Malam ini dia berbicara
tentang kenangan. Lapangan tempat dulu dia bermain, bangunan tempat dulu dia
berpetak umpet, tempat dimana dia dulu sering mengagetkan ibunya dengan sengaja
untuk sekedar bercanda, rumah tempat dia tumbuh beranjak dewasa, kini telah
rata oleh tanah, hilang, selain kenangan. Perumahan di Asrama Pores Pesing
Kedoya telah digusur kemarin. Sungguh manis saat aku mencoba membayangkan
kenangan masa kecil yang dilaluinya. Sedikit berbeda dengan kenangan yang aku
punya di masa kecil. Padanya aku mengatakan bahwa akan berubah seperti apapun sebuah tempat, tak akan pernah bisa
sedikitpun merubah atau bahkan menghilangkan kenangan yang telah terjadi di
sana. Tak hanya tempat itu, tapi semuanya akan berubah, dengan caranya
masing-masing. Dan biarkan tangan Tuhan
yang bekerja. Kenangan akan tetap hidup selama kita mau mengenangnya.
Semakin lama kita hidup, akan semakin banyak kenangan yang kelak kita kenang.
Terkadang, tanpa kita sadari, setiap hari kita sedang membuat simpul-simpul kenangan
untuk masa depan. Dan, saat ini aku sedang berusaha menyimpan dengan rapi
setiap kenangan yang ada, agar kelak aku dapat mengenangnya dengan baik.
Ayu
"Menulis itu indah, saat dapat menumpahkan setiap katanya berdasarkan alunan hati, bagiku....,,"
Kamis, 05 Maret 2015
Selasa, 17 Februari 2015
Saat Jenuh Mengkudeta (Ala-alaVickinisasi)
Betapa tidak
profesionalnya saya hari ini, bahkan di sela-sela KBM di kelas X TKJ 1 saya masih
sempat menulis ini. Sebenarnya bukan masih sempat menulis tapi mungkin lebih
tepat saya sempat-sempatkan menulis ini. Para siswa saya beri tugas untuk
membuat sebuah dialog, menggunakan bahasa Inggris tentunya, yang harus mereka tampilkan minggu depan. Akhir-akhir
ini saya merasa sedang berada di titik terjenuh saya menjadi seorang guru. Tak
ada lagi semangat mengajar seperti dulu. Tak ada lagi keinginan untuk bertemu
dan berinteraksi dengan mereka, baik sebagai guru mata pelajaran ataupun
sebagai wakasis.
Sepertinya jenuh ini
benar-benar sedang mengkudeta hari-hariku saat ini (bahasa vickinisasi). Bertemu dengan orang-orang yang sama setiap
hari. Bingung bagaimana menjelaskannya secara rinci dan agar tak terjadi salah
pemahaman. Seperti ini, setiap hari saya bertemu dengan orang-orang cerdas tapi
obrolannya hanya itu-itu saja. Belum lagi bertemu dengan orang yang saat
berbicara lain di mulut lain di hati. Lalu bertemu dengan orang yang merasa
dirinya paling berkuasa dan terkesan bertindak seenaknya terhadap orang-orang
di bawahnya. Next, bertemu dengan dia yang mendiamkan saya hanya karena
laki-laki yang dia suka bersahabat dengan saya. Saya juga bertemu dengan orang
yang senang memberikan kritik beserta saran yang harus kita lakukan. Selanjutnya,
saya bertemu dengan orang yang hanya menerima gaji tapi kurang mau bertanggung jawab
terhadap tugasnya. “Eng, apakah dulu kamu sedikit banyak merasakan apa yang
saya rasakan ini saat kamu berada di posisi saya saat itu?”. Huft.., sepertinya
saya sedang mengeluh.
Dan sekarang saya ingat
dengan apa yang saya sampaikan beberapa hari lalu kepada Pak Aris, atasan saya
di Griya Belajar Sahabat. “Mengeluh itu hanya membuat masalah ataupun hidup terasa
semakin berat.” Jadi, mulai detik ini saya akan berusaha untuk tidak mengeluh
lagi. Lingkungan pekerjaan saya tak seburuk yang saya sampaikan di atas. Saya
bertemu dengan murid-murid saya yang tak pernah bisa ditebak akan berlaku
seperti apa saat di kelas. Saya bertemu dengan orang-orang yang selalu terlihat
bahagia walaupun mungkin hatinya sedang susah. Saya bertemu dengan orang-orang
yang bijaksana yang sering saya jadikan panutan. Saya bertemu dengan
orang-orang yang sangat tegar dalam menjalani hidup. Saya bertemu dengan
orang-orang yang sedang jatuh cinta dan tak pernah berani mengakuinya. Saya
bertemu dengan orang-orang yang sedang berjuang mencari siapa cinta sejatinya.
Dan saya bertemu dengan beberapa orang yang senasib dengan saya.
Oh God, ternyata hidup
saya itu sebanarnya sangat menyenangkan, hanya saja akhir-akhir ini saya salah
dalam memilih sisi dalam memandang hidup ini. J
Jumat, 06 Februari 2015
Tentang Hati
Katanya hati Ibarat Cermin
Namun bagaimana akan mengkilap
Jika digosok, Jiwa merasa sakit…
Namun bagaimana akan mengkilap
Jika digosok, Jiwa merasa sakit…
Jika Hati sebuah Ukiran Yang berharga
Proses panjang tentu harus dilalui
Sedikit demi sedikit diukir dengan pisau…
Proses panjang tentu harus dilalui
Sedikit demi sedikit diukir dengan pisau…
Hati yang Terpilih Ibarat sebuah Mutiara
Padahal Mutiara ada di dalamnya samudera
Rendah di kedalaman, dari tiada menjadi Perhiasan yang Indah…
Padahal Mutiara ada di dalamnya samudera
Rendah di kedalaman, dari tiada menjadi Perhiasan yang Indah…
Jumat, 23 Januari 2015
Dear, Sahabatku Yang Entah Masih Menganggapku Sebagai Sahabatnya Atau Bukan..
Salam..,
Sebelumnya
saya minta maaf kalau apa yang akan saya sampaikan ini kurang berkenan di hati
anda, tapi sepertinya saya sudah mulai lelah dengan apa yang terjadi
dengan hubungan pertemanan kita berdua akhir-akhir ini. Berbulan-bulan
anda mendiamkan saya. Saya memang kecil, tapi saya bukan anak kecil yang
bisa ditenangkan dengan kalimat “gak ada apa-apa kok, mungkin cuma perasaan
kamu aja”. Itu adalah sepenggal sms balasan dari anda pada saat dulu
saya bertanya dan minta maaf apabila saya ada salah sama anda terkait
dengan perubahan sikap anda ke saya.
Selama
ini saya hanya bisa menduga-duga ada apa dengan anda? Bagian saya yang
mana yang salah yang menyebabkan anda berlaku seperti itu terhadap saya. Selama
itu saya tak pernah berhasil menemukan jawaban pasti dari hal itu.
Dan,
selama anda mendiamkan saya, jujur saya sangat rindu dengan kebersamaan
kita sebelumnya, jadi terkadang saya kepo dengan timeline di FB anda, dan
beberapa kali saya menemukan status dan beberapa kalimat yang anda
sampaikan di FB yang membuat saya cukup sedih. Kalau nanda ingat, saya
beberapa kali memberikan like kepada beberapa status dan komentar anda
yang entah mengapa saya yakin sekali kata-kata atau lebih terkesan sindiran itu
ditunjukan kepada saya, walaupun pada saat itu saya belum tau pasti alasan
anda menjauhi saya.
Anda
juga perlu tau, yang namanya didiamkan oleh orang yang sudah dianggap sebagai
sahabat itu juga cukup menyedihkan, apalagi tanpa alasan yang jelas. Saya masih
ingat dengan jelas pandangan mata anda yang berbeda terhadap saya
dibandingkan dengan cara anda memandang Bu Septi, Bu Ella, dan Ibunya saat
saya kondangan ke rumah anda.
Saya pun masih ingat dengan jelas saat anda menyampaikan kepada salah seorang teman kita bahwa saya bisa dekat dengan orang karena saya punya uang dan mengatakan bahwa saya munafik. Saya
masih ingat dengan jelas saat beberapa kali anda ngobrol di ruang guru dan
di rumah Tante Citra bersama rekan guru yang lainnya, kemudian saya datang,
anda langsung pergi. Saya masih ingat dengan jelas saat kita bersalaman di
beberapa pagi dan anda seakan tak mau melihat wajah saya. Saya masih ingat
dengan jelas saat anda berfoto bersama dengan para guru wanita di rumah
Rizal sepulang dari kondangan Bu Umi dan saya sama sekali tak di ajak, dan
setelah itu anda upload ke Facebook dan ada satu komentar yang anda
buat yang membuat saya terpaksa menangis di sekolah yang kurang lebih isinya
adalah “untung yang itu tidak ikut foto, bikin eneg”, atau seperti apa lah
kalimatnya, tapi seperti itu yang saya tangkap. Dan entah mengapa, saya yakin
itu ditunjukan kepada saya. Maaf kalau dugaan saya salah. Dan yang terbaru adalah anda membuat sebuah acara bersama beberapa rekan kerja untuk berjalan-jalan ke Wonosobo dan anda memberikan warning kepada beberapa rekan yang ikut untuk tidak mengajak saya. Bukan masalah ikut atau tidaknya saya, tapi kenapa saya harus menjadi sebuah pengecualian bagi anda?
Anda
beruntung dikelilingi oleh para sahabat yang baik, setia, dan dapat dipercaya.
Anda beruntung berada di tengah-tengah mereka, orang-orang yang
benar-benar memahami posisi njenengan. Sebelumnya, beberapa kali saya mencoba
mencari tau alasan anda mendiamkan saya melalu mereka, tapi saya tak
pernah mendapat jawaban itu. Mungkin mereka memang tidak pernah tau.
Hingga
suatu hari ada sebuah pesan masuk ke hp saya yang sebenarnya hanya bertujuan
untuk sekedar sharing dengan saya, tapi dari situ saya mulai meraba-raba apa ini ada
hubungannya dengan anda mendiamkan saya. Tapi pada saat itu saya belum
berani mengambil kesimpulan. Entah kebetulan atau memang sudah takdir, beberapa
hari kemudian ada teman lain yang meminta pin bbm saya yang baru dan bercerita
tentang status anda saat ini yang katanya anda sering membuat PM yang
isinya “gumawo oppa” atau apalah itu, dia berpikir anda masih dekat dengan
saya, yang pada saat itu saya belum berteman di bbm dengan anda. Pada saat
itu saya jawab tidak tau, karena memang saya tidak tau. Beberapa hari
berikutnya saya mendapatkan cerita yang bersumber dari salah satu guru SMK
Swasta di Banyumas yang mengatakan tentang laki-laki itu yang berpacaran dengan
seorang wanita yang ciri-cirinya sebagian besar mirip dengan anda yang dia ketahui dari Line. Entahlah, disitu saya yakin yang dimaksud salah satu guru SMK Swasta di Banyumas itu adalah anda. Saya mohon maaf kalau dugaan saya itu salah. Kemudian, tak lama setelah saya mendengar cerita-cerita tersebut, ada salah satu rekan kita yang menyampaikan apa sebenarnya alasan anda menjauhi dan mendiamkan saya, dan teryata tak jauh dari dugaan saya.
Selama
ini saya hanya bisa menduga-duga dan memendamnya sendiri, tapi tidak untuk
sekarang. Sesuatu yang hanya dipendam ini benar-benar membuat saya sesak, dan
saya tidak mau terus-terusan seperti ini. Terserah setelah anda membaca ini
anda akan tambah menjauhi saya atau bagaimana, saya sudah siap dengan
segala resikonya, yang penting saya bisa mengungkapkan apa yang ada di dalam
perasaan saya saat ini.
Saya
sedih didiamkan oleh anda. Saya sedih tak disapa oleh anda. Saya
sedih tak bisa lagi menikmati waktu kebersamaan bersama anda seperti
sebelumnya. Dan kalau memang benar apa yang ada di dalam pikiran dan perasaan
saya ini, saya sedih karena anda menjalani sebuah perasaan yang rumit.
Kalau
memang benar apa yang saya rasakan dan apa yang saya dengar, harus dengan cara apa saya meyakinkan
anda bahwa saya tak pernah ada perasaan melebihi teman terhadap laki-laki
itu? Bahwa saya tak pernah dengan sengaja membuat anda merasa cemburu
dengan saya? Saya tak pernah tau sebelumnya tentang itu. Di samping itu saya
juga sadar bahwa saya bukan perempuan yang sempurna, saya sadar bahwa saya
mempunyai banyak kekurangan, tapi bukan berarti saya tak punya sisi baik kan?
Begitu juga dengan anda, di mata saya anda juga bukan perempuan
sempurna, anda juga punya beberapa nilai min di mata saya, tapi sumpah
demi Allah, saya tak pernah mempermasalahkan itu, tak pernah sedikitpun merubah
rasa sayang saya ke anda dalam persahabatan kita.
Di
sini saya menduga bahwa anda adalah orang yang tak pernah mau kesalahannya
diketahui oleh orang lain. Termasuk kesalahannya telah mencintai orang yang
salah. Entahlah, bagi saya hal yang demikian hanya akan membuat anda
tampak semakin memalukan. Maaf. Apa anda pikir, Tuhan tak pernah melihatnya
selama ini? Atau anda pikir, menyembunyikannya dari manusia lain akan serta
merta menghapus kesalahan anda di mata orang-orang yang telah ikut
tersakiti? Atau apakah anda pikir dengan anda menjauhi saya dan
mendiamkan saya dan berpikir yang macam-macam terhadap saya tanpa anda
sekalipun mencoba konfirmasi hal tersebut langsung terhadap saya bisa sedikit
memberi kebahagiaan bagi anda? Sampai detik ini saya masih tidak percaya bahwa
anda bisa seegois ini. Selama ini saya menganggap anda sebagai
perempuan kuat, cerdas, bijaksana, baik, dan mandiri. Bahkan sampai hari ini
saya masih terus meyakinkan diri saya sendiri bahwa anggapan-anggapan saya ini
salah.
Maaf
kalau apa yang saya sampaikan ini menyakitkan bagi anda, tapi saya memang
tak bisa terus berlama-lama menyimpannya di pikiran dan hati saya. Saya yakin
anda juga merasakan bahwa sesuatu yang tak tersampaikan memang menyakitkan
dan parahnya dapat membuat pikiran berpikir macam-macam yang belum tentu benar.
Saya memilih untuk tidak seperti itu. Silakan salahkan saya, silakan jauhi
saya, silakan diamkan saya selama apa yang saya sampaikan ini memang tak
berkenan di hati anda. Dan kalau dugaan saya ini salah, saya juga mohon,
tolong beri tau saya apa yang sebenarnya terjadi dengan hubungan kita ini.
Terlepas dari anda masih menganggap saya sebagai teman atau bukan, di sini
saya merasa bahwa saya punya hak untuk tau apa yang sebenarnya terjadi karena
memang anda melibatkan saya dengan mendiamkan saya, anda juga mengatakan beberapa hal tentang saya kepada mereka yang tidak benar menurut saya. Jadi, tolong bersikaplah lebih bijak dalam menghadapi perasaan anda yang rumit itu.
Minggu, 14 Desember 2014
Selamat Ulang Tahun Kesayangan
Kau mengisiku saat aku merasa kosong
Melegakanku saat aku merasa sesak
Memelukku saat aku merasa seorang diri
Mendoakanku saat aku merasa jauh
Aku tahu bahwa berjalan bersamaku tidaklah mudah
Inginku berubah-ubah dan emosi burukku berputar-putar di tempat yang sama
Tapi di matamu, aku selalu jadi apa yang paling kau inginkan
Seakan semua yang buruk yang ada pada kita, hanyalah bonus dari jatuh cinta
Sayang, sayangi aku terus ya..
Kalau kelak kau bosan padaku
Maka aku akan pergi darimu
Kalau kelak aku bosan padamu
Maka aku akan bertahan semampu yang kubisa
Karena kau selalu jadi sepenuh yang kau mampu untukku
Tidak kurang, dan tidak pernah berharap lebih
Melegakanku saat aku merasa sesak
Memelukku saat aku merasa seorang diri
Mendoakanku saat aku merasa jauh
Aku tahu bahwa berjalan bersamaku tidaklah mudah
Inginku berubah-ubah dan emosi burukku berputar-putar di tempat yang sama
Tapi di matamu, aku selalu jadi apa yang paling kau inginkan
Seakan semua yang buruk yang ada pada kita, hanyalah bonus dari jatuh cinta
Sayang, sayangi aku terus ya..
Kalau kelak kau bosan padaku
Maka aku akan pergi darimu
Kalau kelak aku bosan padamu
Maka aku akan bertahan semampu yang kubisa
Karena kau selalu jadi sepenuh yang kau mampu untukku
Tidak kurang, dan tidak pernah berharap lebih
Selamat ulang tahun kesayanganku.. :)
Kamis, 27 November 2014
Tentang Mama 2
Tuhan
Jika saja dunia ini adalah gradasi warna, biarlah merah menjadi semangat keberanianku dan putih menjadi simbol ketulusanku untuk menjalani kehidupan ini, dan merah muda adalah dambaan wujud perjuanganku untuk senantiasa membuat mama bahagia dengan apa yang kumiliki sekarang ataupun nanti.
Jika saja dunia ini adalah gradasi warna, biarlah merah menjadi semangat keberanianku dan putih menjadi simbol ketulusanku untuk menjalani kehidupan ini, dan merah muda adalah dambaan wujud perjuanganku untuk senantiasa membuat mama bahagia dengan apa yang kumiliki sekarang ataupun nanti.
Tuhan
Jika saja cerita ini hadirkan titik yang menjadi akhir cerita, aku akan merasa bangga karena aku bisa melewatinya dengan kesabaran yang luar biasa, dan pada akhirnya mama akan tersenyum sangat manis kepadaku. Tetapi jika saja esok aku lupa dengan semua yang membuatku menjadi manusia seperti ini, aku berjanji Tuhan..saat malam tiba akan ku sapa semua kebesaranMu di suatu gugus bintang yang terang untuk sekedar menyadarkanku bahwa aku tak pantas untuk menjadi manusia angkuh. Bintang-bintangMu akan mencibirku jika aku tak pandai bersyukur. Dan wajah mama akan terus kupandangi, karena dari wajah cantik itulah aku mengenal arti kesederhanaan.
Jika saja cerita ini hadirkan titik yang menjadi akhir cerita, aku akan merasa bangga karena aku bisa melewatinya dengan kesabaran yang luar biasa, dan pada akhirnya mama akan tersenyum sangat manis kepadaku. Tetapi jika saja esok aku lupa dengan semua yang membuatku menjadi manusia seperti ini, aku berjanji Tuhan..saat malam tiba akan ku sapa semua kebesaranMu di suatu gugus bintang yang terang untuk sekedar menyadarkanku bahwa aku tak pantas untuk menjadi manusia angkuh. Bintang-bintangMu akan mencibirku jika aku tak pandai bersyukur. Dan wajah mama akan terus kupandangi, karena dari wajah cantik itulah aku mengenal arti kesederhanaan.
Tuhan
Kali ini, hanya kali ini. Perbolehkan aku untuk sekedar menyombongkan diri sebentar saja, bahwa aku bisa berusaha menjadi manusia cerdas demi mama yg telah berjuang sendiri hanya dengan sepuluh jari di tangannya, hingga sekarang aku memiliki apa yang tidak dimiliki segelintir orang disana.
Kali ini, hanya kali ini. Perbolehkan aku untuk sekedar menyombongkan diri sebentar saja, bahwa aku bisa berusaha menjadi manusia cerdas demi mama yg telah berjuang sendiri hanya dengan sepuluh jari di tangannya, hingga sekarang aku memiliki apa yang tidak dimiliki segelintir orang disana.
Tuhan
Tuntun aku untuk selalu berada dalam ilmu Mu yg Maha Dahsyat, yang melaluinya lah aku bisa menjadi manusia yang lebih hebat, dimata mamaku.
Tuntun aku untuk selalu bergairah akan hari-hari yang Engkau persiapkan untuku. Tuntun aku sehingga aku tak pernah puas mencari ide untuk selalu membahagiakan mama. Dan tuntun aku menjadi anak perempuan manis yang senantiasa mendoakan mama,agar beliau mendapatkan salah satu amalan shaleh.
Tuntun aku untuk selalu berada dalam ilmu Mu yg Maha Dahsyat, yang melaluinya lah aku bisa menjadi manusia yang lebih hebat, dimata mamaku.
Tuntun aku untuk selalu bergairah akan hari-hari yang Engkau persiapkan untuku. Tuntun aku sehingga aku tak pernah puas mencari ide untuk selalu membahagiakan mama. Dan tuntun aku menjadi anak perempuan manis yang senantiasa mendoakan mama,agar beliau mendapatkan salah satu amalan shaleh.
Satu hal yang menjadi semangat dalam
hidupku, Engkau menakdirkanku menjadi anak perempuan yang lahir dari rahim
seorang wanita hebat. Wanita yang ayu, cerdas, dan pandai mendidik anak. Wanita
yang dari beliau lah aku banyak belajar mengenai kesabaran. Dari beliau pula
aku diperkenalkan dengan segala keagunganMu, Tuhan. Tanpa beliau, aku hanyalah
manusia kerdil yang tak beriman.
“Aku berjanji, aku akan selalu
mengajak mama untuk merasakan manisnya keberhasilanku”
Minggu, 23 November 2014
Tentang Mama..,
Dengan baju tidur yang melekat di badan, kursi memanjang diruang
yang biasa tamu duduki, tatapannya begitu panjang, tapi terasa
hampa…seolah begitu banyak yang berkecamuk dalam otak yang hanya sebesar
kepalan tangan. Namun begitu besar harapan yang tumbuh memenuhi rongga
dadanya… bahkan dunia pun tak sanggup menjadi virtual besarnya harapan
yang sedang tumbuh… kutatap matanya yang sedari tadi berkaca-kaca…
Mama… dimana kau simpan harapan untuk mendapatkan cerahnya sinar
matahari? Merasakan sejuknya embun menetes di segarnya pagi? Aku tak
tau… meski jalan ini terasa amat lurus… tapi mengapa dalam tatapanmu
terasa begitu hampa?
“Sabarlah nak, meski tangan ini memiliki sepuluh jari, tapi mama
akan kepalkan sekuat tenaga agar kau bisa menyelami ilmu dengan layak.
Akan ku papah duniamu degan tekad, meski begitu lurus bagimu… namun tak
usah kau tau betapa terjalnya jalan yang mama hadapi…”
‘Tapi ma, mengapa kau hanya sendiri yang tau jalan itu… kenapa kau
tak sertakan aku atau kakak ku atau papa atau bahkan saudara-sadaraku?’
“Tak perlu… mama ingin agar kau dapat merasakan tenang dalam
setiap kau meneguk ilmu… melahapnya dengan tanggung jawabmu… jadikanlah
Doa ku sebagai nutrisi tubuhmu… agar kau kuat… mandiri dan tabah dengan
segala keyakinanmu…”
“Tapi ma…”
“Sudahlah… jangan kau pesimis, buktikan kepadaku bahwa kau bisa
menjalani semua dengan prestasi… mama ingin melihat betapa cantiknya
dirimu dengan hiasan ilmu, mama ingin melihat betapa sehatnya dirimu
dengan kemandirian… mama ingin menatap cerahnya sinar matahari dan
sejuknya embun pagi saat kau sudah mampu berdiri dengan segala
keyakinanmu… mama ingin dipeluk oleh kasih sayangmu setelah kau
dapatkan apa yang kau inginkan…”
Mata itu terus berkaca-kaca bahkan meneteskan airnya… kulihat
keyakinannya begitu dalam… bahkan akupun belum sanggup untuk mampu
menyelaminya… kulihat mama beranjak dari kursi untuk menuju kamarnya.
Kemudian membaringkan tubuhnya dengan telungkup… aku hanya bisa terdiam…
dan berjanji dalam hati bahwa akan segera kuajak mama untuk merasakan
indahnya arti sebuah perjuangan….
Langganan:
Postingan (Atom)
