batasnya sebagai seorang pria. Membuat dia terlihat lebih cerewet dari
para wanita. Membuat dia terlihat lebih senang bergosip dari selayaknya wanita.
Btw,
dia tidak seburuk itu. Salah satu sifat baiknya menurut saya dan rekan-rekan
kerja saya di sini adalah dia sering mentraktir kami jajan di warung depan
tempat kami bekerja. Walaupun dia pernah ngumpet saat salah seorang dari kami
terlanjur memanggil tukang es keliling karena tidak mau membayarkannya padahal
sebelumnya dia sendiri yang menawarkan. He is nice enough, dengan segala
kekurangan dan kelebihannya. J

Tidak ada komentar:
Posting Komentar