Ayu

"Menulis itu indah, saat dapat menumpahkan setiap katanya berdasarkan alunan hati, bagiku....,,"

Jumat, 26 September 2014

Sebut saja ini surat cinta untuk kamu (Sandy Pratama)

Hai kamu..,,
Kamu yang suatu hari nanti menjadi imam dalam keluarga kecilku. Kamu yang secara tidak langsung akan menggantikan sosok ayah dalam kehidupanku kelak. Banyak yang ingin aku bicarakan denganmu, tentang kita. Pertama yang ingin aku ucapkan adalah selamat. Selamat kepadamu karena sudah diberi amanat oleh Tuhan untuk menjagaku. hehee.. :D

Bukan, aku tak pernah menginginkan sosok sempurna dalam kehidupanku. Karena aku tahu kesempurnaan adalah milik Tuhan. Aku dan Kamu adalah satu, yang Insya Allah akan melengkapi ketidaksempurnaan itu. Namun bukan berarti dapat menandingi kesempurnaan Tuhan.
Dulu, aku selalu menerka-nerka sosok seperti apakah dirimu, apakah lucu seperti yang selalu aku bayangkan? ataukah seseorang yang serius dalam menjalankan suatu pekerjaan? =)
Seandainya sejak dulu aku dapat tahu siapakah dirimu, aku tak perlu repot-repot untuk jatuh hati kepada oranglain, aku tak perlu repot-repot menghabiskan waktu luangku untuk memikirkan hal lain, karena aku sudah tahu bahwa aku memang dilahirkan untukmu.
Hai kesayanganku, sungguh aku tidak bermaksud untuk memintamu hanya sekedar menjadi imam atau menjadi tulang punggung keluarga. Kalau niatku hidup denganmu hanya untuk itu, kurasa ada yang salah denganku. Karena aku tak perlu repot-repot hidup denganmu jika aku hanya menginginkan kekayaan, kemasyuran. Namun tahukah kamu? aku membutuhkanmu sebagai pengarahku untuk menyeberangi dunia ini, dan akhirat nanti. Karena perwakilan yang Tuhan kirim melalui kedua orangtuaku, kini berpindah di tanganmu. Bahkan kau adalah kelak satu-satunya jalan yang dapat membukakan pintu surga untukku, istrimu.
Kau mungkin banyak mendengar bahwa wanita sekarang membutuhkan harta untuk kehidupan mereka kelak. Namun aku juga tak mengingkarinya, itu sepenuhnya yang sebagian besar wanita fikirkan. Karena sebenarnya naluri wanita adalah menjaga seluruh keluarganya agar tetap bahagia. Kami para wanita tidak takut miskin, tapi kami takut orang-orang yang kami sayang menderita karena kekurangan.
Hai kesayanganku, kau tak perlu takut ketika kau berada dalam kesusahan nanti. Aku tak akan pernah sekalipun meninggalkanmu, asalkan kau juga tak pergi meninggalkanku. hehe. Mungkin kau menerka, apakah seandainya kau terjatuh suatu hari nanti aku akan menuntutmu dan pergi begitu saja? Kau salah, aku bukan wanita seperti itu yang dengan tega membiarkan lelakiku berjuang sendiri.
Hai kesayanganku, untuk saat ini kita harus berjuang sendiri-sendiri. Kau berjuang meraih cita-citamu, akupun berjuang meraih impianku. Namun aku berharap Tuhan segera menyatukan kita ketika masing-masing dari kita sudah benar-benar siap. Insya Allah :)

Kamis, 25 September 2014

Happy Birthday Septi Handayani

Beberapa belas bulan yang lalu aku mengenalmu, saat aku menyusul Miss Sri memasuki ruang kelas XII PBN atas perintah Kepsek dan juga staf kurikulum waktu itu untuk ikut menilai (padahal hanya melihat sebagai bentuk formalitas :D) tentang bagaimana kamu melakukan micro teaching dengan materi conditional sentence. Kamu dengan baju putih dengan totol - totol cokelat yang mirip permen dan sepatu heels yang berbunyi pluk pluk pluk saat kamu melangkah. Satu hal yang membuat aku tertawa kecil saat itu adalah saat aku melihat kamu berjalan dengan heels pluk plukmu itu dengan langkah yang semangat dan lincah. Padahal aku sudah sering melihat yang seperti itu, tapi entah kenapa itu terlihat lucu saat kamu yang melakukannya :D. 

Darimu aku belajar menjadi diriku sendiri. Seperti kamu yang cuek dengan minyak berkilah-kilah di wajahmu dan jerawat yang selalu muncul menghiasi pipi minyakmu itu. Ah, sepertinya sekarang aku sedikit kualat karena dulu sering mengomentari hal itu, akhir - akhir ini aku jarang sekali memakai krim dari LBC itu sehingga jerawat pun mulai muncul di wajahku :D. Seperti kamu yang suka jajan ini itu walaupun uang pas - pasan, akupun masih suka seperti itu. Seperti kamu yang suka pergi ke berbagai tempat untuk sekedar duduk - duduk dan menikmati pemandangan yang ada, akupun seperti itu. 


Darimu aku belajar mendengarkan. Hampir setiap hari kita ngobrol. Bahkan saat sudah di rumah pun kita masih saling berbalas bbm, berbicara tentang dokter impianmu, tentang dia yang kalau jadi pacarmu akan kesusahan saat melihat jerawat di wajahmu, harus miring - miring dulu saat melihatnya :D, tentang ibumu, tentang babeh, dan satu kalimat babeh yang selalu aku ingat "langite uwis endep, ....... :D".


Darimu aku belajar untuk selalu tersenyum. Seberat apapun beban yang kamu emban, sepahit apapun kenyataan yang terjadi dalam hidupmu, kamu selalu tersenyum bahagia, hingga akhirnya aku tahu alasan kamu selalu tersenyum itu. Kamu sungguh baik. Kamu selalu ingin menghadirkan keceriaan untuk orang-orang di sekelilingmu.


Darimu aku belajar untuk bersikap dan berpikir positif. Jarang sekali ada pikiran negatif terlontar dari bibirmu. Bahkan ketika keadaan benar - benar sangat buruk, kamu masih bisa tersenyum dan berusaha melihat keadaan tersebut dari angel yang positif. Ketegaran dan sikap positifmu menghadapi segala macam persoalan yang datang bertubi - tubi membuatku mengacungkan empat jempol sekaligus. (Biarlah aku jatuh kejengkang, yang penting kamu dapat jatah empat jempol semua hehee).

Darimu aku mengenal arti persahabatan. Baru kali ini aku menemukan sosok sahabat yang benar - benar bisa berbagi baik suka maupun duka. Aku benar - benar speechless saat harus menuliskan tentang persahabatan ini. Buatku, persahabatan kita ini istimewa.

Kamu adalah sahabat jiwa, dalam arti yang sesungguhnya. 

SELAMAT ULANG TAHUN.., hai kamu yang wajahnya berkilah - kilah minyak :P. Let me tell you that with every passing year, you're be coming the most wise and good looking friend that I have ever known.May you continue to put out the very best in your life. Aamiin.

Selasa, 23 September 2014

Bahagia


Aku telah bahagia,
Lihatlah, aku berlari kencang ...
Aku bernyanyi riang ...
Aku sesegar aroma jeruk sunkise ...
Aku telah merasakan hidup ini lebih berwarna ...
Telah ku rasakan embun pagi ...
hangatnya memntari,
Kesejukan yang lama hilang dariku ...
Keramaian yang menggangguku, 
Kini menjadi sahabat baikku...
Kepenatan yang memenjarakan otakku,
Kini menjadi tempatku mencurahkan rasa.
Aku bahagia, 
Seperti langit, bulan, bintang, matahari
Aku berwarna, 
Aku bersinar, 
Aku melukis malam,
Hidupku terisi harapan, tak lagi lamunan...
Hariku berjalan lapang, tak lagi lobang ...
Aku mengatakannya kepadamu,
Aku bahagia ...
Aku mengatakannya kepadamu,
Aku kini bahagia ...
Aku mengatakannya kepadamu, 
Aku bahagia, kini aku bahagia ...:)


Kamis, 11 September 2014

Curhat Sahabat


Sore ini saya kedatangan seorang kawan lama yang membawa sekilo jeruk dan sekilo apel yang katanya sengaja dibawa untuk Ayah saya yang saat ini sedang sakit. Sayapun sedikit kaget dengan kedatangannya. Betapa tidak, sudah hampir tiga tahun semenjak proses wisuda itu kami tak lagi bertemu. Kami hanya berkomunikasi lewat bbm, itupun sangat jarang. Diapun tak mengatakan pada saya bahwa dia akan datang ke rumah. Seperti layaknya kawan lama, kami langsung ngobrol banyak hal mengenai masa lalu yang kini menjadi kenangan indah. Setelah bosan membicarakan masa lalu, obrolan kamipun beralih ke masa sekarang. Dia bercerita banyak hal yang dia alami selama ini. Saya tahu dia adalah seorang kawan yang baik dan perhatian. Dia bercerita bahwa selama ini dia bekerja di sebuah perusahaan yang cukup besar di kotanya, dia mempunyai banyak teman untuk diajak sekedar hang out atau menonton di bioskop atau hanya sekedar ngobrol di rumahnya. Sejak dulu saya mengenalnya, dia adalah seorang kawan yang royal, dan sepertinya sifat itu tak berubah sampai saat ini. Dia mengatakan selama ini dia mempunyai beberapa sahabat yang sangat dekat dengannya tapi kemudia sedikit demi sedikit mulai menjauh darinya. Sampai saat inipun dia mengaku tak mempunyai alasan yang pasti mengapa para sahabatnya itu yang dulu sering menghabiskan waktu bersama, sahabat yang dulu selalu berusaha dia perhatikan dan dia bantu saat mereka mendapat suatu kesukaran, kini tak lagi ada di sampingnya. Dia merasa mulai kehilangan sosok beberapa sahabat dekatnya itu. Kejadian itu mulai dia rasakan belum lama ini. Tepat di saat hidupnya sedang butuh motivasi dan support dari para sahabatnya itu. Dia hanya tinggal berdua bersama ibunya. Ayahnya sudah meninggal lima tahun lalu saat dia masih menyelesaikan kuliahnya. Dia adalah anak terakhir dari tiga bersaudara. Semua kakaknya sudah mempunyai rumah sendiri di luar kota. Suatu hari ibunya mengalami demam yang lumayan tinggi dan terpaksa tidak berangkat bekerja. Semakin hari sakit ibunya semakin parah tapi dia harus tetap berangkat bekerja, tapi anehnya para sahabatnya itu seperti tak peka dengan apa yang sedang dia alami. Semakin hari dia berubah menjadi seorang wanita yang pendiam hingga akhirnya berdampak buruk terhadap kinerjanya di perusahaan itu, dan diapun dipecat dari pekerjaan yang selama ini menghidupi dirinya dan ibunya. Yang membuat dirinya heran adalah kemana para sahabatnya kini yang dulu sering bersama-sama? Bahkan untuk sekedar curhat pun mereka seakan tak bisa. Di saat seperti inilah dia merasa para sahabatnya menjauh darinya. Entah apa yang sebenarnya terjadi dengan mereka. Mendengar apa yang dialaminya pun aku sangat menyesal, mengapa selama ini aku tak tahu mengenai apa yang dia alami saat ini, mengapa setiap kali ngobrol di group bbm saya hanya mengajaknya bercanda tanpa menanyakan bagaimana kabarnya.., maafkan aku kawan. Sekarang engkau punya aku yang akan selalu bersedia menjadi tempat curhat dan berbagi keluh kesah yang engkau alami dalam hidupmu. Aku tahu betapa menyedihkannya saat kita mendapat masalah dan kesukaran hidup tapi tak ada seorangpun kawan yang di samping kita. Akupun merasakan apa yang kamu rasakan kawan. Semoga sekarang kita bisa saling menguatkan. Aamiin.

Rabu, 10 September 2014

Tentang Diam




 Ini adalah tentang diam yang sering mengusik hari-hariku
 Ini adalah tentang diam yang selama ini aku simpan sendirian
 Ini adalah tentang diam yang sejauh ini memaksaku untuk tetap diam
 Diam, aku lelah selalu berdiam
 Maka maafkan aku karena mulai detik ini diam tak akan lagi menjadi 
Diam

Kamis, 04 September 2014

Aku?


Sebenarnya penjelasan yang lebih baik adalah karena aku sering kali berubah pikiran. Semuanya menjadi absurd. Bukan ragu-ragu atau plintat-plintut, tetapi karena memang itulah tabiat burukku sekarang, berbagai paradoks itu. Bilang iya tetapi tidak. Bilang tidak, tetapi iya. Terkadang iya dan tidak sudah tidak jelas lagi perbedaannya.

Mungkin bait-bait tulisan dari Tere Liye itu cukup jelas menggambarkan seperti apa aku akhir-akhir ini..,

Cerita ah sama Ayah.,,




Assalamu’alaikum Ayah..,
Bagaimana kabar ayah di sana? Apa ayah sudah bertemu Tuhan? Apa ayah diberi kesempatan oleh Tuhan untuk mengunjungi kami di sini? Ah.., aku yakin, ayah pasti sering melihatku tidur pada malam hari, tapi ayah tidak ingin membangunkanku kan?
Ayah, aku sekarang bukan lagi gadis kecil yang nakal, aku sekarang sudah besar. Saat ini aku sudah bekerja sebagai seorang pengajar di SMK di Banyumas. Terkadang aku sangat menikmati pekerjaanku, tapi juga terkadang aku jenuh, bukankah itu hal yang wajar? Semoga ayah tidak kecewa dengan apa yang aku lakukan saat ini.
Ayah, tadi malam aku bermimpi bermain bersama Mas Adi.,, sangat menyenangkan. Kami bermain di pantai, hanya aku dan Mas Adi. Benar-benar tak ingin terbangun dari mimpi itu. Aku kangen Mas Adi. Tadi aku mencoba menghubungi Mas Adi tapi tidak ada balasan. Ya sudah.., Ayah tau sendiri kan bagaimana keadaan kami saat ini? Tapi Ayah tidak perlu sedih melihat kami yang semakin berjauhan seperti sekarang, aku tidak marah sama Mas Adi, aku yakin kalau Mas Adi pun sebenarnya merasakan apa yang aku rasakan, hanya saja keadaan yang mungkin memaksa Mas Adi untuk tidak berkomunikasi denganku saat ini. Dan aku juga yakin, suatu saat nanti hubunganku dengan Mas Adi dan juga keluarga yang saat ini ada di Jakarta akan membaik, kami akan menjadi sebuah keluarga yang sebagaimana mestinya. Aku tak pernah lelah berdoa meminta kepada Tuhan untuk menyatukan kami sebagaimana mestinya sebuah keluarga. Nanti kalau Ayah bertemu dengan Tuhan, Ayah juga minta ya sama Tuhan untuk menyatukan kami. Aku yakin kalau Ayah yang minta pasti Tuhan akan langsung mengabulkan.
Ayah, sudah dulu ya.., sudah jam 3, aku harus siap-siap ke bimbel. Semoga Ayah di sana selalu tersenyum melihatku.,, see you Ayah.. . J

Senin, 01 September 2014

My Teacher's Diary 2




1 September 2014
Kali ini saya akan bercerita tentang dua hal berbeda yang saya alami di kelas hari ini. Saya tidak tahu apa yang saya lakukan ini benar atau salah, saya hanya mengikuti kata hati saya saja. Kalau kalian baca tulisan saya sebelumnya, kalian pasti tahu bahwa saya adalah wali kelas dari kelas XII TKJ 1. Melihat kondisi yang ada di antara kelas XII TKJ 1 dan XII TKJ 2, saya sangat miris dan hati saya merasa kasihan. Silahkan kalian sebut saya berlebihan dengan apa yang saya rasakan, karena memang itu yang saya rasakan. Mereka adalah anak-anak saya, saya sangat menyayangi mereka. Sedih saat melihat dan mendengar kedua kelas ini saling menyalahkan satu sama lain. Keduanya merasa benar dengan pendapat dan alasannya masing-masing. Dan hebatnya adalah, jawaban dan pendapat yang kedua kelas ini berikan adalah sama. Ketika saya bertanya kepada kelas XII TKJ 1 apakah mereka punya masalah dengan kelas XII TKJ 2, mereka menjawab tidak ada masalah. Begitupun ketika saya bertanya dengan kelas XII TKJ 2, mereka juga menyebutkan jawaban yang sama bahwa mereka tidak punya masalah dengan anak-anak di kelas XII TKJ 1. Lalu sayapun bertanya, “kalau memang kalian tidak merasa punya masalah dengan mereka, mengapa sikap kalian terlihat bermusuhan dengan mereka?” , anak-anak kelas XII TKJ 2 menjawab “Anak-anak kelas XII TKJ 1 sering nyindir-nyindir Bu….”, dan anak-anak kelas XII TKJ 1 pun mempunyai jawaban yang sama, mereka menjawab “Anak-anak kelas XII TKJ 2 sering nyindir-nyindir Bu…”. Oh My God..,, apa sebenarnya yang terjadi dengan mereka? Lalu sayapun berbicara dengan wali kelas XII TKJ 2 mengenai hal ini, dan obrolan kamipun tak menghasilkan apapun. Beliau hanya berbicara mengenai teorinya bahwa beliau akan membenahi pola pikir anak-anaknya. Kalau menurut saya tidak ada yang salah dengan anak-anak Anda, mereka anak-anak yang baik, tidak perlu dirubah pola pikirnya atau apapun itu. Saya hanya ingin kita berdua sebagai wali kelas menemukan cara bagaimana membuat mereka kembali akur tanpa adanya sindiran-sindiran lagi. Itu saja. Kemudian saya kembali berbicara dengan anak kelas XII TKJ 2, saya mengatakan “kalau memang anak-anak kelas XII TKJ 1 yang salah, saya bisa jamin 100% mereka akan meminta maaf kepada kalian.” Beberapa menit setelah saya mengatakan hal tersebut, saya masuk ke kelas XII TKJ 1, dan benar-benar surprise saat melihat anak-anak kelas XII TKJ 2 datang ke kelas XII TKJ 1 lalu minta maaf. Di situ saya melihat para siswa berhati besar dan saya sangat bangga terhadap mereka. Di depan saya dan di depan anak-anak kelas XII KTJ 2, anak-anak kelas XII TKJ 1 pun memaafkan, tetapi tidak saat anak-anak kelas XII TKJ 2 pergi meninggalkan kelas XII TKJ 1. Masih sangat jelas terlihat wajah-wajah penuh dendam di beberapa anak di kelas XII TKJ 1. Sayapun merasa kembali miris dengan adanya kenyataan ini. Lalu, di saat saya sedang serius berbicara ada seorang anak yang sudah sangat jarang berangkat ke sekolah,  tiba-tiba berkomentar dan itu membuat saya trenyuh saat melihat anak itu. Baju dikeluarkan dan tidak dikancing, potongan rambut tidak rapi, dan aksesoris yang tak sepantasnya dipakai oleh seorang pelajar. Walaupun saya wali kelasnya, saya merasa tidak mengenalnya. Iya, dia adalah anak yang paling sering tidak berangkat dari mulai kelas X sampai sekarang kelas XII. Lalu sayapun menegurnya. Dia tidak sama dengan anak-anak yang lain, ketika saya Tanya, dia menjawab dengan bahasa jawa ngoko yang tergolong tidak sopan dengan ekspresi wajah yang bengal. Di situ saya tahu bahwa anak ini memang bermasalah, dan silahkan salahkan saya karena pada saat itu saya menyuruhnya keluar dari kelas saya. Saya hanya tidak ingin lebih lama melihat ekspresi wajah itu. Benar-benar sebuah ekspresi yang membuat saya berpikir bahwa anak ini tidak mempunya tata krama maupun sopan santun berbicara yang baik terhadap gurunya. Dan benar, anak itupun langsung meninggalkan kelas dengan ocehan-ocehannya yang sayapun tidak jelas mendengarnya, tanpa pamit atau apapun itu, hanya ekspresi mukanya saja yang bisa saya lihat bahwa dia marah terhadap saya. Maafkan saya. Setelah anak itu keluar dari kelas, sayapun kembali berbicara dengan anak-anak di kelas ini mengenai apa yang sebelumnya terjadi, mengenai anak-anak dari kelas XII TKJ 2 yang mau meminta maaf terlebih dahulu dan saya sangat menyayangkan dengan sikap beberapa anak di kelas ini yang ternyata masih belum ikhlas memberikan maafnya. Dan dengan sangat terpaksa saya mengatakan bahwa anak-anak di kelas ini angkuh dan sombong. Dibutuhkan jiwa yang sangat besar untuk meminta maaf kepada orang lain, tetapi memberikan maaf dengan ikhlas dan tuluspun mereka masih belum bisa. Setelah saya berbicara panjang lebar, akhirnya mereka mendatangi kelas XII TKJ 2 dan memanggil beberapa perwakilannya lalu meminta maaf secara personal di depan anak-anak yang lain. Di situ saya melihat beberapa dari mereka yang menangis. Dan pada saat itu saya benar-benar merasa bangga terhadap anak-anak saya itu. Saya bangga menjadi wali kelas XII TKJ 1, saya bangga mempunyai anak-anak yang berjiwa besar, dan walaupun saya bukan wali kelas dari XII TKJ 2, sayapun merasa sangat bangga dengan mereka, Lexi dan kawan-kawannya. Terima kasih sudah memberi pengalaman yang luar biasa hari ini. Dan sebagai seorang penonton, saya bahagia melihat ini. Terima kasih.