Ayu

"Menulis itu indah, saat dapat menumpahkan setiap katanya berdasarkan alunan hati, bagiku....,,"

Minggu, 12 Juli 2015

Bagi Aku Kelelahanmu..,


Tak ada yang lebih menyenangkan dari melihatmu menertawakan hal-hal sederhana yang kamu temukan di harimu yang melelahkan. Dan tak ada yang lebih menyenangkan dari; di tengah harimu yang melelahkan, aku masih jadi seseorang yang pertama kali kamu ingat untuk bisa, mendengar kebaikan yang tersisa dari hal-hal sederhana kepunyaanmu. Kelelahanmu, mengingatkanku bahwa hidup ini bukanlah sekedar menemukan bagaimana caranya bahagia, tapi bagaimana caranya tetap merasa bahagia--di tengah keburukan yang kerap datang memeluk.

Kamu tahu apa yang paling pertama ingin aku ucapkan padamu di setiap pagi? Terima kasih karena masih bersedia memiliku di hari ini. Dan bila esok, kamu bosan melakukannya, aku tetap akan berterima-kasih untuk pernah diberi kesempatan oleh Tuhan merasakan jadi bagian penting dari hari-harimu yang melelahkan. Kamu harus mengingat ini, bahwa kamu pernah jadi alasan dari kebahagiaanku.

Pernah aku bertanya pada diriku sendiri, kenapa aku bisa menyayangimu? Dan jawaban yang datang selalu karena aku merasa perlu untuk melakukannya. Menyayangimu, sudah jadi bagian dalam kebutuhan sehari-hariku. Aku perlu menyanyangimu, untuk bisa bahagia. Aku perlu melihat senyumu, untuk bisa merasa kebaik-baik saja-an. Aku perlu kehadiranmu, untuk bisa meyakini bahwa kehadiranku adalah sesuatu yang kuperlukan. Kamu, membuatku memerlukan hidup ini, bukan hanya agar aku bisa selalu bersama-sama denganmu—tapi juga karena rasa sayangmu, mampu membuatku menilai kehadiran diriku sendiri dengan sepantasnya. Aku akan bertahan hidup semampu yang kubisa, untuk bisa terus merasakan sayang yang kamu miliki—dan juga untuk terus bisa menjadi bagian dari mereka yang tengah kusayangi.

Dulu, bertahan hidup, tidak pernah sepenting ini
Dulu, disayangi, tidak pernah terasa sehangat ini
Dulu, mempercayai seseorang, tidak pernah bisa senyaman ini

Bukan lantas kamu serta merta jadi segalanya, aku tidak akan membiarkan cinta membuat otakku jadi tumpul dan hatiku terluka

Tapi aku juga tidak akan pernah meletakkan cintamu dekat dengan kebohongan dan ketidak tulusan

Aku mencintaimu, dengan penuh rasa hormat atas diriku sendiri

Maka sini

Teruslah

Bagi aku, kelelahanmu.

Sabtu, 20 Juni 2015

Saya menyayangimu. Dan saya hanya ingin disayangi olehmu saja.


Terkadang saya bingung, bagaimana mungkin seseorang yang telah membuat kita marah, sedih, bahkan menangis sepanjang malam tetap saja menjadi orang yang paling kita tunggu pelukannya. Disebut apa yang seperti itu? Menyukai sesuatu yang memang kita cintai merupakan hal yang mudah. Tapi mungkin inilah yang namanya cinta. Bertahan menyukai hal-hal yang terkadang tak kita sukai, tapi kita merasa  tak mampu hidup dengan baik tanpanya.

Mungkin kamu tak akan percaya, tapi salah satu cara terbaik saya mengingatmu adalah saat saya tersenyum. Walaupun kamu pernah membuat saya kehilangan kepercayaan diri bahwa benar saya masih penting untuk kamu, pernah membuat saya begitu sedih sampai-sampai saya menangis sambil menutup wajah saya dengan bantal dan keesokan paginya hampir-hampir mata saya tidak bisa terbuka karena bengkak. Tapi kamu, saya selalu mengingatmu saat sedang berbahagia, mungkin itulah salah satu alasan mengapa saya selalu suka kalimat "kita baik-baik saja".

Saya menyayangimu. Dan saya hanya ingin disayangi olehmu saja.

Senin, 25 Mei 2015

JANGAN PERGI, TETAPLAH DI SINI...

Sayang,
Tak ada yang berkata bahwa hubungan dua manusia bisa berjalan begitu mudahnya. Sebaliknya, ada dua isi kepala berbeda dan dua masa depan yang harus disatukan — dan proses ini bisa saja menyakitkan. Cinta memang membahagiakan, namun tak lantas mencegah perbedaan pendapat dan perselisihan.
Hubungan yang sudah berjalan lama akan memberi tantangan yang lebih besar lagi. Pasalnya, hubungan yang sudah sekian lama memang termasuk masa-masa rawan. Dalam “masa-masa rawan” ini, semua pasangan tak boleh sekali-kali lengah jika tak mau berhenti melangkah.
Begitu juga dengan kita. Aku di sini ingin berjuang agar hubungan kita bisa tetap memiliki masa depan. Semoga, kamu juga berpikiran sama.

Manusia diciptakan berpasang-pasangan, begitu pula aku dan kamu. Ada alasan kenapa kita menjalin cerita hingga sekarang. Ada alasan kenapa kita bertemu.

Sayang, maukah kau percaya bahwa selalu ada alasan kenapa kita dipertemukan. Tentu ini bukanlah suatu kebetulan. Semesta memang sudah mengatur dengan rapi bagaimana kita bisa bersua. Pertemuan singkat itu pun menorehkan guratan istimewa. Aku berani bersumpah, jantungku sempat kehilangan beberapa ketuk iramanya. Sebaliknya, paru-paruku lega luar biasa. Walau campur aduk rasanya, aku tahu aku bahagia.

Memang tak selamanya jalan yang kita lalui mulus seperti jalan yang baru diaspal. Terkadang kita akan goyah dihantam badai permasalahan.

Tentu saja hubungan kita tak mulus saja bagai meluncur di perosotan anak balita. Toh kita pasti akan jemu jika hubungan berdua hanya diisi hari bahagia yang lama-lama akan kehilangan keistimewaannya. Kita telah dewasa, tentu pasti ada kastanya. Level kita bukan lagi perosotan anak balita, kita naik jet coaster yang lebih menantang serta memang untuk orang dewasa. Kita sering merasa mabuk dan lelah dengan rutenya yang naik turun, namun bukankah disitu daya pikatnya? Karena kamu dan aku sama-sama merasa itulah candu dan bumbu bagi hubungan berdua.
Tengkar mulut dan lempar kata dengan sebal sering kita lewati.

Sudah banyak usaha yang kita keluarkan untuk hubungan ini. Jika kita memutuskan berhenti, perjuangan hebat itu tak akan banyak berarti

kita harus berjuang untuk menyeimbangkan langkah

Sudah banyak usaha yang kita keluarkan untuk hubungan ini. Jika kita memutuskan berhenti, perjuangan hebat itu tak akan banyak berarti

Sayang, masihkah kau ingat bagaimana kita sempat kelimpungan saat menyusun pondasi hubungan pertama kali? Aku tak pernah lupa bagaimana dulu kita saling menyesuaikan diri. Sama-sama mengempiskan ego agar tak jadi bumerang dalam hubungan. Aku dan kamu juga mulai saling menerima kelebihan yang juga hadir sepaket dengan kelemahannya.

Kenangan yang sudah kita kumpulkan juga kaya dan berwarna. Bukankah akan jadi percuma jika kita beranjak meninggalkannya?

Sudah ada berapa juta detik yang kita lewatkan untuk saling bertingkah bodoh? Urat malu kita sudah putus jika di hadapan satu sama lain. Tak ada pula kecanggungan yang turut serta. Sungguh, yang ada hanya rasa nyaman dan ketenangan yang dalam di sana. Kau pasti tahu, momen ini tak akan bisa kumiliki dengan pria lainnya.

Sungguh, aku lelah jika harus mengurai jalinan ini dan harus menambatkannya ke dermaga yang lainnya. Aku tak sanggup lagi jika harus mencari penggantimu dan memulai hubungan cinta yang baru. Sayang, sungguh kita tak boleh lelah berusaha. Kita tak boleh memilih menyerah, karena itu sungguh terlalu mudah.
Jika saat ini kamu begitu dibelit jengah dan ingin beristirahat sejenak, tentu tidak masalah. Kamu boleh mengambil sebanyak apapun waktu yang kamu butuhkan. Aku akan sabar menunggu sembari terus menerus membisikkan harapanku. Dan semoga angin menyampaikan pesanku.
Sayang, aku mohon jangan pernah pergi, tetaplah di sini, dan ingatkan aku bahwa semuanya akan baik-baik saja.

Kamis, 21 Mei 2015

Tak Sadarkah Kau Akan Diamku Yang Kini Jadi Tameng Pilu?




Boleh saja di matamu aku terlihat sebagai sesosok perempuan yang menyebalkan, keras kepala, dan egois. Tapi indraku tak pernah tumpul dalam mengamati. Kadang aku bertanya, tak sadarkah kamu bahwa ada luka di hati orang yang tengah berusaha menjadi pendamping hidupmu kelak? Tak bergetarkah perasaanmu waktu aku memilih menyimpan perih yang kian meranggas di sana?

Kini, dalam diam, kau berusaha aku pahami kembali.

Mudah saja aku meradang untuk memaksamu mengerti apa yang ada di hati ini, tapi itu tidak pernah berhasil bukan? Tak pernah ada indah setelah itu.

Kalau ada sesuatu yang tidak kamu suka, bilang saja padaku. Bagimana aku bisa tahu kalau perasaanmu hanya disimpan d hati saja?

Dulu, kau selalu berpendapat kalau ada sesuatu yang membuatku resah katakan saja. Tanpa aku menyatakan, kau tidak akan pernah tahu.  Aku tahu tidak adil menyalahkanmu di tengah kesibukanmu yang luar biasa. Aku tidak ingin memaksamu berubah, hanya untuk menjaga agar hatiku tak pindah. Tak tepat rasanya membuat hubungan kita menjadi sebuah kerangkeng yang membuat kita lelah. Jika pun kau berubah, bukan sebab aku yang ingin mengubah arah langkahmu, tapi atas kesadaran hatimu untuk kembali menjaga hatiku.


Sudah lelah rasanya kepalaku dipenuhi pertanyaan-pertanyaan itu. Kini aku hanya ingin diam sembari meluruskan pikiran dan perasaan.

Maafkan aku yang mungkin berpikir terlalu cetek, tapi sikapmu akhir-akhir ini membuatku tak percaya diri, tak percaya pada diriku sendiri. Dengan diamku, aku tak ingin lagi menunjukan apa yang tengah aku pikir dan rasakan seperti beberapa waktu yang lalu. Aku yakin kamu sudah cukup dewasa untuk membaca apa yang kini tengah terjadi diantara kita.

Dalam diamku, aku yakin cinta akan menemukan jalannya sendiri. Aku yang masih percaya kau mampu mengerti apa yang ku rasa di tengah kesibukanmu.

Kata berpisah tak pernah sedikitpun terlintas di kepala. Di luar sikapmu akhir-akhir ini, kau tetap pria terbaik yang pernah aku temui. Bersamamu, aku menemukan dunia yang ku cari selama ini. 

Kesayanganku, dalam diam aku selalu percaya ini hanyalah gejolak mudamu yang belum terlalu paham bagaimana menjaga hati, pun ini adalah pikiran liarku yang belum bisa aku kendalikan.







Rabu, 13 Mei 2015

Mama., Sabar Ya.., Insya Allah Aku Akan Segera Membawa Pria Pilihanku Untuk Meminta Restumu


                Ma.., aku tau engkau sudah mulai khawatir denganku. Di usiaku yang kini memasuki 26 tahun, di saat teman-teman sebayaku sudah menggendong bayinya, aku masih betah melajang. Aku tahu engkau sudah tak sabar menggelar hajatan pernikahanku, akupun sebenarnya sudah ingin sekali membawa seorang pria yang kelak menjadi imamku ke hadapan Mama dan Papa. Tapi tidak sekarang Ma. Sabar sebentar ya Ma., secepatnya aku pasti akan membawa seorang pria pilihan hatiku untuk meminta restu Mama dan Papa.

Doakan aku ya Ma., agar semua yang aku jalani saat ini, mendekatkan aku dengan sang tambatan hati yang kelak membimbingku hingga ke surga nanti.

                Mama tak perlu khawatir seperti tetangga sebelah yang mengatakan bahwa aku akan menjadi perawan tua. In fact, aku masih tergolong muda kan Ma?  Masih banyak hal yang ingin aku rasakan sebelum nantinya aku menjadi seorang istri yang Insya Allah baik untuk suamiku. Aku bukan sedang betah melajang Ma, akupun sebenarnya ingin sekali menjadi seorang istri bagi pria yang menjadi pilihan hatiku, tapi sekali lagi Ma, mungkin sekarang belum saatnya.

                Mama tak perlu resah saat melihatku melakukan apapun seorang diri. Percayalah, gadis kecilmu ini sudah tumbuh menjadi wanita yang mandiri.


                 Gadis kecil yang dulu Mama nina bobo kan, sekarang sudah menjadi seorang wanita mandiri. Dan aku yakin Mama tahu bahwa aku belajar mandiri dari siapa., dari Mama. Mama selalu mengajarkan aku untuk tidak bergantung dengan orang lain. Dan, seperti inilah aku yang sekarang. Bukan aku tidak butuh orang lain Ma, tapi aku berusaha untuk tidak merepotkan orang lain. Meskipun seperti itu, aku tidak lupa dengan kodratku sebagai seorang wanita, aku masih tetap mendambakan seorang pria bertakwa dan bijaksana untuk menjadi pelindungku.

                Aku tak pernah berhenti meminta kepada Tuhan untuk menyatukan aku dan calon suamiku dalam sebuah mahligai rumah tangga yang sakinah, mawadah, dan warohmah. Tapi mungkin Tuhan masih menunggu waktu yang tepat untuk itu. Aku tidak akan memaksa Tuhan, Ma. Kita semua yakin bahwa Tuhan tidak akan pernah salah.

                Percayalah Ma., suatu saat aku akan membawa pria pilihan hatiku yang akan menggantikan tugasmu untuk menjagaku di hadapanmu, dan meminta restu Mama dan Papa.

                Aku  sudah berusaha Ma.., maka sekarang biarkan tangan Tuhan yang bekerja.



               




Senin, 27 April 2015

KAMU

Kamu. Pria yang ingin aku sayangi dengan baik. Aku tidak pernah mengerti mengapa Tuhan mempertemukanku denganmu. Pun, saat sekarang kita telah sedekat ini, aku masih belum bisa memahami mengapa pertemuan kita terjadi. Satu garis kecil yang dapat aku ambil adalah, kamu mampu membuat hatiku tersenyum, bahkan di saat penat yang pekat tengah menghampiri hariku. 

Kamu. Pria yang pernah sekali hadir dalam mimpi sadarku, dan belum beranjak walau hanya satu inci dari situ. Aku tidak mengerti mengapa aku bahagia saat membayangkanmu.Bahkan di saat kau sedang menyebalkan sekalipun. Yang dapat aku simpulkan, kamu mampu membuat indah setiap lamunanku. 

Kamu. Pria yang mampu membuatku ingin menjadi wanita yang lebih baik. Aku tidak pernah tau mengapa aku selalu ingin menjadi baik di matamu. Tapi yang pasti, aku senang bisa belajar untuk menjadi lebih baik , bahkan di saat kau tak pernah mempermasalahkan jerawat yang tumbuh di wajahku.

Senin, 06 April 2015

Teruntuk Calon Ibu Mertuaku




Bismillah..,

Teruntuk Ibunda calon suamiku.., terima kasih telah melahirkan seorang laki-laki hebat seperti putramu.

Perkenalkan, aku, perempuan biasa yang menyayangi anak sholehmu.

Orang-orang bilang aku berasal dari sebuah keluarga yang berantakan. Orang tuaku bercerai pada saat aku masih bayi. Ibuku lebih memilih mundur dan memaksa ayahku untuk kembali kepada istri pertamanya yang waktu itu sempat akan bunuh diri dengan meminum racun tikus. Para saudara tiriku seperti menutup komunikasi denganku. Berkali-kali aku mencoba menghubungi mereka, tapi hanya sekali mendapat jawaban. Aku tidak meminta banyak kepada mereka, aku hanya ingin menjaga tali persaudaraan kami. Itu saja.

Orang-orang bilang aku akan tumbuh menjadi sesosok perempuan yang kurang kasih sayang dan perhatian. Aku hanya dibesarkan oleh nenek dan ibuku, walaupun ibuku terpaksa harus jarang berada di rumah untuk bekerja karena menjadi tulang punggung keluarga. Aku dibesarkan tanpa peran seorang ayah kandung, sama sekali. Aku dibesarkan di sebuah lingkungan perdesaan dan keluarga kami tergolong cukup miskin, tak jarang almh nenekku hutang kesana kesini untuk sekedar membeli beras.

Teman-temanku bilang, aku hanyalah anak haram yang tak pantas mendapat teman. Anak haram membawa kesialan, katanya. Sempat aku menjadi seorang anak yang sangat pemarah. Pun sempat aku menjadi seorang anak yang sangat tertutup.

Itu adalah sebagian kecil dari masa laluku. Sekarang, aku dapat pastikan apa yang dulu mereka sampaikan tak sesuai dengan apa yang aku rasakan. Perceraian tak selamanya berarti berantakan. Pada saat itu, aku yakin Tuhan sedang memberikan jalan yang terbaik bagi kedua orang tuaku. Hanya dibesarkan oleh seorang nenek dan ibu, tak berarti aku kurang kasih sayang dan perhatian. Apa lagi yang aku butuhkan pada saat itu selain hidup bersama dua perempuan hebat di dunia ini? Dan, anak haram? Mana mungkin Tuhan menciptakan makhluk hidup dalam kondisi haram? Tuhan Maha Baik.

Walaupun sampai detik ini aku masih belum dapat berkomunikasi dengan saudara-saudara aku di Jakarta, aku tidak pernah berpikir bahwa hubungan persaudaraan kami telah atau akan berakhir. Aku percaya, saat ini mungkin Tuhan sedang memberi kesempatan kepada kami untuk membahagiakan diri kami masing-masing terlebih dahulu sebelum akhirnya nanti Tuhan akan menempatkan kami di sebuah tempat dimana kami akan berbagi kebahagiaan bersama. Takdir Tuhan selalu manis bukan? J

Ibuku menikah lagi pada saat aku berada di kelas 3 SD. Aku mempunyai 3 adik di rumah. Endi, saat ini dia masih kuliah. Tio, dia kelas 7 di sebuah SLB, dia berkebutuhan khusus. Syifa, 3 tahun lalu keluarga kami mengadopsinya dan aku sangat menyayanginya.

 Di saat teman-teman seumuran aku menenteng sebuah tas ala-ala ibu pejabat di salah satu tangannya, aku lebih suka menggendong sebuah tas gemblok di punggungku. Di saat teman-teman seumuran aku memakai high heels, aku terpaksa memakai sebuah sandal atau sepatu dengan tinggi 3 cm karena aku tak mau terlihat sangat pendek, karena aku memang cukup pendek. Dan dalam hati, aku hanya ingin memakai sepasang sandal swallow. Di saat teman-teman seumuran aku memakai sebuah baju dengan model yang manis, aku lebih memilih memakai celana jeans dengan atasan sweater atau kaos biasa lengan panjang. Akupun bukan perempuan yang suka memoles wajah. Di saat teman-teman seumuran aku memakai berbagai macam alat make up agar wajahnya terlihat lebih cantik, kulitnya terlihat lebih putih dan halus, pipinya terlihat lebih merona, bulu matanya terlihat lebih lentik, garis matanya terlihat lebih tegas, dan bibirnya terlihat lebih seksi dengan beragam warna lipstick yang menurut aku mencolok, aku lebih nyaman hanya menggunakan sebuah krim anti alergi karena wajah aku sering gatal-gatal kalau terkena banyak debu dan terkena sinar matahari, kemudian bedak tabur bayi yang sengaja aku taruh di sebuah tempat bedak agar gampang ketika memakainya, dan terkadang aku memakai lip gloss, itupun sangat jarang aku lakukan.

Dan, itu adalah sebagian dari aku yang sekarang.

Maaf jika aku terlalu lancang dan memalukan, tapi seperti inilah aku yang mencintai putra sholehmu. Sunnguh, ini  bukan kuasaku. Aku hanya menjalankan skenario yang telah Tuhan siapkan.

Putramu adalah seorang pria yang mampu membuatku percaya sesuatu hal yang sebelumnya aku anggap tidak mungkin.

Jangan takut, aku hadir bukan untuk merenggut putramu dari dekapan kasihmu. Aku tidak bisa menjadi wanita terbaik untuk anakmu, karena kau tetap menjadi wanita terbaik di hatinya. Aku ingin mnejadi anakmu, agar tak pernah sekalipun kau merasa kehilangan putramu karena kehadiranku. Aku ingin menjadi sahabatmu, agar kita bisa mencurahkan rasa. Aku ingin menjadi rekanmu, agar kita bisa sama-sama mencintai laki-laki yang sama, yaitu putramu.

Semoga Allah merahmatimu selalu. Aamiin.