Ayu

"Menulis itu indah, saat dapat menumpahkan setiap katanya berdasarkan alunan hati, bagiku....,,"

Senin, 06 April 2015

Teruntuk Calon Ibu Mertuaku




Bismillah..,

Teruntuk Ibunda calon suamiku.., terima kasih telah melahirkan seorang laki-laki hebat seperti putramu.

Perkenalkan, aku, perempuan biasa yang menyayangi anak sholehmu.

Orang-orang bilang aku berasal dari sebuah keluarga yang berantakan. Orang tuaku bercerai pada saat aku masih bayi. Ibuku lebih memilih mundur dan memaksa ayahku untuk kembali kepada istri pertamanya yang waktu itu sempat akan bunuh diri dengan meminum racun tikus. Para saudara tiriku seperti menutup komunikasi denganku. Berkali-kali aku mencoba menghubungi mereka, tapi hanya sekali mendapat jawaban. Aku tidak meminta banyak kepada mereka, aku hanya ingin menjaga tali persaudaraan kami. Itu saja.

Orang-orang bilang aku akan tumbuh menjadi sesosok perempuan yang kurang kasih sayang dan perhatian. Aku hanya dibesarkan oleh nenek dan ibuku, walaupun ibuku terpaksa harus jarang berada di rumah untuk bekerja karena menjadi tulang punggung keluarga. Aku dibesarkan tanpa peran seorang ayah kandung, sama sekali. Aku dibesarkan di sebuah lingkungan perdesaan dan keluarga kami tergolong cukup miskin, tak jarang almh nenekku hutang kesana kesini untuk sekedar membeli beras.

Teman-temanku bilang, aku hanyalah anak haram yang tak pantas mendapat teman. Anak haram membawa kesialan, katanya. Sempat aku menjadi seorang anak yang sangat pemarah. Pun sempat aku menjadi seorang anak yang sangat tertutup.

Itu adalah sebagian kecil dari masa laluku. Sekarang, aku dapat pastikan apa yang dulu mereka sampaikan tak sesuai dengan apa yang aku rasakan. Perceraian tak selamanya berarti berantakan. Pada saat itu, aku yakin Tuhan sedang memberikan jalan yang terbaik bagi kedua orang tuaku. Hanya dibesarkan oleh seorang nenek dan ibu, tak berarti aku kurang kasih sayang dan perhatian. Apa lagi yang aku butuhkan pada saat itu selain hidup bersama dua perempuan hebat di dunia ini? Dan, anak haram? Mana mungkin Tuhan menciptakan makhluk hidup dalam kondisi haram? Tuhan Maha Baik.

Walaupun sampai detik ini aku masih belum dapat berkomunikasi dengan saudara-saudara aku di Jakarta, aku tidak pernah berpikir bahwa hubungan persaudaraan kami telah atau akan berakhir. Aku percaya, saat ini mungkin Tuhan sedang memberi kesempatan kepada kami untuk membahagiakan diri kami masing-masing terlebih dahulu sebelum akhirnya nanti Tuhan akan menempatkan kami di sebuah tempat dimana kami akan berbagi kebahagiaan bersama. Takdir Tuhan selalu manis bukan? J

Ibuku menikah lagi pada saat aku berada di kelas 3 SD. Aku mempunyai 3 adik di rumah. Endi, saat ini dia masih kuliah. Tio, dia kelas 7 di sebuah SLB, dia berkebutuhan khusus. Syifa, 3 tahun lalu keluarga kami mengadopsinya dan aku sangat menyayanginya.

 Di saat teman-teman seumuran aku menenteng sebuah tas ala-ala ibu pejabat di salah satu tangannya, aku lebih suka menggendong sebuah tas gemblok di punggungku. Di saat teman-teman seumuran aku memakai high heels, aku terpaksa memakai sebuah sandal atau sepatu dengan tinggi 3 cm karena aku tak mau terlihat sangat pendek, karena aku memang cukup pendek. Dan dalam hati, aku hanya ingin memakai sepasang sandal swallow. Di saat teman-teman seumuran aku memakai sebuah baju dengan model yang manis, aku lebih memilih memakai celana jeans dengan atasan sweater atau kaos biasa lengan panjang. Akupun bukan perempuan yang suka memoles wajah. Di saat teman-teman seumuran aku memakai berbagai macam alat make up agar wajahnya terlihat lebih cantik, kulitnya terlihat lebih putih dan halus, pipinya terlihat lebih merona, bulu matanya terlihat lebih lentik, garis matanya terlihat lebih tegas, dan bibirnya terlihat lebih seksi dengan beragam warna lipstick yang menurut aku mencolok, aku lebih nyaman hanya menggunakan sebuah krim anti alergi karena wajah aku sering gatal-gatal kalau terkena banyak debu dan terkena sinar matahari, kemudian bedak tabur bayi yang sengaja aku taruh di sebuah tempat bedak agar gampang ketika memakainya, dan terkadang aku memakai lip gloss, itupun sangat jarang aku lakukan.

Dan, itu adalah sebagian dari aku yang sekarang.

Maaf jika aku terlalu lancang dan memalukan, tapi seperti inilah aku yang mencintai putra sholehmu. Sunnguh, ini  bukan kuasaku. Aku hanya menjalankan skenario yang telah Tuhan siapkan.

Putramu adalah seorang pria yang mampu membuatku percaya sesuatu hal yang sebelumnya aku anggap tidak mungkin.

Jangan takut, aku hadir bukan untuk merenggut putramu dari dekapan kasihmu. Aku tidak bisa menjadi wanita terbaik untuk anakmu, karena kau tetap menjadi wanita terbaik di hatinya. Aku ingin mnejadi anakmu, agar tak pernah sekalipun kau merasa kehilangan putramu karena kehadiranku. Aku ingin menjadi sahabatmu, agar kita bisa mencurahkan rasa. Aku ingin menjadi rekanmu, agar kita bisa sama-sama mencintai laki-laki yang sama, yaitu putramu.

Semoga Allah merahmatimu selalu. Aamiin.



Senin, 16 Maret 2015

Pria Itu..,




Kali ini saya diberi kesempatan oleh Tuhan untuk mengenal sesosok pria yang terkadang saya pikir dia bukanlah pria yang sebenarnya. Tapi itu hanyalah sisi lain dari pikiran saya. Kenyataannya dia mengaku sebagai seorang pria yang tahu banyak hal, termasuk tentang status keperawanan seseorang dilihat dari mana sayapun tidak tahu. Dia dengan mudahnya mengatakan bahwa si A sudah tidak perawan si B masih perawan dan ketika saya tanya darimana dia tahu hal itu dia hanya menjawab terlihat saja dari tampilan fisiknya. Huft..,sulit dipercaya oleh akal sehat saya bahwa di bumi ini ada seorang makhluk semacam itu. Saya mengenalnya di salah satu tempat kerja saya. Bukan, dia tidak bekerja di sana. Yang saya tahu dia hanya bermain atau sekedar menghabiskan waktu di sana. Dia adalah satu-satunya pria ter-kepo dan ter-sok tahu yang pernah saya temui di dunia ini. Dan saya berharap tak bertemu yang semacam itu lagi dalam hidup saya. Saya tidak membencinya, sama sekali tidak membenci dia. Justru di satu sisi saya berterima kasih karena dia telah menunjukan kepada saya bahwa dunia ini berisi beraneka ragam sifat manusia.
Seperti halnya makhluk hidup lain, pria inipun mempunyai sisi baik dan sisi buruknya. Tidak, saya tidak bermaksud membuka aibnya, saya hanya sedang belajar menerima apa yang ada pada dirinya. Karena tidak dapat dipungkiri, terkadang saya risih dengan sikap dan kata-katanya. Dia yang selalu bertanya sudah gajian apa belum kepada saya dan rekan-rekan saya, kemudian tertawa terbahak-bahak saat tahu kami belum gajian. Dan tak segan-segan diapun membicarakan tentang kesusahan temannya yang tak lain adalah pemilik tempat saya bekerja. Di situ saya berpikir apa sih tujuan dia menceritakan hal seperti itu kepada kami? Hmm.., mungkin itu adalah salah satu cara dia agar kami maklum dengan kondisi keterlambatan gaji kami. Tapi pikiran itu tidak bertahan lama di kepala saya. Di depan kami dia berkata sambil tertawa bahwa gaji kami akan dipending selama tiga bulan berdasarkan pengamatan dia terhadapa boss kami yang saat itu sedang mengalami ujian dalam bidang finansial. Kemudian dia berbicara banyak hal mengenai pikiran-pikiran dan pendapatnya tentang apa yang terjadi terhadap boss kami. Yang saya tangkap di sini adalah dia merasa lebih tahu sebuah permasalahan daripada yang sedang menjalaninya dan diapun merasa tahu solusinya, tapi pada kenyataannya dia tidak bisa membantunya. Dan yang membuat saya heran adalah suatu waktu dia mengatakan bahwa dia senang saat kami terlambat mendapatkan gaji karena itu berarti dia ada temannya. Entahlah apa maksudnya itu.
Hampir setiap saya datang ke tempat kerja dia selalu ada disana. Karena sering bertemu, saya dan rekan-rekan kerjapun menjadi akrab dengan dia. Dari keakraban itu dia mulai bertanya terhadap hal-hal pribadi kami lalu menilai kami seenak jidatnya. Dia banyak bercerita tentang pengetahuannya terhadap dunia malam. Suatu waktu dia mengetahui bahwa saya pernah masuk ke dalam gedung bioskop. Yang namanya ke gedung bioskop ya sudah pasti tujuan saya adalah menonton film. Tapi tidak dengan apa yang ada di pikirannya. Saat itu saya menganggap dia hanya bercanda. Kemudian, salah satu rekan saya bercerita bahwa dia mempunyai free pass untuk berkaraoke dan dia mengajak kami semua yang ada di situ untuk berkaraoke. Kemudia dia bertanya kepada kami apakah kami sudah pernah berkaraoke sebelumnya. Beberapa dari kami pun  menjawab pernah pergi ke tempat karaoke, termasuk saya, karena memang saya pernah berkaraoke bersama keluarga saya dan teman-teman saya. Kembali dia berpikir hal yang buruk terhadap kami. Yang dia tangkap dari sebuah tempat karaoke adalah pemandu lagu. Padahal saya sendiripun tidak pernah tahu bagaimana menjadi seorang pemandu lagu ataupun menyewa jasa pemandu lagu. Nyanyi ya nyanyi saja, sama mama, papa, saudara, dan kalau ada rekan kerja yang ulang tahun ya biasanya ditraktir mereka, lalu semua karyawan di kantor yang hadir dan mempunyai waktu luang saat itu pasti ikut. 
Dia. Diapun mulai berani bertanya tentang kedekatan kami bersama pacar-pacar kami (bagi yang mempunyai pacar). Mulai dari pacarannya dimana, ngapain aja dan seterusnya, kemudian seperti biasa dia mulai memberi penilaian terhadap kami. Terkadang bukan penilaian sih yang saya tangkap, melainkan lebih kepada menuduh. Setelah tahu dia akan meminta kami untuk membandingkannya dengan dia. Benar-benar obrolan yang tak berisi.
Pertanyaan-pertanyaan yang menurut saya tak selayaknya dia tanyakan terus saja keluar dari mulutnya. Pikiran-pikiran kotornyapun mengalir menjadi respon setiap jawaban-jawaban kami dari apa yang dia tanyakan. Prediksi-prediksi tidak pasti terus saja terlontar membuat sakit telinga saya. Keingintahuannya yang berlebih dan tak berbobot saya rasa telah melebihi batasnya sebagai seorang pria. Membuat dia terlihat lebih cerewet dari para wanita. Membuat dia terlihat lebih senang bergosip dari selayaknya wanita.
Btw, dia tidak seburuk itu. Salah satu sifat baiknya menurut saya dan rekan-rekan kerja saya di sini adalah dia sering mentraktir kami jajan di warung depan tempat kami bekerja. Walaupun dia pernah ngumpet saat salah seorang dari kami terlanjur memanggil tukang es keliling karena tidak mau membayarkannya padahal sebelumnya dia sendiri yang menawarkan. He is nice enough, dengan segala kekurangan dan kelebihannya. J



Kamis, 05 Maret 2015

KENANGAN



Malam ini dia berbicara tentang kenangan. Lapangan tempat dulu dia bermain, bangunan tempat dulu dia berpetak umpet, tempat dimana dia dulu sering mengagetkan ibunya dengan sengaja untuk sekedar bercanda, rumah tempat dia tumbuh beranjak dewasa, kini telah rata oleh tanah, hilang, selain kenangan. Perumahan di Asrama Pores Pesing Kedoya telah digusur kemarin. Sungguh manis saat aku mencoba membayangkan kenangan masa kecil yang dilaluinya. Sedikit berbeda dengan kenangan yang aku punya di masa kecil. Padanya aku mengatakan bahwa akan berubah seperti apapun sebuah tempat, tak akan pernah bisa sedikitpun merubah atau bahkan menghilangkan kenangan yang telah terjadi di sana. Tak hanya tempat itu, tapi semuanya akan berubah, dengan caranya masing-masing. Dan biarkan tangan Tuhan yang bekerja. Kenangan akan tetap hidup selama kita mau mengenangnya. Semakin lama kita hidup, akan semakin banyak kenangan yang kelak kita kenang. Terkadang, tanpa kita sadari, setiap hari kita sedang membuat simpul-simpul kenangan untuk masa depan. Dan, saat ini aku sedang berusaha menyimpan dengan rapi setiap kenangan yang ada, agar kelak aku dapat mengenangnya dengan baik.

Selasa, 17 Februari 2015

Saat Jenuh Mengkudeta (Ala-alaVickinisasi)



Betapa tidak profesionalnya saya hari ini, bahkan di sela-sela KBM di kelas X TKJ 1 saya masih sempat menulis ini. Sebenarnya bukan masih sempat menulis tapi mungkin lebih tepat saya sempat-sempatkan menulis ini. Para siswa saya beri tugas untuk membuat sebuah dialog, menggunakan bahasa Inggris tentunya,  yang harus mereka tampilkan minggu depan. Akhir-akhir ini saya merasa sedang berada di titik terjenuh saya menjadi seorang guru. Tak ada lagi semangat mengajar seperti dulu. Tak ada lagi keinginan untuk bertemu dan berinteraksi dengan mereka, baik sebagai guru mata pelajaran ataupun sebagai wakasis.

Sepertinya jenuh ini benar-benar sedang mengkudeta hari-hariku saat ini (bahasa vickinisasi). Bertemu dengan orang-orang yang sama setiap hari. Bingung bagaimana menjelaskannya secara rinci dan agar tak terjadi salah pemahaman. Seperti ini, setiap hari saya bertemu dengan orang-orang cerdas tapi obrolannya hanya itu-itu saja. Belum lagi bertemu dengan orang yang saat berbicara lain di mulut lain di hati. Lalu bertemu dengan orang yang merasa dirinya paling berkuasa dan terkesan bertindak seenaknya terhadap orang-orang di bawahnya. Next, bertemu dengan dia yang mendiamkan saya hanya karena laki-laki yang dia suka bersahabat dengan saya. Saya juga bertemu dengan orang yang senang memberikan kritik beserta saran yang harus kita lakukan. Selanjutnya, saya bertemu dengan orang yang hanya menerima gaji tapi kurang mau bertanggung jawab terhadap tugasnya. “Eng, apakah dulu kamu sedikit banyak merasakan apa yang saya rasakan ini saat kamu berada di posisi saya saat itu?”. Huft.., sepertinya saya sedang mengeluh.

Dan sekarang saya ingat dengan apa yang saya sampaikan beberapa hari lalu kepada Pak Aris, atasan saya di Griya Belajar Sahabat. “Mengeluh itu hanya membuat masalah ataupun hidup terasa semakin berat.” Jadi, mulai detik ini saya akan berusaha untuk tidak mengeluh lagi. Lingkungan pekerjaan saya tak seburuk yang saya sampaikan di atas. Saya bertemu dengan murid-murid saya yang tak pernah bisa ditebak akan berlaku seperti apa saat di kelas. Saya bertemu dengan orang-orang yang selalu terlihat bahagia walaupun mungkin hatinya sedang susah. Saya bertemu dengan orang-orang yang bijaksana yang sering saya jadikan panutan. Saya bertemu dengan orang-orang yang sangat tegar dalam menjalani hidup. Saya bertemu dengan orang-orang yang sedang jatuh cinta dan tak pernah berani mengakuinya. Saya bertemu dengan orang-orang yang sedang berjuang mencari siapa cinta sejatinya. Dan saya bertemu dengan beberapa orang yang senasib dengan saya.

Oh God, ternyata hidup saya itu sebanarnya sangat menyenangkan, hanya saja akhir-akhir ini saya salah dalam memilih sisi dalam memandang hidup ini. J


Jumat, 06 Februari 2015

Tentang Hati


Katanya hati Ibarat Cermin
Namun bagaimana akan mengkilap
Jika digosok, Jiwa merasa sakit…
Jika Hati sebuah Ukiran Yang berharga
Proses panjang tentu harus dilalui
Sedikit demi sedikit diukir dengan pisau…
Hati yang Terpilih Ibarat sebuah Mutiara
Padahal Mutiara ada di dalamnya samudera
Rendah di kedalaman, dari tiada menjadi Perhiasan yang Indah…

Jumat, 23 Januari 2015

Dear, Sahabatku Yang Entah Masih Menganggapku Sebagai Sahabatnya Atau Bukan..



Salam..,
Sebelumnya saya minta maaf kalau apa yang akan saya sampaikan ini kurang berkenan di hati anda, tapi sepertinya saya sudah mulai lelah dengan apa yang terjadi dengan hubungan pertemanan kita berdua akhir-akhir ini. Berbulan-bulan anda mendiamkan saya. Saya memang kecil, tapi saya bukan anak kecil yang bisa ditenangkan dengan kalimat “gak ada apa-apa kok, mungkin cuma perasaan kamu aja”. Itu adalah sepenggal sms balasan dari anda pada saat dulu saya bertanya dan minta maaf apabila saya ada salah sama anda terkait dengan perubahan sikap anda ke saya. 

Selama ini saya hanya bisa menduga-duga ada apa dengan anda? Bagian saya yang mana yang salah yang menyebabkan anda berlaku seperti itu terhadap saya. Selama itu saya tak pernah berhasil menemukan jawaban pasti dari hal itu. 

Dan, selama anda mendiamkan saya, jujur saya sangat rindu dengan kebersamaan kita sebelumnya, jadi terkadang saya kepo dengan timeline di FB anda, dan beberapa kali saya menemukan status dan beberapa kalimat yang anda sampaikan di FB yang membuat saya cukup sedih. Kalau nanda ingat, saya beberapa kali memberikan like kepada beberapa status dan komentar anda yang entah mengapa saya yakin sekali kata-kata atau lebih terkesan sindiran itu ditunjukan kepada saya, walaupun pada saat itu saya belum tau pasti alasan anda menjauhi saya. 

Anda juga perlu tau, yang namanya didiamkan oleh orang yang sudah dianggap sebagai sahabat itu juga cukup menyedihkan, apalagi tanpa alasan yang jelas. Saya masih ingat dengan jelas pandangan mata anda yang berbeda terhadap saya dibandingkan dengan cara anda memandang Bu Septi, Bu Ella, dan Ibunya saat saya kondangan ke rumah anda.  Saya pun masih ingat dengan jelas saat anda menyampaikan kepada salah seorang teman kita bahwa saya bisa dekat dengan orang karena saya punya uang dan mengatakan bahwa saya munafik. Saya masih ingat dengan jelas saat beberapa kali anda ngobrol di ruang guru dan di rumah Tante Citra bersama rekan guru yang lainnya, kemudian saya datang, anda langsung pergi. Saya masih ingat dengan jelas saat kita bersalaman di beberapa pagi dan anda seakan tak mau melihat wajah saya. Saya masih ingat dengan jelas saat anda berfoto bersama dengan para guru wanita di rumah Rizal sepulang dari kondangan Bu Umi dan saya sama sekali tak di ajak, dan setelah itu anda upload ke Facebook dan ada satu komentar yang anda buat yang membuat saya terpaksa menangis di sekolah yang kurang lebih isinya adalah “untung yang itu tidak ikut foto, bikin eneg”, atau seperti apa lah kalimatnya, tapi seperti itu yang saya tangkap. Dan entah mengapa, saya yakin itu ditunjukan kepada saya. Maaf kalau dugaan saya salah. Dan yang terbaru adalah anda membuat sebuah acara bersama beberapa rekan kerja untuk berjalan-jalan ke Wonosobo dan anda memberikan warning kepada beberapa rekan yang ikut untuk tidak mengajak saya. Bukan masalah ikut atau tidaknya saya, tapi kenapa saya harus menjadi sebuah pengecualian bagi anda?

Anda beruntung dikelilingi oleh para sahabat yang baik, setia, dan dapat dipercaya. Anda beruntung berada di tengah-tengah mereka, orang-orang yang benar-benar memahami posisi njenengan. Sebelumnya, beberapa kali saya mencoba mencari tau alasan anda mendiamkan saya melalu mereka, tapi saya tak pernah mendapat jawaban itu. Mungkin mereka memang tidak pernah tau. 

Hingga suatu hari ada sebuah pesan masuk ke hp saya yang sebenarnya hanya bertujuan untuk sekedar sharing dengan saya, tapi dari situ saya mulai meraba-raba apa ini ada hubungannya dengan anda mendiamkan saya. Tapi pada saat itu saya belum berani mengambil kesimpulan. Entah kebetulan atau memang sudah takdir, beberapa hari kemudian ada teman lain yang meminta pin bbm saya yang baru dan bercerita tentang status anda saat ini yang katanya anda sering membuat PM yang isinya “gumawo oppa” atau apalah itu, dia berpikir anda masih dekat dengan saya, yang pada saat itu saya belum berteman di bbm dengan anda. Pada saat itu saya jawab tidak tau, karena memang saya tidak tau. Beberapa hari berikutnya saya mendapatkan cerita yang bersumber dari salah satu guru SMK Swasta di Banyumas yang mengatakan tentang laki-laki itu yang berpacaran dengan seorang wanita yang ciri-cirinya sebagian besar mirip dengan anda yang dia ketahui dari Line. Entahlah, disitu saya yakin yang dimaksud salah satu guru SMK Swasta di Banyumas itu adalah anda. Saya mohon maaf kalau dugaan saya itu salah. Kemudian, tak lama setelah saya mendengar cerita-cerita tersebut, ada salah satu rekan kita yang menyampaikan apa sebenarnya alasan anda menjauhi dan mendiamkan saya, dan teryata tak jauh dari dugaan saya.

Selama ini saya hanya bisa menduga-duga dan memendamnya sendiri, tapi tidak untuk sekarang. Sesuatu yang hanya dipendam ini benar-benar membuat saya sesak, dan saya tidak mau terus-terusan seperti ini. Terserah setelah anda membaca ini anda akan tambah menjauhi saya atau bagaimana, saya sudah siap dengan segala resikonya, yang penting saya bisa mengungkapkan apa yang ada di dalam perasaan saya saat ini. 

Saya sedih didiamkan oleh anda. Saya sedih tak disapa oleh anda. Saya sedih tak bisa lagi menikmati waktu kebersamaan bersama anda seperti sebelumnya. Dan kalau memang benar apa yang ada di dalam pikiran dan perasaan saya ini, saya sedih karena anda menjalani sebuah perasaan yang rumit. 

Kalau memang benar apa yang saya rasakan dan apa yang saya dengar, harus dengan cara apa saya meyakinkan anda bahwa saya tak pernah ada perasaan melebihi teman terhadap laki-laki itu? Bahwa saya tak pernah dengan sengaja membuat anda merasa cemburu dengan saya? Saya tak pernah tau sebelumnya tentang itu. Di samping itu saya juga sadar bahwa saya bukan perempuan yang sempurna, saya sadar bahwa saya mempunyai banyak kekurangan, tapi bukan berarti saya tak punya sisi baik kan? Begitu juga dengan anda, di mata saya anda juga bukan perempuan sempurna, anda juga punya beberapa nilai min di mata saya, tapi sumpah demi Allah, saya tak pernah mempermasalahkan itu, tak pernah sedikitpun merubah rasa sayang saya ke anda dalam persahabatan kita. 

Di sini saya menduga bahwa anda adalah orang yang tak pernah mau kesalahannya diketahui oleh orang lain. Termasuk kesalahannya telah mencintai orang yang salah. Entahlah, bagi saya hal yang demikian hanya akan membuat anda tampak semakin memalukan. Maaf. Apa anda pikir, Tuhan tak pernah melihatnya selama ini? Atau anda pikir, menyembunyikannya dari manusia lain akan serta merta menghapus kesalahan anda di mata orang-orang yang telah ikut tersakiti? Atau apakah anda pikir dengan anda menjauhi saya dan mendiamkan saya dan berpikir yang macam-macam terhadap saya tanpa anda sekalipun mencoba konfirmasi hal tersebut langsung terhadap saya bisa sedikit memberi kebahagiaan bagi anda? Sampai detik ini saya masih tidak percaya bahwa anda bisa seegois ini. Selama ini saya menganggap anda sebagai perempuan kuat, cerdas, bijaksana, baik, dan mandiri. Bahkan sampai hari ini saya masih terus meyakinkan diri saya sendiri bahwa anggapan-anggapan saya ini salah. 

Maaf kalau apa yang saya sampaikan ini menyakitkan bagi anda, tapi saya memang tak bisa terus berlama-lama menyimpannya di pikiran dan hati saya. Saya yakin anda juga merasakan bahwa sesuatu yang tak tersampaikan memang menyakitkan dan parahnya dapat membuat pikiran berpikir macam-macam yang belum tentu benar. Saya memilih untuk tidak seperti itu. Silakan salahkan saya, silakan jauhi saya, silakan diamkan saya selama apa yang saya sampaikan ini memang tak berkenan di hati anda. Dan kalau dugaan saya ini salah, saya juga mohon, tolong beri tau saya apa yang sebenarnya terjadi dengan hubungan kita ini. Terlepas dari anda masih menganggap saya sebagai teman atau bukan, di sini saya merasa bahwa saya punya hak untuk tau apa yang sebenarnya terjadi karena memang anda melibatkan saya dengan mendiamkan saya, anda juga mengatakan beberapa hal tentang saya kepada mereka yang tidak benar menurut saya. Jadi, tolong bersikaplah lebih bijak dalam menghadapi perasaan anda yang rumit itu.